6. Bermalam Di Alas Prabu

1657 Words
Dewa bersama yang lainnya mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju alas Prabu. Hawa yang mulai terasa dingin, suasana yang mulai sunyi membuat siapa saja yang berada di sana, seperti memasuki gerbang dimensi lain. Bahkan panitia sering mengingatkan peserta untuk tetap fokus, tidak melamun, dan terus berjalan dengan hati yang tenang. Beberapa kali Dewa menoleh ke arah sekelilingnya. Pepohonan besar menjulang menghiasi perjalanan mereka. Sesekali terdengar suara burung yang menggema memenuhi cakrawala. Setelah berjalan cukup jauh, perasaan Dewa mulai nyaman dan bisa menikmati perjalanan itu. Hingga mereka tiba di sebuah gubuk yang merupakan posko kedua menuju alas Prabu. Panitia memerintahkan semua peserta untuk beristirahat sejenak. Sebelum memasuki alas Prabu. “Wa! Baru kali ini, aku masuk ke hutan ... kamu merasa ada aura mistis, nggak?” Cahyo atau yang kerap disapa Acong adalah pemuda yang penakut terhadap hal-hal berbau mistis dan sejenisnya. Namun dirinya sangat menyukai pemandangan alam terbuka. Hingga mau mengikuti kegiatan ini, demi menjadi anggota pencinta alam. “Cong! Sini dengerin! Yang namanya alas atau hutan, ya semacam ini ... konon katanya, alas Prabu di bukit Bunton ini memang tempat ....” “Hii ... tempat apaan, Wa?” Acong mendekatkan tubuhnya di sisi Dewa. “Woy geser sana! Nanti reputasiku hancur! Dikira hombreng! Geser! Alas Prabu ini memang tempat untuk latihan Diksar ... itu maksudnya, Cong!” Dewa kesal pada Acong yang penakut. “Oh ... kirain tempat persembahan apa gitu, Wa? Hehe ... maaf ya, Wa!” Acong kembali menggeser posisi duduknya dan memberi jarak dengan Dewa. Panitia sudah cukup memberikan waktu untuk mereka beristirahat. Sehingga mereka kembali diperintahkan untuk berjalan menuju posko ke tiga sebelum benar-benar memasuki area alas Prabu yang menjadi lokasi tujuan mereka. Posko ke tiga sudah mereka lewati, itu adalah posko terakhir yang ada di bukit Bunton. Saat ini semua peserta disuguhkan pemandangan alam liar yang sangat menakjubkan. Begitu sejuk dan memanjakan mata. Tanpa ada kebisingan dan tanpa ada lalu lalang kesibukan orang. Mereka menapaki jalan setapak dan melewati semak yang cukup tinggi. Jalan menanjak dan terjal harus mereka lalui. Akar pohon pun terlihat kokoh menancap menjaga hutan. Tanah yang lembap mulai terasa ketika panitia mengatakan mereka sudah memasuki alas Prabu. *** Sepanjang perjalanan menuju alas Prabu, Dewa melihat keadaan di sekelilingnya. Ia pun mengamati aliran sungai yang ada di bukit Bunton. Dewa mengamati ke mana arah mereka berjalan. Dewa juga memberi tanda di pohon yang ia lalui sesuai jalur keberangkatan untuk mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, menggunakan stiker berukuran kecil yang sudah ia siapkan. Dewa merasa kalau berada di hutan, semua pohon akan terlihat sama. Bahkan ada yang bingung ke mana arah mata angin. Mana utara dan mana selatan. Terlebih lagi jika mereka panik, justru malah akan memperburuk keadaan. Dewa mengantisipasi kejadian paling buruk. Situasi di dalam alas Prabu semakin gelap, karena pepohonan lebat menghalau sinar matahari yang akan menerangi. Tanah yang lembap membuat situasi semakin dramatis. Perjalanan terhenti sampai di suatu tanah agak lapang di antara rimbunnya pepohonan. Mereka telah sampai pada lokasi yang akan dijadikan pos Diksar di dalam alas Prabu. Panitia kembali membariskan suruh peserta di dalam alas Prabu sesuai dengan kelompok masing-masing. Lokasi tempat pendirian tenda sudah ditentukan. Tyo sebagai ketua pelaksana, akan memberikan arahan “Selamat siang!” Tyo dengan penuh semangat segera memberikan motivasi pada peserta. “Selamat siang, Kak!” jawab seluruh peserta. “Selamat datang di alas Prabu ... di sinilah kita akan mendirikan tenda besar sebagai posko untuk kita ... kalian nanti ditugaskan untuk bergotong royong mendirikan tenda untuk posko kita ... ada dua tenda besar di sebelah sana!” Tyo menunjukkan ke sebuah arah. “Bagi seluruh peserta ... nanti akan tidur menggunakan sleeping bag dan ponco sebagai penadah angin, juga agar kalian tidak terkena hujan ... akan kami jelaskan cara dan fungsinya, setelah selesai mendirikan tenda besar ... sebelum semua kegiatan dimulai ... alangkah lebih baiknya, kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing ... agar semua kegiatan bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan ... berdoa, dimulai!” Semua peserta dan panitia menunduk sejenak memanjatkan doa. “Selesai!” “Semuanya, apa masih bersemangat?” Tyo kembali memberikan semangat. “Semangat!” jawab seluruh peserta. “Sekali lagi! Apa masih semangat?” “Semangat!” jawab peserta lebih lantang dan kompak. “Luar biasa!” Tyo mengacungkan jempolnya. *** Semua peserta dan panitia bergotong royong mendirikan tenda besar sebagai posko dan tempat penanganan pertama jika terjadi sesuatu hal yang buruk, sebelum dibawa ke posko pendakian terdekat. Mereka pun membuatnya seperti bivak alam dengan menutupi tenda hijau tersebut menggunakan ranting dan dedaunan di atasnya. Setelah itu semua panitia memulai dengan memberi panduan cara membuat bivak menggunakan ponco. Berbekal tali dan jas hujan atau ponco, biasanya dipilih berwarna gelap. “Perhatian! setiap kelompok akan didampingi oleh panitia dalam latihan pembuatan bivak dan memilih lokasi yang aman ... silakan kepada panitia untuk segera memulainya saja!” perintah Tyo pada semua panitia. Regu Serigala dipandu oleh dua orang panitia. Bernama Bayu dan Vira. Kebetulan Bayu adalah senior yang mengendarai motor trail milik Dewa. “Perkenalkan saya bernama Bayu dan sebelah saya senior yang cantik ini bernama Vira ... kami akan memandu kalian, melatih kalian untuk membuat bivak sebagai tempat beristirahat ... kalian harus memperhatikan karena lusa kalian sudah mulai menjalani survival, ingat! Ini adalah hutan! Bukan di rumah kalian yang nyaman dengan tempat tidur empuk dan segala hidangan tersaji ... di sini adalah alas Prabu ... hutan belantara dengan banyak kemungkinan yang akan terjadi ... tetapi kami selalu berdoa agar semua berjalan dengan lancar dan seharusnya.” Bayu kembali memberi peringatan untuk semua anggota regu Serigala yang diketuai oleh Windu. “Di regu Serigala, siapa ketuanya?” Vira melihat satu persatu anggota regu itu. “Saya, Kak!” seseorang mengacungkan tangannya. “Siapa nama kamu?” Bayu menatap pemuda itu. “Windu, Kak!” Windu menjawab dengan tegas. “Jaga kekompakan regu Serigala! Kamu adalah tumpuan mereka, kamu bertanggung jawab atas keselamatan dan keberhasilan tim dalam menjalani latihan dan survival.” Bayu menatap dan mengatakan dengan tegas pada Windu. “Siap, Kak!” Windu bersedia. “Baik ... sekarang kalian siapkan peralatan yang sudah diberitahukan sebelumnya untuk kalian bawa ... Ponco, tali, dan sleeping bag.” Bayu meminta mereka menyiapkan peralatan masing-masing. “Ada hal yang harus kalian perhatikan! Istirahat di dalam bivak sederhana bukan berarti kalian sembarangan dalam menentukan lokasi, Ingat! Ada hal lain yang harus diperhatikan sebelum mendirikan bivak, pertama pilih pohon yang kokoh dan tidak rapuh, hal ini sangat penting untuk keselamatan kalian yang beristirahat di bawahnya ... pilih tanah yang lapang dan kering, kalaupun lembap, kalian harus membuat alas dengan tumpukan kayu, daun-daun kering, atau pun akar pepohonan ... kalian juga harus memperhatikan arah angin berembus, jangan sampai membuat bivak pada lokasi tadah angin! Baik, kita akan langsung mempraktiknya!” Bayu mengajak dan memandu mereka bersama Vira. Dengan telaten, Bayu memandu mereka. Dewa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mempelajari dan mengamatinya. Hingga tiba saatnya, Dewa membuat bivak sebagai tempat beristirahat. “Nah! Selesai!” Dewa menepukkan tangannya yang penuh serpihan tanah. “Dewa! Jangan lupa, buatlah sodetan di sekitar Bivak untuk menghindari air menggenang ketika hujan!” Bayu kembali mengingatkan. “Oh ... baik, Kak!” Dewa tersenyum penuh hormat. Panitia juga memberitahu bagaimana cara untuk memperoleh persediaan air bersih selain dari sungai. Panitia membentangkan satu ponco yang diikat pada pohon dan di bawahnya diberi ember. Gunanya ketika hujan tiba, air akan ditampung dalam ponco dan akhirnya mengalir masuk ke dalam ember penampung. “Mengingat aliran sungai di bukit Bunton ini berada di dekat posko kedua, alias jauh dari sini ... maka kami menyarankan pada kalian untuk membuat ponco penampungan air seperti yang sudah dicontohkan ... bagaimana? Apa kalian sudah mengerti?” Tyo kembali menanyakan kesanggupan mereka. “Siap! Mengerti!” suara lantang seluruh peserta membuat suasana menjadi semangat. *** Hari pertama Diksar ini terasa sangat melelahkan, setelah seharian mereka menjalani banyak kegiatan. Suasana semakin sunyi saat sandekala, ketika senja berganti petang. Aura yang berbeda sudah mulai mereka rasakan. Beberapa panitia berkeliling melihat keadaan peserta sembari mengingatkan mereka tentang kewaspadaan. “Dewa!” panggil Bayu padanya. “Iya, Kak!” Dewa dengan sigap langsung menjawab panggilan Bayu. “Jangan lupa pakai minyak komando yang sudah kamu siapkan!” perintah Bayu pada Dewa. “Siap, Kak!” Dewa tersenyum menatap senior itu. Bayu kembali berkeliling melihat dan mengingatkan peserta lainnya. Windu membuat bivak tidak jauh dari tempat Dewa beristirahat. Ia melihat beberapa senior lebih memperhatikan Dewa ketimbang dirinya. Mulai dari situ Windu semakin berambisi untuk selalu mengalahkan Dewa dalam segala hal. *** Minyak komando adalah minyak yang biasanya digunakan para pendaki atau survivor sebagai anti nyamuk, anti pacet (sejenis lintah pengisap darah), dan juga sebagai anti lecet, saat harus berjalan jauh. Cara membuat minyak komando yaitu dengan menuang minyak kelapa murni ke dalam botol, lalu mengiris bawang merah secukupnya dan masukan ke dalamnya, tutup dengan rapat, lalu diamkan selama kurang lebih tiga hari. Supaya zat yang terkandung di dalam bawang merah, bersatu dengan minyak kelapa secara sempurna. *** Malam yang kian larut membuat suasana alas Prabu di bukit Bunton terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara jangkrik atau hewan malam. Dewa sudah bersiap masuk ke dalam bivak buatannya. Dewa menyiapkan sleeping bag di dalam bivak, lalu Dewa masuk ke dalamnya. Kesunyian malam itu, membuat Dewa kembali teringat kepada sang Ayah. Dewa selalu memikirkan bagaimana keadaan Ayahnya yang kini mendekam di balik jeruji besi. Dewa merasakan hawa dingin yang begitu menusuk. Bivak yang sempit membuatnya semakin memikirkan keadaan Ayahnya. “Ayah ... bagaimana keadaan Kau di sana? Apa mungkin seperti ini? Sunyi, sendiri, kedinginan? Apa yang bisa aku perbuat untuk menolong engkau, Ayah?” Dewa berbicara dalam hatinya. Sembari merintih dalam kepedihan sanubarinya. Pikiran Dewa tentang Ayahnya buyar seketika ia kembali mendengar lolongan mirip Serigala dari arah bukit Rembul yang berada di seberang bukit Bunton. Lolongan yang sama seperti yang pertama kali ia dengar ketika malam bulan purnama yang lalu. Jantung Dewa berdegup begitu kencang. Suara lolongan itu terdengar sangat jelas dan seakan mendekat. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD