7. Halusinasi

1734 Words
Lamunan Dewa tentang keadaan Ayahnya seakan membangkitkan aura magis hingga ke bukit Rembul, yang terkenal akan kemistisannya. Bukit Rembul bersebelahan dengan bukit Bunton yang kini Dewa tapaki. Setiap kali Dewa memikirkan nasib Ayahnya, saat itu juga Dewa mendengar lolongan mirip Serigala dari arah bukit Rembul. Malam itu suara lolongan mirip Serigala terdengar sangat jelas. Dewa berusaha melirik ke arah kanan dan kirinya. Gelap dan sunyi seketika menyelam dalam sanubari Dewa. Tak dapat dipungkiri lagi kalau Dewa pun merasakan gelombang ketakutan yang mulai menggerogoti keberaniannya. Dewa berusaha memejamkan mata dan merapatkan penutup kepala sleeping bag. Degup jantung Dewa semakin kencang ketika suara lolongan mirip Serigala itu terdengar semakin jelas dan semakin dekat dengannya. “Suara lolongan ini membuat bulu kudukku bergidik ... astaga ... suaranya terdengar semakin dekat ... apa mungkin? Itu benar-benar binatang buas? Apa teman-teman yang lainnya pun mendengar suara yang sama?” Dewa berbicara dalam hatinya, sembari memikirkan keselamatannya, jika memang benar-benar ada binatang buas yang menghampiri mereka. Dewa berusaha mengatur napasnya yang mulai tersengal, karena irama degup jantung yang kian cepat, seiring dengan suara lolongan yang seolah semakin mendekat pada Dewa. Ia yang sangat ketakutan, tak tahan lagi dengan tekanan batin yang sedang dialaminya. “Acong! Cong!” teriak Dewa memanggil temannya. “Acong?” teriak Dewa kembali terulang. Ia masih belum berani untuk keluar dari dalam bivak yang ia tempati. Hanya mampu berteriak untuk memastikan kalau teman-temannya pun mendengar suara lolongan Serigala itu. Suara senyap membuat Dewa penasaran. “Wa? Manggil aku?” sahut Acong pada Dewa yang baru saja terdengar memanggilnya. Sontak teriakan Dewa yang memanggil-manggil temannya, menyita perhatian panitia yang sedang berjaga. Kebetulan Tyo dan beberapa panitia lainnya menyadari ada yang tidak beres dari suara teriakan salah satu peserta Diksar. Tyo melangkahkan kakinya ke sana sembari membawa lampu senter. Tyo berlari ketika suara teriakan Dewa semakin menjadi. “Acong?” “Apa, Wa?” Acong merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Dewa, sehingga ia keluar dari bivak, lalu berlari ke arah Dewa dengan tergesa-gesa. Acong dan Tyo berlari menuju arah sumber suara yang tak lain adalah suara Dewa. Mereka langsung melihat keadaan Dewa di dalam bivaknya. Tyo mengarahkan sorot lampu senter ke arah bivak Dewa. Lalu Acong membuka bivaknya. “Dewa?” Acong dan Tyo terkejut mendapati Dewa tidak berada di dalam bivaknya. Mereka saling menatap dan langsung memanggil-manggil nama Dewa. “Dewa? Dewa kamu di mana?” Teriak Acong sembari berlari tak tahu arah untuk mencari temannya di antara kegelapan. “Dewa?” teriak Tyo membahana mencari keberadaan Dewa. “Cong! Tetap tenang! Kamu lihat situasi peserta yang lain! Jangan sampai ada yang keluar dari bivak! Kamu harus pastikan itu!” perintah Tyo pada Acong. “Kak! Ada apa?” Windu datang menyapa. “Kalian saya tugaskan untuk memastikan semua peserta berada di dalam bivaknya! Jangan ada yang bergerak meninggalkan bivak! Saya dan panitia lain akan mencari keberadaan Dewa.” Tyo bergegas menemui panitia lainnya. Selepas kepergian Tyo yang berlari menemui panitia lainnya, di sana hanya menyisakan Acong dan Windu. “Malam-malam, di Hutan ... pakai acara ngilang? Nyusahin aja!” Gerutu Windu didengar oleh Acong. “Eh ... kalau ngomong hati-hati! Besok kamu yang hilang baru tahu rasa!” Acong pergi berjalan meninggalkan Windu yang pastinya kini kesal pada Acong dan Dewa. *** Dewa berlari untuk mengejar sekelebat bayangan mirip Acong yang dengan sangat cepat berlari ke dalam hutan, setelah lolongan mirip Serigala itu menghilang. Tanpa Dewa sadari, dirinya pergi menjauh dari area posko Diksar. Dewa berlari dan terus berlari lebih dalam lagi memasuki hutan, karena Dewa beranggapan kalau sosok bayangan itu memang Acong. Dewa khawatir Acong akan tersesat. Namun pada kenyataannya, bukan Aconglah yang tersesat. Melainkan Dewa sendiri, karena saat ini, dirinya pun tidak mengetahui di mana posisinya berada. Dewa berhenti dan memutuskan untuk tidak mengejar sosok bayangan itu lagi. Tak lama berselang, Dewa mendengar teriakan seseorang yang memanggil namanya. Dewa membuka telinga lebar-lebar di antara gejolak batin yang sedang ia rasakan, untuk memastikan bahwa suara itu adalah suara teman-temannya yang nyata. Lolongan mirip Serigala kembali didengar oleh Dewa. Ia baru tersadar kalau dirinya tersesat entah berada di mana. Tanpa membawa cahaya apa pun untuk penerangannya. “Astaga ... apa yang terjadi denganku? I—ini sangat gelap ... bahkan aku tidak bisa melihat tangan dan kakiku sendiri.” Dewa sudah panik bukan main. Lalu dirinya menutup mata dan berusaha mengatur napasnya. Perlahan Dewa membuka matanya. Sorot mata Dewa membulat begitu tajam, lantaran retina matanya menangkap sesosok makhluk mirip dengan Serigala, tetapi mirip juga dengan Macan berwarna putih keabu-abuan yang bersinar terang di antara kegelapan. Dewa tidak bisa beranjak dari sana. Makhluk itu masih menatap Dewa. “Astaga ... apakah ini halusinasi? I—itu seperti Lynx, tetapi mi—mirip Serigala ... lalu mengapa aku merasa tubuhku terkunci tak bisa bergerak sedikit pun? Apa yang sebenarnya terjadi?” Dewa berbicara dalam hatinya. Dewa berusaha mengendalikan kepanikannya. Ia kembali menutup mata dan menghirup napas yang terasa semakin sesak. Tepat ketika Dewa menghela napas, suara seseorang berbisik agar Dewa berjalan menyusuri terpaan sinar rembulan yang remang-remang di antara celah pepohonan. “Berjalanlah mengikuti arah cahaya sinar rembulan itu!” suara bisikan itu membuat Dewa terperanjat dan melihat sekelilingnya. Ia melihat ada kabut yang memudar di antara cahaya rembulan. Dewa langsung berlari, sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan makhluk itu tidak mengejarnya. Makhluk itu hanya diam menatap Dewa yang sudah pergi menjauh, lalu hilang bersama kabut yang memudar. Dewa terus berlari mengikuti arah sinar rembulan berwarna agak putih di antara celah pepohonan. Hingga ia melihat sorotan lampu senter yang mungkin saja dari tim SAR yang sedang mencarinya. “Dewa ....” “Dewa ... di mana kamu?” “Dewa ....” Suara-suara saling bersahutan memanggil nama Dewa, menggema hingga penjuru alas Prabu. “Di sini! Aku di sini.” Dewa berteriak dan terus berlari menuju arah sorot lampu senter itu. “Hei ... itu, Dewa!” Bayu melihat Dewa sedang berlari dari kejauhan. “Mana?” Tyo menyorotkan lampu senter ke arah datangnya Dewa. “Ayo kita mendekat!” Tyo bergegas mendekat ke arah Dewa. Ia tidak mau kehilangan salah satu peserta Diksar. “Wa? Kamu nggak apa-apa?” Tyo mendapati Dewa yang tengah tersengal-sengal napasnya, sembari menumpukan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya seperti sedang ruku’ sembari mengatur napasnya. Tyo menepuk bahu Dewa yang terlihat masih berusaha menstabilkan emosionalnya. “Wa? Apa kamu mau istirahat dulu di sini? Atau mau melanjutkan perjalanan ke posko?” Bayu menanyakan hal itu, karena memang posisi mereka saat itu terlalu jauh memasuki kawasan alas Prabu. “Kita kembali saja, Kak!” pinta Dewa pada panitia. “Ya sudah! Ayo kita kembali!” Tyo dan panitia yang lainnya kembali ke posko bersama Dewa. *** Dewa sudah berada di posko utama, tepatnya di posko ke-tiga atau terakhir menuju alas Prabu. Ia ditemani Bayu, Acong, dan Vira ketika menuju posko itu. Di sana Dewa diberi teh manis hangat untuk memulihkan tenaganya. Dewa terlihat sangat pucat juga lemas, lantaran ia berlari sangat jauh ke dalam hutan itu. Dewa berusaha memulihkan tenaganya. Ia bersandar pada kursi yang terbuat dari bambu. Vira dan penjaga posko memeriksa keadaan Dewa. Lalu memberitahu pada Bayu bahwa keadaan Dewa mulai stabil. Mereka duduk bersama di dalam posko itu. Acong penasaran dengan apa yang dialami Dewa sebenarnya. “Wa? Apa sudah lebih baik keadaan kamu?” Acong menatap temannya dengan penuh kekhawatiran. “Udah mendingan, kok!” Dewa tersenyum pada Acong. “Wa? Sebenarnya kamu ini ngapain masuk ke hutan itu? Memang masih dalam wilayah alas Prabu, tapi ... tempat yang kamu datangi tadi, sudah di luar batas wilayah perizinan Diksar ini.” Bayu menatap Dewa. “Maaf, Kak! Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu ... yang jelas saat aku baru saja mulai memejamkan mata, aku mendengar suara lolongan mirip Serigala dari bukit sebelah ... semakin aku berusaha memejamkan mata, suara itu terasa semakin dekat ... lalu aku mendengar suara Acong yang berteriak sesaat setelah suara lolongan itu menghilang ... aku langsung memanggil kamu, Cong! Tapi kamu tidak menjawab ... aku penasaran, lalu aku keluar dari bivak ... aku mendapati sekelebat bayangan berlari ke dalam hutan ... aku melihat sosok itu sangat mirip dengan kamu, Cong! Aku khawatir kalau itu benar-benar kamu! Akhirnya aku memanggil-manggil kamu untuk memastikan ... tetapi tidak ada jawaban, pokoknya semua senyap ... aku memutuskan untuk mengejar sosok bayangan yang aku pikir itu kamu!” jelas Dewa pada Acong dan juga seniornya. “Be—berarti ... pas kamu teriak manggil aku, itu sebenarnya kamu sudah keluar dari bivak? Kamu nggak mendengar kalau aku menyahut? Menjawab panggilan kamu saat kamu panggil nama aku?” Acong mulai berkeringat dingin mendengar penjelasan Dewa. “Benar, Cong! Aku terus berlari hingga menyadari sesuatu ... aku bertemu dengan harimau putih keabu-abuan dan tubuhnya bercahaya ... aku baru sadar selama aku mengejar sosok bayangan itu ... kalau aku tidak membawa apa pun, bahkan lampu senter sekalipun ... lalu ada seseorang yang berbisik di antara kesunyian malam di dalam hutan yang sangat gelap ... dia berbisik kurang lebih begini intinya ... kalau kamu ingin kembali, ikutilah cahaya rembulan yang menyelusup di antara celah dedaunan.” Dewa menceritakan secara gamblang. “Wa? Kok serem sih?” Acong bergeser tempat duduk mendekat pada Dewa. “Cong? Appan sih? Geser sana duduknya! Reputasiku bisa hancur, Cong! Kalau dekat-dekat kamu begini! Dikira hombreng kan gawat!” Dewa masih bisa bercanda di sela ketakutannya. “Wa! Maaf ... apa sebelumnya kamu memikirkan sesuatu? Hmmm ... Melamun, misalnya?” Bayu merasa kalau Dewa melamun sebelum mengalami kejadian itu. “Kalau melamun, aku nggak tahu, Kak ... tapi ... sebelum suara lolongan mirip Serigala itu terdengar ... aku ... mem—memang sedang memikirkan bagaimana keadaan Ayahku.” Dewa menunduk, saat ia membahas tentang Ayahnya. “Nah ... tanpa kamu sadari, pikiran kamu kosong, Wa! Nggak fokus berada di sini, raga kamu ada di sini ... jiwa kamu berjalan sesuai dengan apa yang kamu pikirkan ... dengan begitu, halusinasi kamu berada dalam fase tertinggi,” jelas Vira pada Dewa dan Acong yang sedari tadi memperhatikannya. “Nah ... semua ini bisa dijadikan pelajaran! Jangan diulangi lagi! Kami tidak ingin kalian dalam bahaya.” Bayu menatap Dewa dan Acong. “Sebentar lagi, kalian akan menjalani survival, jangan sampai terulang lagi!” pinta Bayu pada mereka. Bagaimana survival, yang akan mereka jalani? Apakah akan terjadi sesuatu yang berbahaya lagi? Yang jelas, Windu tidak akan membuat Dewa merasa nyaman saat menjalani survival.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD