Bab 6 Pulang Larut

1018 Words
Suara bariton dan seksi, meski pelan, tetapi cukup membuat Mikaila terperanjat. Dengan cepat, ia melepaskan diri dari dekapan laki-laki yang merangkulnya dari belakang. Mika memperbaiki posisi berdiri dan pakaiannya yang sedikit berantakan karena insiden beberapa saat lalu. "Apa yang kau lakukan di sini?" ulangnya sambil mendekat ke arah Mikaila dan orang yang menolong gadis itu. "O--Om Marvel," ucapnya dengan gugup. "Maaf, aku telat menjemputmu," ucapnya dingin. "Dan kau ...." "Di--dia hanya membantuku. Tadi aku hampir tumbang. Jika dia tidak datang, aku pasti sudah terjatuh di aspal," jelasnya masih dengan gugup. "Namaku, Davin. Kebetulan lewat sini dan melihat Nona ini mau jatuh. Aku hanya menolongnya," jelas orang itu. Marvel tersenyum kecut. "Terima kasih sudah menolongnya. Gadis Kecil, kita pulang sekarang," ucapnya dingin. Mika mengangguk tanpa banyak bicara. Mikaila melangkah pelan meninggalkan Davin yang termangu menatap ke arah Mika dan Marvel. Gadis itu berhenti sebentar dan menoleh pelan ke belakang, lalu Marvel menariknya pelan dan Mika kembali melangkah mengikuti pemuda itu. ~~~ "Ada yang ingin kau jelaskan?" tanya Marvel ketika sampai di mobil. Mika yang menunduk pun mendongak. Berusaha menatap wajah Marvel meski sedikit takut. Bibirnya bergetar. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari normal. Napasnya bergemuruh menahan rasa. Kedua tangannya meremas ujung pakaian. Dahi Mika berkeringat. "Kenapa diam?" tanya Marvel kembali sambil menatap Mika dalam. "O--Om, aku ...." "Kenapa tidak mengabari ku kau pulang lebih awal? Sengaja agar bisa menemui laki-laki itu?" tanyanya dengan sedikit kesal. "Bu--bukan begitu. A--aku tadi memang pulang lebih awal. Sengaja tidak ingin mengganggu Om. Jadi, aku pulang sendiri dan ingin naik bus," alasan Mika. "Hampir dua jam berjalan, tapi tidak menemukan halte bus. Malah kau bertemu laki-laki itu, bukan?" selidik Marvel. "Kata kawanku halte busnya dekat, ternyata aku tidak menemukannya. Sepertinya aku kesasar. Aku lelah berjalan hingga hampir terjatuh. Dia datang dari mana aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja menolongku seperti itu dan Om juga tiba-tiba datang," jelasnya panjang lebar. Marvel memiringkan sedikit bibirnya. Senyum penuh arti terbit di sudut bibirnya. "Kau ini polos atau bodoh. Ponselmu bisa digunakan untuk petunjuk arah. Jangan mudah percaya pada orang lain, apalagi kau baru mengenalnya. Kalau tidak bertemu orang itu dan aku, bagaimana dengan dirimu? Apa kau yakin bisa menjaga diri dan merasa aman?" oceh Marvel. Mika menghela napas sedikit kasar. Mencoba untuk mencerna tiap bait kata yang diucapkan Marvel. Jika dipikir-pikir, memang benar perkataannya. "Maafkan aku. Seharusnya aku hubungi dirimu hingga tidak seperti ini. Kau pasti khawatir padaku. Maafkan aku sudah buat kau khawatir," ucap Mika merasa bersalah sambil terus meremas ujung pakaiannya. Marvel menghela napas sedikit kasar. Menatap lamat-lamat wajah cantik Mikaila yang tampak polos dan merasa bersalah. Marvel meraih tubuh Mika dan memeluknya erat. Mika mendelik, terkejut dengan sikap Marvel yang tak biasa itu. Namun, ia tidak melawan dan merasakan hangatnya dekapan Marvel. Aneh sekali. Kenapa aku merasa nyaman dengan pelukan ini? "Lain kali, jangan membuatku khawatir, Gadis Kecil," bisik Marvel di telinga Mikaila. Lamunan gadis itu membuyar, ia terkejut dengan perkataan Marvel. Kemudian, mengangguk paham. Marvel melepaskan pelukannya dan menangkupkan wajah Mika. Mengusap lembut wajah cantik Mikaila dengan kedua ibu jarinya. "Apa Om marah padaku?" tanya Mika pelan. Marvel menghela napas sedikit kasar dan melepaskan tangkuban nya. Kedua tangannya beralih pada kedua tangan Mika dan menggenggamnya. "Maaf, aku hanya merasa khawatir padamu. Lain kali, tolong jangan ulangi lagi," ucap Marvel lembut. Mika mengangguk. "Sudahlah. Kau istirahat sebentar saja dulu. Kau pasti lapar, bukan? Aku akan mengajakmu makan siang di restoran sebelum pulang," jelas Marvel yang tidak ingin memperpanjang masalah. Mika lagi-lagi mengangguk tanpa kata. *** Malam itu hujan turun sangat deras Hari juga sudah larut malam. Akan tetapi, Marvel belum pulang ke rumah. Mika menunggu di ruang tamu dengan perasaan cemas. Ponselnya pun tidak dapat dihubungi, membuat gadis itu semakin gelisah. "Sudah larut, kenapa Om Marvel masih belum pulang? Ke mana dia? Kenapa tidak bisa dihubungi?" Kepala Mika terasa berisik. Banyak pertanyaan yang bergelayut di sana. Gadis Kecil itu berjalan mondar-mandir dengan hati harap-harap cemas. "Nona Mika, maaf mengganggu. Sebaiknya Anda istirahat saja. Tidak usah menunggu Tuan. Itu pesan dari Tuan Marvel," ucap Dory yang datang dari arah dapur sambil membawa baki berisi s**u hangat dan kudapan. "Tidak, Bi. Aku akan menunggu Om Marvel sampai pulang. Kalau Bi Dory mengantuk, tidur duluan saja. Nanti aku yang bukakan pintunya," tolak Mika lembut sambil matanya terus melirik ke arah pintu masuk. "Tapi, Non. Sampai kapan Nona Mika akan menunggu. Tuan saja belum tahu kapan pulang," jelas Dory berusaha membujuk. "Tidak apa, Bi. Lagipula, besok libur kuliah, aku bisa tidur dengan puas. Bibi tidak perlu khawatir akan diriku," jelas Mika pelan. "Baik, Non. Bi Dory temani Non Mika menunggu Tuan Marvel. Ini susunya diminum dulu, ya, Non,"putus Dory sambil menyerahkan segelas s**u kepada Mika. "Terima kasih, Bi." Mika menenggak s**u hingga habis. Kemudian, ia duduk di kursi sambil menatap ponselnya. Menunggu Marvel yang tak kunjung kembali. Dua jam berlalu. Suara deru mobil dan ketukan pintu terdengar. Mika yang sempat tertidur membuka matanya cepat ketika mendengarnya. Kemudian, ia membuka pintu perlahan. Kedua matanya terbelalak melihat kondisi Marvel yang begitu kacau dipapah oleh Sandro. "A--apa yang terjadi? Ke--kenapa Om Marvel seperti ini?" tanya Mika dengan gugup dan bingung. "Tuan Marvel minum terlalu banyak dan mabuk. Tadi, ada pertemuan dengan klien dan mereka mengundang Tuan untuk minum," jelas Sandro dengan wajah serius. "Ya ampun Om Marvel. Bantu aku membawa Om Marvel ke kamar," pinta Mika sambil membantu Sandro memapah Marvel ke kamar. ~~~ Kau boleh pulang dulu. Biar aku yang mengurusnya," ucap Mika lembut. "Tapi, Nona ...." "Kau juga butuh istirahat. Pergilah, jangan khawatir. Aku akan menjaganya dengan baik," potong Mika yang juga tidak tega melihat wajah Sandro yang terlihat lelah. "Baik, Nona. Saya pamit dulu. Jika ada apa-apa, Nona hubungi saya saja," putus Sandro sambil berpesan. "Umm." Sandro pamit undur diri dan Mika melangkah mendekat ke arah Marvel membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Mika meletakan baskom tersebut ke atas nakas dan duduk di samping Marvel yang memegangi kepalanya. "Aduh, bagaimana ini? Aku belum pernah menyentuh Om Marvel. Rasanya canggung dan gugup sekali meski dia sudah menjadi suamiku," monolog Mika dengan gugup. "Tapi kalau Om Marvel tidak ...." ”Ahh! Om Marvel! Apa yang kau lakukan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD