Mikaila terkejut karena tiba-tiba saja Marvel menarik tubuhnya dan membawa dalam pelukan. Gadis itu terdiam sesaat. Detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari normal. Napasnya memburu. Pikirannya tak karuan.
"Om, tolong lepaskan aku! Sadarlah, ini aku Mika," ucap Mika yang segera tersadar dari lamunannya. Berusaha untuk menyadarkan Marvel.
"Tolong aku. Aku akan bertanggung jawab padamu. Aku mohon," ucap Marvel dengan suara parau.
Tubuh Marvel terasa panas, debaran jantungnya begitu kencang. Napasnya terasa sedikit tercekat.
"Om, sadar. Ini aku Mika. Aku ...."
"A--aku tahu ka--kau, Mika. To--tolong aku. Aku dibius. Bantu aku," ucap Marvel tersendat sambil menahan hasratnya.
"A--aku Ng ...."
Marvel mencium bibir Mika mesra, gadis itu menggigitnya hingga berdarah. Marvel meringis menahan perih di sudut bibirnya. Pria yang sudah dipenuhi nafsu itu membalikkan tubuh Mikaila dan menindihnya, kembali menarik wajah Mika dan menciumnya paksa.
Sekuat tenaga Mika berusaha untuk menghindari serangan Marvel. Namun, tenaganya tidak cukup kuat mendorong tubuh Marvel yang lebih besar darinya.
"Mika, aku mohon, bantu aku. Jadilah penawarku," pintanya frustasi.
"Om aku tidak ...."
Marvel yang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya mencumbu gadis itu dengan begitu rakus. Merobek pakaian Mika hingga terlihat jelas isi di dalamnya yang tampak ketika baju terkoyak.
"Ma--maafkan aku, Mika," ucapnya lirih.
Marvel melancarkan aksinya dalam keadaan setengah sadar, membuat Mika meneteskan air mata.
"Ahh!"
Mika berpekik menahan sakit di sekujur tubuhnya. Air matanya semakin deras menetes. Kedua tangannya meremas kuat seprai. Wajahnya menggeleng ke kiri dan kanan sambil sesekali memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.
Aku belum siap melakukan ini, meski Om Marvel sudah menjadi suami sah ku. Namun, pernikahan kami hanya sementara. Bagaimana kalau aku hamil? Aku akan segera bercerai dengannya setelah perjanjian itu selesai. Om Marvel, kenapa melakukan ini padaku.
Mikaila bermonolog dalam hati di tengah kesedihannya menahan sakit atas perlakuan Marvel. Meski lelaki itu melakukannya dengan perlahan. Namun, ini pertama kalinya bagi Mika.
Gadis itu mati-matian menjaga kesuciannya dan akan ia berikan kepada laki-laki yang ia cintai. Akan tetapi, semuanya hilang dalam satu malam. Impiannya pun terancam hancur untuk bisa lulus kuliah tanpa hambatan.
***
Mika menangis sepanjang malam hingga kedua matanya bengkak. Gadis itu masih terbaring di samping Marvel yang masih terlelap.
Perlahan, kedua mata Marvel terbuka. Pemuda itu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Kemudian, ia melirik ke arah Mika yang menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Hanya suara isak tangis terdengar pilu. Tubuhnya berguncang menahan tangis. Marvel sedikit bangkit dan membuka paksa selimut, meski Mika menahannya. Namun, tubuhnya masih sangat lemas untuk melawan.
"Gadis Kecil. Apa yang terjadi? Kenapa kau ada di ranjang ku? tanyanya dengan penasaran.
Mika menelan ludah. Menatap nanar ke arah Marvel. Pria itu melihat jelas sembab di kedua matanya dan wajah Mika yang memerah menahan amarah.
Marvel melirik ke arah tubuh Mika yang penuh dengan bekas tanda kepemilikan yang Marvel tinggalkan, ia juga melirik ke arah seprai yang terdapat noda merah di sana. Tampak jelas karena berwarna putih.
Marvel mendekat ke arah Mika. Gadis itu memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat Marvel.
"Gadis Kecil. Apa aku sudah berbuat tidak baik padamu?" tanya Marvel bingung sambil mengingat yang terjadi semalam.
"A--apa Om lupa dengan kejadian semalam?" tanya Mika dengan nada serak menahan sakit.
"Gadis Kecil, aku ...."
"Tidak apa jika Om lupa. Aku mau ke kamar," ucap Mika sambil berusaha bangkit.
"Tunggu dulu! Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Gadis Kecil, aku ...."
"Jangan memanggilku 'Gadis Kecil' lagi. Aku bukan lagi seorang gadis," ucapnya sedikit ketus.
"Gadis Kecil, emm, Mika. Kita perlu bicara. Aku ...."
"Lepaskan aku! Aku lelah mau istirahat. Aku tidak akan menyalahkan mu soal ini. Aku juga tidak akan menuntut mu," jelas Mika menepis kasar tangan Marvel dari tubuhnya dan Mika turun dari ranjang.
"Ga--gadis Kecil."
Mika terus berjalan meski tertatih. Sesekali ia meringis menahan perih diarea sensitifnya. Tidak menghiraukan perkataan Marvel. Pemuda itu gegas memakai pakaiannya dan menyusul Mika ke kamar.
Gadis kecil yang sudah menjadi wanita semenjak kejadian semalam itu duduk tersungkur di sudut kamar sambil menekuk kedua kakinya.
Marvel masuk tanpa mengetuk pintu. Mendekati Mikaila yang menyembunyikan wajahnya di antara kedua pahanya. Pria itu mendekat. Tangannya bergetar ketika hendak menyentuh Mika.
Pria itu berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya dengan Mika. Kemudian, menegakkan kepala Mika. Memaksanya untuk menatap ke arahnya.
"Maafkan aku. Aku ingat apa yang terjadi. Maaf, karena aku sudah memaksamu dan tidak menepati janjiku padamu. Aku tidak bermaksud melukai dan membuatmu kecewa. Maafkan aku, Mika," ucap Marvel lembut.
Marvel menatap dalam kedua mata Mika yang masih sangat jelas terlihat membengkak. Bahkan, masih berkaca dan terdapat jejak air mata di kedua pipinya. Marvel mengusap lembut wajah Mika dengan kedua ibu jarinya.
"Aku akan bertanggung jawab padamu. Mulai hari ini, kau benar-benar istriku. Tidak ada lagi perjanjian di antara kita. Aku akan mencintai, menjaga, dan menjadikanmu satu-satunya istri dalam hidupku. Maafkan aku, apa pun yang terjadi setelah ini. Jika kau hamil, aku akan bertanggung jawab penuh padamu," jelasnya meyakinkan Mika dan berusaha untuk menjaga hati Mika yang masih terasa sakit.
Mika melirik ke arah Marvel. Kedua matanya menatapnya nanar. Wanita itu tersenyum kecut.
"Om tidak perlu bertanggung jawab atas diriku. Aku baik-baik saja. Kalau pun pernikahan kita selesai dan aku hamil, aku akan tetap melahirkan dan merawatnya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku," ucap Mika dingin.
"Aku akan tetap bertanggung jawab. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menceraikan mu.'
"Om, aku ...."
Marvel meraih wajah Mika dan mencium bibirnya yang masih terlihat bengkak karena ulahnya semalam. Mika meremas ujung pakaiannya, tetapi tidak melawan. Kondisi Mika benar-benar sangat kacau dan tidak mampu untuk memberontak.
Setelah dirasa tenang, Marvel melepaskan ciumannya dan kembali menatap Mika lamat-lamat.
"Berhenti memanggilku 'Om' aku ini suamimu, bukan pamanmu. Apa pun yang kau katakan, aku akan tetap bertanggung jawab padamu. Bagaimana pun juga, kita sudah menikah dan sah di mata hukum serta agama. Selamanya kau akan menjadi istri sah ku!" jelas Marvel dengan sedikit penekanan di akhir kalimat.
Mika tertunduk sambil meremas ujung bajunya. Menelan ludah dengan susah payah dan mengatur napasnya agar tetap stabil.
"Om."
Marvel mencium cepat bibir Mika dan terus menangkupkan wajah imut milik Mika.
"Aku akan menciummu, tiap kali kau memanggilku 'Om' paham!"
"O--"
"Harus aku tegaskan lagi?"
Mika mendengkus kesal dengan ucapan Marvel yang penuh ancaman menjijikan menurut Mika.
"Permisi, Tuan dan Nona. Maaf, jika saya mengganggu. Tuan, ini saya bawakan baskom air hangat seperti perintah Tuan tadi," jelas Bi Dory sambil melangkah mendekat ke arah Mika dan Marvel.
"Taruh di meja saja," ucap Marvel tanpa melepaskan dekapannya pada Mika.
"Baik, Tuan."
"Buka bajumu."