Malam yang penuh misteri berhasil dilalui Dewa dengan sangat menegangkan. Dewa tak habis pikir mengapa dirinya mengalami hal aneh semalam. Dewa juga yakin kalau sebenarnya ia hanya berhalusinasi karena suhu udara yang begitu dingin menusuk tulang, membuat Dewa hampir hipotermia. Namun, apa yang Bayu katakan tentang larangan untuk melamun dan pikiran kosong, membuat Dewa kembali bertanya-tanya.
***
Fajar telah menyingsing. Semburat jingga kemerahan mulai terlihat di ufuk timur. Suhu udara di alas Prabu sangat dingin. Semua peserta mulai beraktivitas pagi itu. Mereka diperintahkan untuk merebus air agar mereka dapat membuat minuman hangat seperti kopi, teh manis hangat, atau pun jahe s**u instan. Mereka dipersilakan untuk menyantap makanan ringan seperti biskuit, sebelum memulai aktivitas.
Acong dan Dewa sedang duduk di depan perapian yang mereka buat. Selain menunggu air mendidih, mereka pun ikut menghangatkan tubuh di dekat perapian. Mia datang menghampiri mereka, lalu menanyakan hal yang terjadi semalam.
“Wa? Keadaan kamu sudah membaik?” Mia datang membawa botol untuk menyimpan air panas.
“Sudah baikan, kok! Maaf ya! Semalam aku bikin heboh, deh!” Dewa masih agak lemas, tetapi keadaannya sudah membaik.
“Memangnya apa yang terjadi sama kamu semalam, Wa?” Mia juga penasaran.
“Dia kan cowok halu! Ha ha ... halu tingkat Dewa!” Windu yang sedang melintas langsung menyambar ucapan Mia. Senyumnya menyeringai seakan-akan menertawakan kejadian yang menimpa Dewa semalam.
Dewa menatap Windu dengan tatapan mata bagai kilatan elang yang terbakar kemarahan. Mia dan Acong mendapati firasat kalau kali ini Dewa akan melibas Windu.
“Apa? Nantangin?” Windu balik menatap Dewa dengan tajam.
Dewa mulai beringsut, tetapi Mia dan Acong menahannya.
“Udah, Wa! Nggak perlu meladeninya! Yang pasti, lambe julid itu biasanya milik orang yang kurang mendapat perhatian!” Acong menyindir secara halus sikap yang Windu lakukan pada Dewa.
“Heh! Bilang apa kamu?” Windu mulai tersulut emosi.
“Windu! Kamu ini ketua regu! Harusnya bisa jaga sikap kamu! Apa nggak malu bersikap seperti itu di hadapan anggota kamu sendiri?” Mia berdiri dan menatap Windu sembari melontarkan kata-kata yang memang ada dalam benaknya.
Mata Windu terbelalak, melihat ada seorang gadis yang begitu berani mengatakan hal yang membuat Windu tidak bisa berkutik untuk menimpali ucapannya.
“Sial! Anak siapa sih ini? Pedes banget omongannya! Awas saja! Kalian adalah anggota regu di bawah kepimpinanku! Akan aku kerjai habis-habisan, Kalian!” Windu berbicara dalam hatinya yang sangat emosi melihat sikap mereka bertiga. Akhirnya Windu meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.
“Gila! Ketua macam apa itu? Bisa-bisanya yang lain memilih dia menjadi ketua regu? Siap-siap aja kalau selama survival kita bakal dikerjai orang macam Windu.” Mia seakan dapat membaca situasinya.
“Dia boleh menghinaku! Tapi awas saja kalau dia berani menghina keluargaku!” Dewa sudah memasang tameng untuk mengantisipasi orang macam Windu.
“Astaga ... punya ketua regu macam si Windu bisa tersiksa lahir batin ini!” Acong kesal pada ketua regu yang sok itu.
***
Hari semakin siang, mereka sibuk dengan kegiatan pendidikan dasar survival. Banyak yang harus mereka pelajari, mulai dari memilih tumbuhan yang aman untuk dikonsumsi, cara memperoleh air bersih, cara memilih tempat beristirahat yang aman dari pohon rapuh, dan aman dari binatang buas.
Hingga waktu menunjukkan pukul dua siang. Cuaca yang cerah, tetapi turun gerimis yang lumayan deras. Semua peserta tetap beraktivitas, mereka menggunakan jas hujan dalam melaksanakan kegiatan itu. Dari kejauhan, Dewa melihat Tyo sedang berbincang dengan seorang Kakek yang terlihat seperti warga asli bukit Bunton. Kakek tua itu mengenakan baju setelan berwarna hitam, menggunakan ikat kepala, dan kelihatannya ada sesuatu yang serius. Buktinya Tyo langsung meminta semua peserta dan panitia berkumpul untuk menghentikan kegiatan yang sedang mereka lakukan.
Dewa memperhatikan Kakek tua tadi. Beliau berjalan pergi menuju lereng bukit. Tampaknya Kakek tua itu akan kembali ke desa yang berbatasan dengan lereng bukit Bunton. Tak lama berselang, Tyo meminta semua peserta dan panitia berkumpul.
“Semua harap berkumpul!” Hentikan semua kegiatan selama hujan siang ini! Untuk masing-masing ketua regu silakan pimpin barisan regu kalian dan berjalan berurutan untuk berteduh di posko ke tiga! Cepat!” Tyo berjalan paling belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Posko yang cukup besar dengan halaman yang juga cukup besar bisa menampung mereka, selama berteduh. Seperti biasa Dewa dan Acong penasaran mengapa tiba-tiba kegiatan dihentikan. Mereka mencari tahu apa yang terjadi. Dewa berpura-pura mengambil air minum di dalam posko. Ia mendengar bisik-bisik panitia yang sedang berbincang dengan Tyo.
“Bang? Kenapa kegiatan mendadak dihentikan?” tanya Vira pada Tyo dengan sangat lirih.
“Tadi ... Pak Slamet yang jadi Kuncen atau juru kunci alas Prabu berpesan untuk menghentikan kegiatan ketika langit cerah, matahari bersinar, tetapi turun hujan.” Tyo menjelaskan pada panitia lainnya dengan sangat lirih.
“Memangnya kenapa, Bang?” Bayu menatap Tyo dengan serius.
“Konon katanya ketika langit cerah, matahari bersinar, dan turun hujan ... hmmm ... siluman di bukit Bunton dan bukit Rembul keluar dari sarangnya ... mereka berjemur sekaligus mandi di bawah air hujan itu ... jadi kita diminta untuk menghentikan aktivitas sampai hujan reda atau langit menjadi mendung.” Penjelasan Tyo pada panitia lainnya, ternyata masih bisa di dengar oleh Dewa. Sehingga Dewa berpikir kalau apa yang ia alami semalam benar-benar nyata.
Dewa beranjak dari sana melenggang dengan santai. Tanpa terburu-buru atau menunjukkan gelagat mencurigakan. Padahal Dewa sudah mendapat informasi yang baru saja didengarnya.
***
Dewa berjalan menghampiri Acong dan Mia yang sedang duduk di salah satu sudut posko. Dewa duduk di antara mereka. Lalu Dewa meminta Acong dan Mia agar mereka tetap bersikap sewajarnya saat Dewa memberikan informasi.
“Pokoknya aku mau ngasih informasi yang baru aku dapat ... tapi tolong kalian bersikap sewajarnya! Biasa saja!” Dewa berbicara lirih sembari bersikap biasa saja.
“Info apaan?” Mia penasaran.
“Jadi tadi ada juru kunci alas Prabu ini ... namanya Pak Slamet ... Beliau menemui Kak Tyo ... katanya ... semua peserta dan panitia diminta menghentikan kegiatan saat alam memberi pertanda ... langit cerah, matahari bersinar, tapi turun hujan ... hal itu pertanda kalau siluman yang berada di wilayah alas Prabu dan bukut Rembul, sedang keluar dari sarang mereka ... konon katanya mereka berjemur sekaligus mandi di bawah air hujan itu ... jadi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, maka Juru kunci alas Prabu meminta semuanya untuk menghentikan aktivitas dan turun ke posko.” Jelas Dewa pada kedua temannya.
“Astaga ... kok jadi merinding? Kenapa juga kita harus latihan di sini? Ini menakutkan!” Acong memberikan komentar.
“Pasti ada alasannya kenapa kita menjalankan Diksar di bukit ini.” Mia menatap Dewa dan juga Acong.
“Alasannya karena lokasi hutan paling aman yang memiliki posko aktif sebagai jalur pendakian dan latihan ya hanya di bukit Bunton ... apa kalian tahu? Bukit Rembul yang ada di sebelah timur bukit ini? Di sana lebih magis dan mungkin berbahaya ... jadi kita harus berpikir positif saja ... jangan melamun seperti aku semalam.” Dewa mengingatkan kedua temannya itu.
***
Waktu latihan pendidikan dasar survival sudah berakhir. Kegiatan di hari ketiga mereka adalah menjalani survival di alas Prabu. Panitia hanya mengawasi dari kejauhan. Semua panitia berkumpul di dalam posko ke tiga.
Masing-masing regu hanya dibekali satu korek api dan lilin. Mereka harus bertahan hidup dengan bergantung pada alam. Memanfaatkan apa saja yang ada di alam untuk dapat bertahan hidup selama tiga hari dua malam.
Satu malam berselang, semua merasa aman, tanpa ada halang dan rintangan yang berarti. Hari kedua sekaligus malam yang kedua, semua terasa berbeda. Persediaan air sudah mulai menipis di siang hari. Namun, ada saja rintangan itu. Rintangan yang diciptakan oleh Windu. Ia sengaja tidak mengutus anggotanya untuk mengambil air bersih di sungai. Karena memiliki misi untuk mengerjai Dewa.
Bersambung ...
***