Malam itu benar-benar menjadi titik balik yang tak terelakkan. Di dalam kereta kuda kerajaan yang berlambang singa emas, suasana terasa jauh lebih menyesakkan daripada di aula pesta yang riuh tadi.
Bukan karena udara yang sempit, tapi karena aura Putra Mahkota Adrian Blackwood yang duduk di hadapanku terasa begitu mendominasi, seolah-olah ia sedang mengklaim setiap inci oksigen yang aku hirup.
Adrian melepaskan kancing teratas seragam militernya dengan kasar, tampak berusaha mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan.
Efek berada di dekatku saat kutukanku sedang aktif ternyata mulai memengaruhi dia juga. Meskipun dia memiliki energi sihir yang kuat, gairah yang terpancar dari mawar hitam di bahuku bukanlah sesuatu yang bisa ditepis dengan mudah oleh logika ksatria mana pun.
"kamu benar-benar berbahaya, Lavinia," suara Adrian pecah dalam kesunyian kereta yang bergerak dinamis.
Mata birunya yang tajam menatapku, seolah sedang menelanjangi semua rencana yang ada di kepala kecilku.
"kamu menghancurkan reputasi Clarissa dan membuat Alaric terlihat seperti p****************g yang b***t hanya dalam satu gerakan. Apakah itu juga bagian dari rencanamu?"
Aku menyandarkan tubuhku ke dinding kereta yang dilapisi beludru empuk, menyilangkan kaki hingga belahan gaun hitamku tersingkap jauh.
Aku membiarkan kulit porselenku berkilau di bawah lampu temaram kereta, memberikan pemandangan yang aku tahu akan menyiksa batinnya.
Aku memberikan senyuman manja yang paling manis, senyum yang sengaja kurancang untuk memikat sekaligus mengejek.
"Duh, Yang Mulia... aku hanya membela diri. Kalau aku tidak bergerak cepat, akulah yang sekarang sedang merintih memalukan di lantai pesta itu," balasku dengan nada yang sengaja kubuat sedikit serak. "Lagi pula, bukankah Yang Mulia juga menikmati pertunjukannya? Melihat sang 'Kesatria Suci' gemetar menahan nafsu adalah tontonan langka, bukan?"
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru berpindah posisi dengan gerakan kilat, duduk tepat di sampingku hingga paha kami bersentuhan membuat jantungku berdegup kencang.
Aroma maskulinnya yang dingin perpaduan antara salju dan logam mulai berperang dengan rasa panas yang menjalar di perutku.
Kutukan itu mulai menuntut lagi, tapi ramuan perak yang tadi dikonsumsi sudah mulai kehilangan kuasanya.
"Ulang tahunmu tinggal 27 hari lagi, Lavinia", Adrian berbisik, suaranya kini tepat berada di depan bibirku.
Tangannya yang besar dan kasar mendarat di tengkukku, menarik wajahku perlahan agar menatap matanya yang berkilat penuh obsesi.
"Kutukan itu akan mencapai puncaknya, dan kamu tahu benar bahwa hanya energi sihir murni dari garis keturunan kerajaan yang bisa menetralkannya tanpa membunuhmu dan tanpa aku, kamu hanya akan menjadi abu yang terbakar oleh gairahmu sendiri."
"Jadi... Yang Mulia sedang menawarkan diri untuk menjadi 'obat'-ku?" tanyaku, memberanikan diri menyentuh halus d**a bidangnya di balik kain seragam yang mahal.
"Aku menawarkan kesepakatan lebih dari sekadar obat," Adrian mendekatkan bibirnya ke telingaku, membuat bulu kudukku meremang saat napas panasnya menyapu kulitku.
"Jadilah milikku sepenuhnya. Batalkan pertunanganmu dengan Alaric secara resmi, dan aku akan memastikan kamu tidak hanya selamat dari kutukan itu, tapi juga duduk di sampingku sebagai Ratu. Aku akan memberikanmu mahkota yang terbuat dari emas dan darah musuhmu."
Aku tertegun sejenak ternyata ini jauh lebih cepat dari yang kubayangkan. Menjadi Ratu berarti aku akan memiliki kekuasaan mutlak untuk menghancurkan siapa pun yang pernah menindas Lavinia.
Aku tidak perlu lagi bersembunyi di balik manipulasi kecil tapi aku bisa menjadi badai yang sesungguhnya.
Sungguh terdengar sangat menggiurkan tapi sesuatu yang instan pasti ada harganya. Aku tak mau terlihat mudah digapai.
"Tapi bagaimana dengan Alaric? Dia pria yang keras kepala. Dia tidak akan melepaskanku begitu saja hanya karena dia merasa bersalah sekarang," ucapku, mencoba menguji sejauh mana Adrian akan berusaha mendapatkanku.
Adrian tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat posesif dan gelap. "Alaric adalah bawahanku. Dan setelah skandal malam ini bersama Clarissa, dia tidak punya posisi tawar lagi di depan dewan bangsawan. Dia sudah tamat. Besok, seluruh kekaisaran akan tahu bahwa sang Ksatria Suci tidak lebih dari seorang pria yang tidak bisa mengendalikan diri di depan umum."
Kereta berhenti tepat di depan gerbang kediaman Whitmore. Namun, sebelum aku sempat turun, Adrian menahan lenganku.
Ia menarikku ke dalam pelukannya sebuah pelukan yang sangat kuat, menuntut, dan seolah ingin menyatu denganku. "Ingat, Lavinia. Mulai detik ini, kamu adalah milik Putra Mahkota. Jika kulihat kamu tersenyum pada Alaric atau pria lain lagi... aku tidak menjamin kediaman pria itu akan tetap berdiri esok harinya."
Aku hanya bisa mengangguk pelan tersenyum centil, merasa sedikit takut sekaligus sangat puas. Pria ini benar-benar terobsesi, dan itulah yang akan menjadi senjataku.
Begitu aku melangkah masuk ke aula utama rumahku, suasana terasa sangat sunyi. Namun, instingku dan peringatan dari sistem mengatakan ada sesuatu yang salah.
[Peringatan Sistem: Target 'Alaric Montague' terdeteksi di ruang tamu pribadi.]
[Status Target: Tidak Stabil. Tekanan Emosional: 85%.]
Aku tersenyum tipis. Ternyata dia tidak butuh waktu lama untuk mencariku. Aku melangkah menuju ruang tamu, masih dengan gaun hitam yang menggoda dan aroma parfum yang memabukkan.
Di sana, Alaric berdiri membelakangiku. Ia sudah mengganti pakaian militernya yang basah, tapi aura di sekitarnya terasa meledak-ledak.
"Kamu puas, Lavinia?" suaranya terdengar pecah, seolah-olah dia baru saja berteriak selama berjam-jam.
Ia berbalik, dan aku hampir terkesiap. Mata Alaric yang biasanya jernih kini merah padam. Rambutnya berantakan, dan tangannya gemetar hebat.
Martabat yang tadi hancur di pesta seolah meninggalkan luka menganga pada jiwanya yang biasanya tenang.
"Puas tentang apa, Tuan Duke? Tentang tunanganku yang akhirnya menyadari betapa 'suci' wanita yang dia bela mati-matian?" tanyaku sambil berjalan mendekat, setiap ketukan hak sepatuku terdengar seperti hitungan mundur bagi kesabarannya.
"Kamu menjebaknya! Kamu tahu minuman itu berisi racun!" Alaric melangkah maju, mencengkeram bahuku dengan kekuatan yang membuatku meringis. "Kamu menghancurkannya di depan seluruh kekaisaran! Clarissa sekarang... dia kehilangan segalanya! Dia mencoba mencelakai dirinya sendiri karena malu!"
Aku menepis tangannya dengan kasar. "Lalu? Kenapa kamu datang kemari? Jika kamu sangat mencintainya, pergilah ke sisinya! Peluk dia, bersihkan sisa-sisa kehinaannya! Kenapa kamu malah berdiri di depanku dengan napas yang memburu seperti pria yang sedang haus gairah?"
Alaric terpaku. Wajahnya memucat, lalu berubah menjadi merah padam menahan malu dan gairahnya. Kebenaran dari kata-kataku menghantamnya tepat di ulu hati.
Efek halusinogen dan aphrodisiac yang tadi menyerap di kulitnya mungkin sudah berkurang, tapi efek psikologisnya tertinggal.
Bayangan diriku dalam gaun hitam ini telah menanamkan benih obsesi yang salah arah di kepalanya.
"Aku... aku membencimu," desisnya, tapi matanya justru turun menatap bibirku.
"Benarkah? Kebencianmu terasa sangat mirip dengan rasa lapar, Alaric," aku melingkarkan tanganku di lehernya, menariknya mendekat hingga d**a kami bersentuhan. "Kamu membenciku karena aku menunjukkan kebenaran. Kamu membenciku karena sekarang, setiap kali kamu menutup mata, kamu tidak akan melihat wajah suci Clarissa lagi tapi yang kamu liat justru aku. Kamu akan melihat wanita jahat yang membuatmu gemetar di tengah pesta."
Alaric mengerang pelan, sebuah suara yang terdengar antara kemarahan dan keputusasaan. Ia mencengkeram pinggangku, menarikku lebih erat seolah ingin meremukkan tulang rusukku. "Apa yang kamu lakukan padaku, Lavinia? Kamu menyihirku? Kamu menggunakan sihir hitam keluarga Whitmore?"
"Aku tidak butuh sihir untuk membuat pria sepertimu bertekuk lutut, Duke," bisikku di telinganya. "Aku hanya butuh menjadi diriku sendiri."
Alaric memejamkan matanya rapat-rapat, namun napasnya semakin berantakan. Ia seolah ingin membantah, tapi setiap jengkal tubuhnya bereaksi terhadap aromaku. "Aku tahu aku salah! Selama ini aku buta karena manipulasi Clarissa. Tapi setelah melihatmu malam ini... melihatmu di pelukan Adrian... aku merasa seperti sedang kehilangan duniaku sendiri. Tolong, jangan batalkan pertunangan kita."
Aku menatap tangan Alaric di pinggangku dengan jijik, lalu menepisnya dengan kasar. "Duniaku sudah hancur sejak lama karena kamu, Alaric. Dan sekarang, aku sedang membangun dunia baru di mana kamu tidak ada di dalamnya. Besok pagi, surat pembatalan pertunangan akan dikirim ke kediamanmu. Jangan pernah datang lagi ke sini."
Alaric jatuh terduduk di lantai, tampak benar-benar hancur. Ini adalah momen yang seharusnya dirasakan Lavinia asli sejak dulu.
Aku berjalan menuju kamarku dengan langkah mantap. Namun, saat aku membuka pintu kamar, aku terkesiap.
Di atas tempat tidurku, Vincent Valerius sedang duduk santai sambil memainkan sebilah belati kecil. Ia sudah tidak memakai topengnya.
"Selamat malam, calon Ratu," sapa Vincent dengan senyum miring yang sangat berbahaya. "Pertunjukan yang luar biasa malam ini. Aku hampir saja ikut terpesona kalau aku tidak tahu betapa liciknya otak di balik wajah cantik itu."
"Vincent! Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?!" aku berteriak rendah menatap waspada.
Vincent bangkit dan memojokkanku ke dinding, tangannya mengunci pergerakanku. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.
Kutukanku bereaksi sangat kuat terhadap kehadirannya. Rasa panas itu kembali membuncah, jauh lebih liar daripada saat bersama Adrian.
"Aku mau kamu menjadi nonaku," bisik Vincent, suaranya sedingin es namun penuh gairah yang terpendam. "Biarkan Adrian memamerkanmu sebagai perhiasan takhtanya di siang hari. Tapi saat malam tiba... biarkan aku yang menjadi pedangmu di kegelapan. Aku akan melakukan semua kekejian yang tangan cantikmu tak perlu sentuh. Mari kita buat dunia ini bertekuk lutut di bawah kakimu."
Aku menatap matanya yang gelap, merasakan ketulusan yang mengerikan dari tawarannya. Dia tidak ingin menjatuhkanku tapi dia ingin aku menjadi pusat dari segala kehancuran yang ia ciptakan.
Aku tersenyum nakal, jemariku mengusap rahangnya. "Vincent sayang... tawaranmu sangat menggoda. Kenapa aku harus memilih satu kalau aku bisa memiliki kalian semua sebagai pengabdiku?"
Vincent menyeringai, ia mencium punggung tanganku dengan rasa hormat yang posesif.
Di luar sana, Alaric masih meratapi kehancurannya, sementara Adrian sedang menyusun rencana untuk mengikatku selamanya.
[Peringatan Sistem: Jalur Harem Terbuka!]
[Level Obsesi Meningkat!]
Adrian: 45% (Putra Makhota)
Alaric: 40% (Ksatria Suci)
Vincent: 55% (Duel Role)
Malam itu, di bawah cahaya bulan, sang Villainess telah mengamankan pion-pion terkuatnya. Permainan sesungguhnya baru saja dimulai..
***
Jangan lupa like/vote dan komen cerita ini biar author makin semangat nulisnya!