Bab 4

1620 Words
Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut bawahku, sebuah paket misterius tiba di depan pintu kamar. ​Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah botol kecil berbahan kristal berisi cairan perak yang berkilau seperti serpihan bintang yang dicairkan. Di bawah botol itu, terselip sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang tajam dan tegas: ​"Untuk meredam panasmu malam ini, Mawar Kecil. Jangan sampai kamu pingsan sebelum dansa pertama dimulai." ​Aku menghirup aroma kertasnya. Bau kayu cendana dan sihir yang dingin seperti aroma yang sama dengan yang kuhirup di dalam kereta Adrian kemarin. Aku tersenyum tipis. Ternyata sang Putra Mahkota jauh lebih perhatian, atau mungkin jauh lebih posesif, daripada yang digambarkan dalam novel aslinya. Dia tidak ingin ‘mainannya’ rusak sebelum dia sendiri yang menikmatinya. ​Tanpa ragu, aku meminum cairan itu. Rasanya seperti es yang mencair di tenggorokanku, seketika menyebarkan rasa dingin yang menenangkan ke seluruh nadiku. Rasa panas yang menggila itu tertekan, memberiku kendali penuh atas tubuhku kembali. ​"Terima kasih, Putra Mahkota. Ini akan sangat membantuku untuk tetap tenang saat aku menghancurkan Clarissa nanti," gumamku pada bayangan diriku sendiri. ​Marie masuk ke kamar dengan wajah pucat, membawa gaun hitam yang telah kami modifikasi. "Sudah waktunya, Nona. Kereta sudah siap." ​Aku berdiri dan membiarkan Marie memakaikan gaun itu. Kain sutra hitamnya terasa sejuk, memeluk lekuk tubuhku seperti kulit kedua. Gaun ini adalah sebuah pernyataan perang dengan belahan kaki yang setinggi paha, punggung yang terbuka lebar, dan potongan d**a yang rendah namun tetap elegan. Saat aku mengenakan topeng renda hitamku, aku tahu bahwa malam ini tidak akan ada yang bisa menghentikanku. ​Clarissa mungkin punya ‘Plot Armor’ sebagai protagonis suci kesayangan penulis, tapi aku punya pengetahuan masa depan sebuah dukungan sistem, dan gairah mematikan yang tidak bisa ia bayangkan. ​"Mari berangkat, Marie," kataku dengan suara yang penuh otoritas. "Panggung sudah siap, dan aku tidak sabar mendengar suara retakan hati Clarissa Beaumont saat dia menyadari bahwa pahlawannya telah beralih pihak." *** ​Kediaman Beaumont malam itu tampak seperti istana kristal yang berpijar. Ratusan lilin aromatik menyala di sepanjang lorong, namun baunya yang manis tak mampu menutupi aura busuk dari rencana yang sedang disiapkan sang tuan rumah. Begitu aku melangkah turun dari kereta kuda keluarga Whitmore, angin malam langsung menyapu gaun hitamku, menyingkap kaki jenjangku di bawah lampu gantung yang benderang. ​"Nona, semua orang menatap Anda," bisik Marie dengan suara gemetar. Ia belum terbiasa dengan perhatian sebesar ini. ​"Biarkan saja, Marie. Mereka butuh sesuatu yang indah untuk dibicarakan sebelum skandal besar malam ini pecah," jawabku tenang. Aku melangkah masuk ke aula utama dengan kepala tegak, membiarkan bunyi sepatuku bergema di lantai marmer. ​Seketika, orkestra yang sedang memainkan melodi lambat seolah memelan. Percakapan para bangsawan terhenti. Tatapan lapar, iri, dan bingung menyatu menjadi satu atmosfer yang mencekam. Lavinia yang mereka kenal biasanya datang dengan gaun warna-warni yang norak dan riasan berlebihan, tapi sosok yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah perwujudan kegelapan yang anggun dan berkelas. ​Di tengah aula, Duke Alaric Montague sedang berdiri berdampingan dengan Clarissa. Alaric mengenakan topeng perak yang menutupi setengah wajah tampannya, tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras saat matanya terkunci padaku. Clarissa, di sisinya, tampak seperti boneka porselen dalam balutan gaun putih polos yang bagiku terlihat sangat membosankan dan munafik. ​"Lavinia," suara Alaric rendah dan berat saat aku berjalan melewati mereka dengan anggun. "Aku sudah melarangmu datang ke pesta ini." ​Aku menghentikan langkahku, memutar tubuh perlahan hingga belahan gaunku menyingkap sedikit lebih banyak kulit pahaku. Aku bisa melihat mata Alaric tak sengaja melirik ke sana sebelum ia dengan cepat memalingkan wajahnya dengan gusar. ​"Tuan Duke... sejak kapan seorang tunangan yang diabaikan harus menuruti perintah pria yang sedang sibuk menjaga wanita lain?" Aku memberikan senyum miring yang provokatif. "Aku di sini untuk bersenang-senang, bukan untuk meminta izinmu." ​Aku mengedipkan mata pada Alaric yang wajahnya mulai memerah, lalu beralih pada Clarissa yang mulai mengeluarkan jurus andalannya ‘mata berkaca-kaca’. ​"Clarissa Sayang, gaunmu... manis sekali. Sangat cocok untuk seseorang yang ingin terlihat 'suci' “,bisikku tepat di depannya. ​"L-lavinia, apa maksudmu?" suara Clarissa bergetar, tangannya mencengkeram lengan Alaric erat. ​"Sudahlah," aku melambai centil dan berjalan menuju area bar, meninggalkan mereka yang mulai menjadi pusat bisik-bisik para tamu. ​[Peringatan Sistem: Target Bergerak.] [Pelayan berpita kuning mendekat dari arah jam 3. Kandungan dalam minuman: Aphrodisiac tingkat tinggi & Halusinogen.] ​Aku tersenyum dalam hati. Clarissa benar-benar ingin aku mempermalukan diri sendiri dengan menjadi wanita haus gairah yang menggila di depan umum. Sial baginya, aku punya sistem dan botol penawar dari Adrian yang sudah mengalir di nadiku. ​Seorang pelayan dengan pita kuning di lengan bajunya mendekat, membawa nampan berisi dua gelas anggur merah. "Minuman untuk merayakan pesta, Lady Whitmore?" Entah kemana pelayanku itu, tadi dia kusuruh mengambil barang tapi belum dateng juga. ​"Oh, tentu. Terima kasih, manis," aku mengambil gelas itu. Alih-alih meminumnya, aku memutar-mutar gelas itu di jemariku, mengamati cairan merah yang mengandung jebakan tersebut. ​Tiba-tiba, sebuah tangan besar dengan sarung tangan hitam mendarat di bahuku. Vincent Valerius. Topeng hitamnya membuatnya terlihat seperti iblis dari neraka yang paling tampan. "Lady Lavinia, apakah Anda akan meminum cairan berisiko itu sendirian?" ​"Tentu tidak, Tuan Valerius. Tapi kurasa minuman ini lebih cocok untuk seseorang yang sedang... sangat kehausan," aku melirik Clarissa yang sedang berjalan ke arah kami bersama Alaric. ​Saat mereka sudah dalam jarak yang tepat, aku sengaja berpura-pura kehilangan keseimbangan karena tumit sepatuku. "Aaah!" ​Byurrr! ​Dengan akurasi yang kupelajari dari sistem, aku menyiramkan seluruh isi gelas itu ke d**a Alaric dan sebagian mengenai wajah serta leher Clarissa. ​"Astaga! Maafkan aku! Aku benar-benar ceroboh karena terlalu bersemangat!" seruku dengan nada manja yang sengaja dibuat keras hingga seluruh penghuni aula menoleh. ​"Lavinia! Apa yang kamu lakukan?!" Alaric berteriak, mencoba menyeka anggur dari kemeja putihnya yang kini tembus pandang karena basah. ​Tapi aku tahu apa yang akan terjadi. Cairan itu meresap ke kulit mereka. Aphrodisiac tingkat tinggi ini tidak perlu diminum untuk bekerja tapi kontak kulit saja sudah cukup untuk memicu gelombang panas yang tak tertahankan. Alaric Montague, sang Ksatria Suci yang diagungkan karena kontrol dirinya, mendadak kehilangan pijakan. Kemeja putihnya yang basah mencetak jelas otot dadanya yang bidang, namun yang lebih memalukan adalah getaran hebat di tangannya yang tak bisa ia sembunyikan. ​Di depan para uskup dan bangsawan yang memujanya, Alaric tampak seperti pria b***t yang sedang sakamu. Matanya merah dan berkabut, napasnya memburu dengan suara berat yang memenuhi keheningan aula. Martabatnya sebagai ksatria tak bercelah runtuh seketika, ia tak mampu lagi melindungi Clarissa karena ia sendiri sedang berperang melawan ereksi yang menyakitkan di balik seragam militer kebanggaannya. Ironisnya, dalam halusinasinya, aroma Lavinia terasa begitu memikat, menjauhkan keinginannya dari Clarissa dan menarik seluruh obsesinya ke arah Lavinia. ​Sementara itu, Clarissa kehilangan kendali total. Wajah ‘suci’-nya memerah padam. Matanya kosong, hanya dipenuhi nafsu liar yang dipicu ramuannya sendiri. Di depan ratusan pasang mata bangsawan, tangan Clarissa mulai gemetar hebat. ​"Panas... ini terlalu panas..." rintih Clarissa. Tanpa malu, dia mulai merobek bagian d**a gaun putihnya sendiri. ​Aula mendadak sunyi sesunyi kuburan saat kain putih itu terkoyak, menyingkap kulitnya. Clarissa tidak berhenti. Dia jatuh terduduk di lantai dansa, menyibakkan roknya ke atas hingga pangkal paha, dan di depan semua orang termasuk para ksatria yang menghormatinya. Dia mulai menggosokkan tangannya dengan liar ke area intimnya sendiri di balik pakaian dalamnya yang sudah basah. Suara desahannya yang menjijikkan bergema di seluruh ruangan, meruntuhkan reputasi ‘Lady Suci’ dalam hitungan detik. ​"Clarissa! Apa yang kamu lakukan?!" Alaric berteriak, suaranya parau karena menahan gairah yang salah tempat. Ia merasa jijik melihat wanita yang dulu ia lindungi bertingkah seperti hewan di lantai, namun tubuhnya yang terpengaruh sihir justru mengkhianatinya seperti ingin menerjang, tapi sasarannya adalah Lavinia, sang Villainess yang menatapnya dengan pandangan menghina. ​"Astaga, Clarissa! Bagaimana bisa kamu melakukan hal serendah itu di pesta keluargamu sendiri?!" suaraku yang lantang memastikan skandal ini tercatat abadi di ingatan semua orang. ​Di saat puncak kehinaan mereka, terompet kerajaan bergema. "Putra Mahkota Adrian Blackwood memasuki aula!" ​Adrian masuk dengan jubah kebesarannya yang memancarkan otoritas mutlak. Ia melirik Clarissa yang masih sibuk mengocok area intimnya di lantai dengan tatapan sangat jijik, seolah-olah ia sedang melihat serangga yang perlu diinjak. Adrian melewati Alaric yang basah kuyup dan gemetar tanpa sepatah kata pun, mengabaikan eksistensi sang Duke seolah-olah Alaric hanyalah debu. ​Ia berhenti tepat di depanku. "Lady Whitmore," Adrian mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan putih. "Aku percaya dansa pertama malam ini adalah milikku." ​Aku menyambut tangannya. "Dengan senang hati, Yang Mulia." ​Kami berdansa di tengah aula, melewati sosok Clarissa yang kini diseret paksa oleh para pelayan Beaumont yang panik untuk menutupi tubuhnya. Alaric hanya bisa berdiri mematung di pinggir lantai dansa, mencengkeram tiang penyangga dengan sangat kuat hingga marmernya retak. Harga dirinya sebagai ksatria, sebagai pria, dan sebagai pelindung Clarissa telah mati malam ini. ​"Kamu melakukan pekerjaan yang sangat bersih, Lavinia," bisik Adrian di earphone maksudku, tepat di dekat telingaku. Tangannya meremas pinggangku dengan posesif yang menyakitkan. "Duke itu... dia terlihat ingin memperkosamu dengan matanya sekarang. Tapi sayang sekali, kamu akan pulang bersamaku malam ini." ​Aku tertawa manja, melirik Alaric yang menatapku dengan kebencian bercampur nafsu yang putus asa. "Pesta yang sangat menyenangkan bukan begitu, Putra Mahkotaku?" ​Vincent di sudut ruangan mengangkat gelasnya, memberikan senyum misterius ke arahku. Malam ini, aku telah membakar kesucian protagonis wanita dan menghancurkan benteng pertahanan sang ksatria suci. Dan dari abunya, aku akan membangun takhtaku sendiri. *** Jangan lupa like/vote dan komen cerita ini biar author makin semangat nulisnya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD