bc

3 Tahun Menjadi Istri Kedua CEO

book_age18+
10
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
contract marriage
family
escape while being pregnant
age gap
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
boss
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
city
office/work place
affair
polygamy
stubborn
like
intro-logo
Blurb

Pernikahan itu hanya akan berlangsung selama tiga tahun. Risa tidak boleh jatuh cinta, tidak boleh merebut tempat Luna, dan setelah kewajibannya selesai, ia harus pergi.

Namun, tak seorang pun memperhitungkan satu hal: bagaimana jika Akram Noir justru tidak ingin melepaskannya?

Karena perasaan manusia tidak pernah benar-benar bisa dimasukkan ke dalam sebuah kontrak.

chap-preview
Free preview
Bab 1 | Permintaan Gila
“Maaf, Risa. Kondisi ayahmu sudah tidak bisa ditangani hanya dengan obat.” Kalimat itu membuat Risa yang sejak tadi duduk tegak di kursi depan meja dokter perlahan menundukkan kepala. Jari-jarinya yang saling bertaut di atas pangkuan mengencang tanpa disadari, sementara pandangannya tertuju pada lembar hasil pemeriksaan yang tergeletak di hadapannya. Ia sudah menduga percakapan ini tidak akan membawa kabar baik. Sejak beberapa minggu terakhir, kondisi ayahnya memang semakin menurun. Tubuh lelaki yang dahulu selalu terlihat kuat itu sekarang jauh lebih kurus. Nafsu makannya hilang, napasnya sering tersengal hanya karena berjalan beberapa langkah, dan rasa nyeri di bagian dadanya semakin sering membuatnya terbangun pada malam hari. Namun, mendengar langsung dari dokter bahwa obat-obatan tidak lagi cukup tetap membuat d**a Risa terasa sesak. “Jadi... harus bagaimana, Dok?” Suara Risa terdengar pelan. Dokter di hadapannya melepas kacamata yang sejak tadi bertengger di pangkal hidung. Ia membuka kembali hasil pemeriksaan yang ada di tabletnya, memastikan tidak ada satu pun informasi yang terlewat sebelum akhirnya menatap Risa. “Dari hasil pemeriksaan terakhir, ada penyumbatan yang cukup serius pada pembuluh darah jantung ayahmu. Kondisinya sudah masuk tahap yang membutuhkan tindakan segera. Kalau hanya mengandalkan obat, risikonya terlalu besar.” Risa menelan ludah. “Tindakan operasi?” Dokter mengangguk. “Kemungkinan besar begitu. Kami masih perlu melakukan beberapa pemeriksaan tambahan untuk menentukan metode yang paling tepat, tetapi berdasarkan kondisi sekarang, tindakan operasi adalah pilihan yang paling aman.” Risa diam. Ia menatap layar tablet dokter tanpa benar-benar memahami angka dan istilah medis yang terpampang di sana. Yang tertangkap oleh pikirannya hanya satu kata. Operasi. “Kalau dilakukan, kemungkinan ayah saya sembuh berapa besar?” “Kita tidak bisa menjanjikan kesembuhan seratus persen, Risa. Tetapi semakin cepat dilakukan, semakin baik peluangnya.” “Dan kalau tidak dilakukan?” Dokter tidak langsung menjawab. Jeda singkat itu sudah cukup untuk membuat perut Risa terasa mual. “Risikonya cukup tinggi,” jawab dokter akhirnya. “Saya tidak ingin menakutimu, tetapi kondisi seperti ini bisa memburuk sewaktu-waktu.” Risa mengangkat wajah. “Seberapa sewaktu-waktu?” Dokter menghela napas pelan. “Kita tidak bisa memastikan. Bisa beberapa minggu, bisa lebih cepat. Karena itu saya menyarankan agar keluarga tidak menunda terlalu lama.” Dunia Risa seakan mendadak kehilangan suara. Beberapa minggu. Lebih cepat. Ayahnya mungkin tidak memiliki waktu sebanyak yang selama ini ia bayangkan. Padahal baru kemarin lelaki itu masih sempat mengomel karena Risa pulang terlalu malam. Pagi tadi, sebelum Risa berangkat ke rumah sakit, ayahnya bahkan masih sempat meminta dibelikan bubur ayam dari tempat langganannya. Hal-hal kecil yang selama ini terasa begitu biasa tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat berharga. “Berapa biayanya, Dok?” Pertanyaan itu keluar nyaris tanpa suara. Dokter kembali diam. Kali ini ia tidak menghindari tatapan Risa. “Untuk tindakan dan perawatan awal, perkiraannya sekitar empat ratus juta rupiah. Itu belum termasuk kemungkinan pemeriksaan tambahan atau perawatan setelah operasi apabila ada komplikasi.” Risa membeku. Empat ratus juta. Angka itu berputar-putar di kepalanya seperti sesuatu yang tidak masuk akal. “Empat ratus...?” “Perkiraan, bukan angka pasti,” dokter segera menjelaskan. “Tetapi kamu harus menyiapkan dana dalam jumlah besar.” Risa tersenyum kecil, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. “Dokter bercanda, ya?” Dokter tidak menjawab. Senyum di wajah Risa perlahan menghilang. “Empat ratus juta itu...” Suaranya tersangkut. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan sesuatu yang mulai mendesak dari belakang matanya. “Dok...” Bibirnya bergerak pelan. “Itu... setelah dipotong BPJS?” Dokter mengangguk. “Sebagian tindakan memang bisa ditanggung, tetapi ada beberapa prosedur dan kebutuhan medis yang tidak sepenuhnya masuk dalam tanggungan. Bagian administrasi sudah menghitung perkiraannya.” Risa menelan ludah. “Kalau saya belum punya uang sebanyak itu?” Dokter tidak langsung menjawab. “Rumah sakit bisa membantu mengurus beberapa program keringanan atau bantuan. Tetapi prosesnya membutuhkan waktu dan kami tidak bisa menjamin berapa besar yang akan didapat.” Risa menatap lantai. Empat ratus juta sementara tabungannya hanya belasan juta. Itu pun bukan uang yang bisa ia gunakan seluruhnya. Sebagian besar adalah simpanan untuk kebutuhan rumah dan biaya pengobatan ayahnya selama ini. Ia bekerja, tetapi gajinya tidak pernah cukup untuk menyiapkan uang sebesar itu dalam waktu singkat. “Saya harus bayar semuanya sekarang?” “Tidak sekaligus. Tetapi untuk menentukan jadwal tindakan, keluarga harus menunjukkan kesanggupan pembiayaan.” Risa mengangguk. “Saya mengerti.” Sebenarnya ia tidak mengerti. Ia hanya tahu bahwa ayahnya membutuhkan operasi dan ia tidak punya uang untuk membayarnya. Itu saja. Dokter Arman masih menjelaskan beberapa pilihan yang bisa dicoba. Risa mendengarkan sambil mencatat di ponselnya, berusaha menyimpan setiap informasi penting. Ia bahkan beberapa kali meminta dokter mengulang penjelasan karena pikirannya terlalu penuh. Ketika akhirnya konsultasi selesai, Risa berdiri. “Dok.” “Ya?” Risa menatapnya beberapa detik. “Kalau saya bisa mendapatkan uangnya... ayah saya masih punya kesempatan, kan?” Dokter Arman tidak memberikan janji yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. “Kesempatannya jauh lebih baik jika tindakan dilakukan tepat waktu.” Risa mengangguk. Itu sudah cukup, setidaknya untuk sekarang. Ia keluar dari ruangan dengan langkah yang terasa berat. Begitu pintu tertutup, Risa berdiri di koridor sambil memandangi layar ponselnya. Catatan terakhir yang baru saja diketiknya masih terbuka. Perkiraan biaya: Rp350–400 juta. Risa membaca angka itu sekali, dua kali, kemudian mematikan layar. Ia berjalan menuju kursi panjang di dekat jendela dan duduk. Orang-orang berlalu-lalang di depannya. Seorang ibu sedang menggandeng anak kecil. Dua perawat berbicara sambil membawa beberapa berkas. Seorang pria tua didorong menggunakan kursi roda oleh keluarganya. Rumah sakit tetap berjalan seperti biasa hanya hidup Risa yang rasanya baru saja berhenti. Ia membuka aplikasi mobile banking. Saldo rekeningnya muncul. Risa menatap angka itu lama. Belasan juta. Ia tertawa pelan. Entah kenapa, angka yang biasanya membuatnya merasa cukup sekarang tampak seperti lelucon. “Mana mungkin...” gumamnya penuh ironi. “Risa.” Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap seorang sahabat yang entah bagaimana ada di rumah sakit. “Ada apa?” Luna melirik ruang dan memperhatikan nama dokter yang tertempel di pintu ruang tersebut. “Gimana kondisi ayahmu?” Risa tertawa getir. “Ya gitu. Aku butuh biaya operasi.” Ia lalu melirik Luna. “Kamu ngapain disini?” Luna terdiam cukup lama sebelum berkata pelan. “Ikut aku, ada yang mau aku bicarakan.” Risa mengernyit namun tetap menurut. Mereka berjalan menelusuri koridor rumah sakit menuju ke sebuah kantin eksklusif di rumah sakit swasta tersebut. Setelah keduanya duduk berhadapan, Luna menarik napas panjang. “Risa, aku bisa bantu membayar biaya operasi ayahmu.” Dahi Risa mengernyit. Ia tahu Luna bukan lah perempuan yang pelit, justru wanita di depannya ini sangat humble, senang membantu tapi Risa tahu jelas biaya operasi dari rumah sakit itu tidak sedikit. “Kamu tahu biayanya, Na?” Luna menggeleng karena Risa juga sebelumnya belum memberitahu. “Sa, aku serius bantu kamu mau berapa pun biayanya. Berapa? Lima ratus juta? Satu miliar?” Risa tertawa hambar. Bagi orang kaya seperti Luna mungkin mengucapkan angka segitu seperti membeli permen seribu rupiah. Entah bagaimana ia merasa kecil di hadapan Luna. Luna adalah putri dari salah satu keluarga konglomerat yang namanya telah lama dikenal di kalangan pebisnis. Sejak kecil, ia tumbuh dalam kehidupan yang nyaris tidak mengenal kata kekurangan. Pendidikan terbaik, lingkungan sosial kelas atas, perjalanan ke berbagai negara, hingga akses terhadap orang-orang yang bahkan sulit ditemui oleh kebanyakan orang. Namun kekayaan keluarga Luna bukan satu-satunya alasan namanya dikenal. Beberapa tahun lalu, Luna menikah dengan seorang pria yang bahkan namanya lebih sering muncul di halaman bisnis daripada media sosial. Akram Noir. Presiden Direktur Noir Corporation. Pria yang oleh media disebut sebagai salah satu pebisnis paling berpengaruh di generasinya. Akram bukan tipe pengusaha yang senang berdiri di depan kamera. Ia jarang menghadiri pesta kalangan atas jika tidak ada urusan bisnis di dalamnya, hampir selalu menolak wawancara pribadi, dan tidak memiliki kebiasaan membicarakan kehidupan keluarganya kepada publik. Bahkan ketika perusahaan yang dipimpinnya mencapai kesepakatan bisnis bernilai besar, Akram hampir tidak pernah menjadi orang pertama yang muncul di depan kamera. Ia lebih suka berada di balik pintu ruang rapat. Mendengarkan laporan, menganalisis angka, mengambil keputusan, kemudian kembali bekerja. Pembawaannya yang tenang dan dingin membuatnya memiliki reputasi yang sulit didekati. Akram tidak perlu mengangkat suara untuk menunjukkan siapa dirinya. Di ruang rapat, satu kalimat darinya sudah cukup untuk menghentikan perdebatan yang tidak memiliki arah. Namun, kekuasaan Akram tidak hanya berasal dari kepribadiannya. Noir Corporation yang dibangun kakeknya telah berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi paling bergengsi di Indonesia. Perusahaan tersebut bergerak dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan, keamanan siber, komputasi awan, infrastruktur pusat data, sistem pembayaran digital, hingga berbagai solusi teknologi untuk perusahaan berskala nasional maupun internasional. Gedung utama Noir Corporation berdiri megah di pusat kawasan bisnis ibu kota, menjulang tinggi dengan dinding kaca gelap dan desain arsitektur modern yang mencerminkan karakter perusahaan itu sendiri—dingin, bersih, presisi, dan nyaris tanpa cela. Di dalamnya terdapat ribuan karyawan yang bekerja dalam berbagai divisi. Karena itu, pernikahannya dengan Luna menjadi salah satu berita yang cukup menghebohkan. Putri konglomerat menikah dengan pebisnis paling sulit disentuh media. Dua keluarga besar bersatu. Pernikahan mereka bahkan disebut-sebut sebagai salah satu pernikahan paling bergengsi di kalangan elite bisnis. Namun, di balik kehidupan mewah pasangan tersebut, ada seseorang yang setiap hari bekerja cukup dekat dengan Akram untuk mengetahui sisi dirinya yang tidak pernah terlihat di layar televisi. Dan orang itu adalah Risa. Risa merupakan sekretaris utama Akram Noir. Selama bertahun-tahun bekerja di Noir Corporation, Risa sudah terbiasa menjadi orang pertama yang memeriksa jadwal Akram setiap pagi, memastikan seluruh agenda rapat berjalan sesuai rencana, menyaring panggilan penting, mempersiapkan dokumen sebelum rapat direksi, sampai mengingatkan Akram mengenai berbagai pertemuan yang sering kali terlupakan oleh pria itu karena terlalu tenggelam dalam pekerjaannya. Posisinya bukan pekerjaan yang bisa diberikan kepada sembarang orang. Menjadi sekretaris utama seorang Presiden Direktur seperti Akram berarti Risa harus mampu bekerja di bawah tekanan, menjaga kerahasiaan perusahaan, memahami ritme kerja atasannya, sekaligus mengambil keputusan dalam batas kewenangan yang diberikan kepadanya. Dan Risa mampu melakukan semuanya. Gajinya pun jauh lebih besar dibandingkan rata-rata pekerja seusianya. Seharusnya, dengan penghasilan tersebut, Risa bisa menjalani kehidupan yang nyaman. Sayangnya, selama beberapa tahun terakhir, sebagian besar penghasilannya tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Ada biaya pengobatan ayahnya, ada obat-obatan yang harus dibeli setiap bulan, ada pemeriksaan rutin, dan ada biaya perawatan yang perlahan menghabiskan tabungannya tanpa memberinya kesempatan untuk mengisinya kembali. Tunjangan yang seharusnya menjadi simpanan masa depannya pun ikut terpakai. Risa bahkan sudah menjual beberapa barang berharganya tanpa pernah menceritakan kepada siapa pun di kantor. Hingga tadi, ketika ia membuka aplikasi mobile banking untuk memastikan saldo yang tersisa, Risa hanya bisa menatap angka di layar dalam diam. Rp17.843.500. Belasan juta. Jumlah yang mungkin masih terlihat besar bagi sebagian orang, tetapi bagi Risa, angka itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya pengobatan ayahnya dalam waktu lama. Apalagi setelah dokter mengatakan bahwa kondisi ayahnya membutuhkan penanganan yang lebih serius. Risa mulai menyadari bahwa bekerja di perusahaan sebesar Noir Corporation, menerima gaji tinggi, dan memiliki jabatan yang dianggap bergengsi ternyata tidak menjamin seseorang akan selalu memiliki pilihan. Risa menarik napas panjang. Ia tidak ingin bersikap egois. Ayahnya sedang membutuhkan pertolongan, sementara di hadapannya ada seseorang yang mampu menyelesaikan masalah itu dalam satu kali transfer. Tetapi Risa tahu betul bahwa tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Termasuk kebaikan. “Kalau begitu...” Risa akhirnya bertanya, suaranya lebih tenang daripada perasaannya sendiri. “Apa imbalan yang kamu minta sebagai balasannya?” Luna menatap sahabatnya. Ada kesedihan yang jelas terlihat di matanya. Seolah sejak awal ia sudah tahu bahwa percakapan ini akan membawa mereka pada titik yang tidak mungkin ditarik kembali. “Aku tahu permintaanku mungkin terdengar egois,” ucap Luna lirih sambil menggenggam kedua tangannya sendiri di atas meja, lalu menarik napas panjang. “Aku juga tahu setelah mengatakan ini, mungkin kamu akan membenciku.” “Luna, sebenarnya kamu mau apa?” Entah kenapa perasaan Risa mulai tidak enak. Luna menatap Risa tepat di matanya. Kemudian, dengan suara yang hampir berbisik, ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh tubuh Risa seketika menegang. “Jadilah maduku, Risa.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.2K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.6K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.0K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
169.7K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.8K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook