Hari kedua survival terasa sangat melelahkan. Setelah seluruh peserta melewati hari pertama survival, yang terlihat mulus tanpa ada halang rintang yang berarti. Begitu pula malam yang mereka lewati berjalan mulus dan sangat aman. Sama halnya dengan Dewa, walau ia teringat akan kabar Ayahnya hari ini, tetapi Dewa masih bisa mengontrol pikirannya agar tetap fokus dan tidak kosong.
Ketika pagi menyapa hari kedua survival, Dewa dan teman satu regu mencari bahan makanan di dalam alas Prabu. Windu adalah sosok pemimpin yang kurang loyalitas terhadap anggotanya. Sikap yang arogan dan egois membuat beberapa anggota lain menjadi kesal padanya. Seperti pagi itu ketika mereka diminta untuk mencari bahan makanan selanjutnya. Windu memerintahkan Joko dan Biantara mencari tempat yang bisa digunakan untuk merebus air dan makanan, lantaran peralatan kemarin sudah tidak bisa digunakan kembali.
Hal itu dirasa berat karena paling tidak, Biantara, Joko, dan Danu harus menemukan pohon bambu atau kelapa. Karena batang bambu atau batok kelapa bisa dijadikan tempat untuk merebus air atau pun untuk memasak.
Sedangkan Mia, Tari, dan seorang anggota baru yang dipindahkan dari regu sebelah ke regu Serigala bernama Dewi, diperintahkan untuk mencari daun yang bisa digunakan untuk alas makan, seperti daun jati, daun pisang, atau daun nyangku yang biasanya tumbuh liar di dalam hutan. Selain ditugaskan mencari daun yang digunakan untuk alas makan, mereka pun ditugaskan untuk mencari tumbuhan yang bisa dimakan. Seperti pakis sayur yang memiliki daun bergerigi dan batang hijau. Atau mencari kecombrang, buah murbei, rebung bambu, dan lainnya yang bisa dikonsumsi.
Sedangkan Dewa dan Acong ditugaskan untuk mencari sesuatu yang sulit. Mereka diminta mencari ikan atau udang air tawar yang ada di sungai. Mereka sangat kesal dengan perintah Windu. Sedangkan Windu hanya menunggu di lokasi tempat mereka bermalam. Alasannya untuk menjaga barang bawaan dan keamanan.
“Sial! Dasar ketua egois! Giliran yang sulit-sulit dilimpahkan ke kita! Kalau dia ikut bantu sih nggak masalah! Dia Cuma duduk santai? Gila ... gila!” Acong menggerutu sembari berjalan bersama Dewa menuju sungai.
“Nggak tahu terbuat dari apa hatinya ... aku juga merasa kalau Windu tidak ingin berteman denganku ... ya sudahlah biar saja! Sikap Windu yang semena-mena jangan kita hiraukan! Kita tetap bisa bahagia walau nggak berteman sama dia! Dia bukan tipe orang yang mau menghargai orang lain ... biarlah! Masa-masa survival ini harus berkesan! Jangan hiraukan orang macam dia!” jelas Dewa pada Acong. Mereka kompak untuk tidak menghiraukan Windu yang semena-mena.
***
Biantara, Danu, dan Joko berjalan cukup jauh mencari tumbuhan yang diperintahkan oleh Windu. Ada rasa takut jika tersesat. Ada pula rasa takut jika bertemu penghuni alas Prabu. Namun setelah mereka berjalan cukup jauh, akhirnya mereka menemukan rimbunan pohon bambu.
“Tara! Danu! Lihat di sana!” Joko menunjuk sesuatu di ujung sebelah kiri dari lokasi mereka. Akhirnya mereka menemukan rimbunan pohon bambu. Hanya saja mereka bingung harus bagaimana mengambilnya.
“Bambu kan batangnya keras ... harus pakai golok atau gergaji ... tapi apa yang harus kita lakukan? Sedangkan bambu juga memiliki batang yang tajam jika tergores bagian yang pecah. Mereka masih berdiri di sana, menatap pohon bambu yang menjulang sembari memikirkan ide cemerlang untuk memperoleh bambu itu.
Berbeda halnya dengan rombongan Mia, Tari, dan Dewi. Mereka dengan mudah menemukan tanaman pakis, dan juga daun nyangku yang ada di hutan. Paling tidak mereka lega karena regu mereka mendapat bahan makanan.
Namun, sesuatu yang buruk terjadi pada Dewa dan Acong. Ia belum mendapat ikan sebagai lauk. Bahkan udang kecil di bawah batu-batuan pun mereka belum mendapatkannya.
“Wa? Parah ini hari udah hampir siang! Kita sama sekali belum mendapatkan ikan atau udang.” Acong kesal dengan perintah dari Windu.
“Coba kalau kita mempersiapkan pancing yang digunakan buat ikan-ikan kecil terlebih dahulu ... pasti sangat mudah mendapatkan ikan itu ... tapi ... ini kan survival, mana ada berbekal pancing?” Dewa duduk di atas sebuah batu besar sedangkan Acong berdiri di sampingnya.
“Terus ini bagaimana? Kita menyelam saja! Siapa tahu di dasar sungai ada ikannya!” ujar Dewa pada Acong.
“Ap—apa?” Mata Acong terbelalak.
Dewa nekat untuk menyelam. Sungai yang mengalir di antara bukit Bunton dan bukit Rembul sangat jernih. Di sana terdapat pula batu-batuan yang beragam ukurannya sebagai pemecah arus. Tidak terlalu dalam dan tidak pula terlalu dangkal.
“Wa? Kamu mau apa? Jangan nekat!” Acong melihat Dewa membuka kaos dan sepatunya. Lalu Dewa terjun ke sungai.
Byuurrrrr!!!
“Dewa? Wa? Dewa?” teriak Acong memanggil Dewa karena sudah beberapa menit ia tidak muncul ke permukaan.
“Dewa?” Acong mulai panik.
Suara teriakan Acong didengar oleh Tari ketika ia melintas di pinggiran hutan yang ada di dekat sungai. Tari langsung melihat ke arah sumber suara. Gadis berambut panjang nan cantik itu langsung memanggil Mia dan Dewi yang sedang memotong pakis.
Mereka bertiga lantas terkejut dan berlari ke arah sumber suara. Mereka pun sudah tidak memedulikan batang pakis yang mereka dapatkan. Mia yang berlari paling cepat. Ia merasa sangat khawatir pada Dewa. Lantaran Ia mengetahui kalau Acong ditugaskan mencari ikan bersama Dewa.
Mia terus berlari meninggalkan Tari dan Dewi yang masih tertinggal di belakang. Mia berhenti tepat di pinggiran sungai. Ia melihat Acong mondar-mandir, jongkok, berdiri, seperti orang yang panik serta kebingungan, Hingga Mia melihat Acong melepas sepatunya dan berusaha melepas bajunya.
“Acong! Acong! Tunggu!” Mia langsung meneriaki Acong yang terlihat akan terjun ke dalam sungai.
Acong menoleh pada Mia. “Mia! Mia ....”
Mia mendekat pada Acong dengan melompati batu-batuan yang berada di sana.
“Apa yang kamu lakukan, Cong?” Mia berteriak sembari berdiri di atas batu besar yang berada di seberang batu yang dipijak oleh Acong.
“Dewa ... terjun ke sungai!” Teriak Acong membuat Mia ikut panik. Begitu pula dengan Tari dan Dewi yang baru saja tiba di pinggir sungai.
Mereka mendekat pada Mia. Lalu tanpa memedulikan keselamatannya, Mia mencopot sepatu dan sudah ancang-ancang untuk terjun ke sungai.
Tiba-tiba Dewa muncul dari dalam air. Mereka seketika terdiam menatap Dewa yang muncul dari dalam air. Wajah tampan dan tubuh atletis Dewa yang basah tampak berkilauan, karena terkena pantulan cahaya matahari siang itu. Tatapan tiga gadis yang berada di sana tak bisa menghindarinya. Degup jantung Mia langsung tidak beraturan saat melihat Dewa dengan tubuh basahnya. Mia langsung menundukkan mata. Namun berbeda dengan Tari yang terus saja menatap Dewa.
“Wa? Kamu nggak apa-apa?” Acong pun ikut terpukau dengan kemampuan menyelam sahabatnya itu.
Dewa menepi ke dekat batu yang menjadi pijakan Acong. Dewa memberikan satu ikan yang tidak terlalu besar pada Acong.
“Hei? Melamun? Ini ambil ikannya!” Dewa meminta Acong untuk mengikat ikan tersebut, agar mudah untuk dibawa.
“Eh ... iya!” Acong mengambilnya dan bergegas untuk membersihkan ikan itu menggunakan belatinya. Mia, Tari, dan Dewi bernapas lega karena Dewa baik-baik saja. Akhirnya mereka ikut membantu untuk mencari ikan atau udang air tawar yang biasanya bersembunyi di bawah batu-batuan.
Kerja sama itu membuahkan hasil. Walau dingin Dewa terus berusaha mencari ikan di dasar sungai. Namun Dewa tidak melihatnya lagi. Ia hanya mendapat satu ikan yang tidak terlalu besar dan teman-temannya mendapat udang kecil sebanyak lima biji.
Dewa berjemur di atas batu. Sedangkan para peserta perempuan dari regunya, sudah kembali ke lokasi mereka, dengan membawa hasil tangkapan ikan, satu genggam tangkai pakis muda, dan daun nyangku. Sedangkan Acong menemani Dewa berjemur hingga agak mengering.
***
Angin bertiup cukup kencang ketika Dewa berjemur di sana. Dewa merasakan embusannya yang berasal dari bukit Rembul. Dewa dan Acong saling menatap, mereka seakan memiliki pikiran yang sama untuk segera pergi dari sana.
Dewa langsung memakai kaos, jaket, dan juga sepatunya. Acong berusaha meredam ketakutannya ketika menunggu Dewa selesai mengenakan sepatu. Mereka bergegas kembali ke lokasi mereka menginap.
Mereka berlari sangat kencang menerobos semak belukar. Tidak lagi memedulikan jalan setapak yang sudah mereka buat saat keberangkatan.
“Dewa!!! Tunggu aku!” Acong berlari di belakang Dewa. Napasnya tersengal karena jalan yang harus mereka lalui adalah jalanan menanjak. Dewa berhenti untuk menunggu Acong.
Dewa melihat Acong sudah kelelahan hingga dia meringis kesakitan karena perutnya merasa sengkil dan napasnya agak sesak setelah berlari mengikuti dewa. Dewa menunggu Acong dan memberikan semangat. Hingga akhirnya mereka sampai di lokasi yang dijadikan tempat mereka menginap. Semuanya sudah berkumpul, lalu Windu meminta mereka memberikan hasil yang telah mereka dapatkan.
Windu kesal karena ternyata Dewa mendapatkan hasil walau hanya sedikit.
“Sial! Bisa-bisanya dia mendapatkan hasil? Padahal sangat kecil kemungkinannya?” Windu berbicara dalam hatinya, yang merasa sangat kesal dengan keberhasilan Dewa. Tatapannya sinis dan selalu mencari cara untuk mengerjainya.
Semua anggota regu ditugaskan untuk mengolah makanan dan bisa berbagi. Memang tidak akan kenyang, tetapi setidaknya perut mereka sudah terisi makanan. Bertualang bersama teman rasa senangnya, mengalahkan rasa lapar mereka.
***
Hari mulai senja. Dewa dan teman-teman yang lain sedang bercengkerama di antara bivak yang mereka tempati. Tiba-tiba suara lantang Windu membuyarkan obrolan mereka. Windu membariskan semua anggotanya sekitar pukul empat sore. Begitu pula beberapa regu yang lainnya terlihat berkumpul. Windu sudah membariskan semua anggota regu serigala.
“Satu hari lagi, survival kita akan segera berakhir ... malam ini adalah pertarungan terakhir kita tinggal di hutan!” jelas Windu pada semua anggota regu Serigala.
Malam ini adalah malam terakhir ujian survival sebagai syarat pelantikan menjadi anggota pencinta alam Buana Sejati di kampus mereka. Setelah melalui Serangkaian kegiatan yang harus mereka ikuti.
“Dewa! Acong! Kalian saya tugaskan mencari kayu bakar sore ini! Mengerti?” suara lantang Windu memecah keheningan hutan tropis itu. Seketika Dewa dan Acong terbelalak. Lantaran Windu hanya memerintah mereka berdua yang berjalan ke dalam alas Prabu sore itu.
“Siap!” Dewa dan Acong menjawab dengan mantap.
“Untuk anggota lain, silakan kerjakan apa yang sudah saya perintahkan seperti biasanya! Memeriksa keadaan bivak masing-masing, termasuk bivak milik Dewa dan Acong kalian cek!” jelas Windu pada anggota yang lain.
“Interupsi!” sela Mia di antara suara lantang Windu.
“Maaf ketua ... persediaan air menipis, tampaknya tidak akan mencukupi kebutuhan untuk malam ini,” jelas Mia pada Windu. Setelah Mia memeriksa persediaan air.
“Itu urusan kalian! Saya tidak mau tahu bagaimana caranya kalian mendapatkan air itu! Silakan saja jika kalian mau kembali turun ke sungai! Ingat! Sebentar lagi hari sudah petang! Kalau kalian memaksa berjalan ke sungai, saya tidak akan bertanggung jawab atas keselamatan kalian! Ingat, ini hutan!” jelas Windu pada Mia. Windu memang tipe pemimpin egois yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri.
“Tapi, Biantara sudah dehidrasi! Apa nggak ada yang peduli?” Mia merasa kecewa sambil menatap Windu dengan sorot mata tajamnya. Gadis tomboy itu memang tidak pernah merasa takut selama membela kebenaran.
“Biar kami yang turun ke sungai ... kalian tunggu saja! Kami akan segera kembali sebelum malam!” Dewa rela berkorban untuk turun ke sungai walau jarak dari tenda tempat mereka menginap cukup jauh. Dewa dan Acong mau menjalani kegiatan yang agak berbahaya itu sekalian mencari kayu bakar untuk menghangatkan tubuh mereka nanti malam.
***
Dewa dan Acong mulai melangkah ke dalam hutan. Mereka berdua kesal dengan cara kepemimpinan Windu. Namun tak bisa mereka pungkiri kalu pada kenyataannya memang Windu yang menjadi ketua regu mereka.
Dewa dan Acong mengumpulkan ranting-ranting pohon yang sudah kering. Setelah jumlahnya lumayan banyak, mereka mengikat kayu bakar itu menggunakan akar-akar atau serat pohon yang menjuntai. Setelah dirasa cukup, mereka membawa kayu bakar tersebut menuju sungai.
Perjalanan menuju sungai lumayan jauh dari tempat mereka menginap. Hari yang semakin petang membuat Dewa dan Acong mempercepat langkah mereka. Dua ikat kayu bakar mereka pikul di atas pundak. Perjalanan turun dari atas bukit menuju sungai, bukan perkara mudah. Lantaran beban yang mereka bawa cukup berat. Di tambah lagi nanti mereka akan membawa air dari sungai.
***
Bersambung ...