23. Menghilang

1365 Words

Dewa yang terhempas hanya bisa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Luka yang tadi belum mengering, kini ditambah lagi tubuh Dewa terhempas karena Bulahot mengibaskan tubuhnya. Sorot mata Bulahot yang berpijar bagai kilatan api, sangat tajam menatap Dewa yang tidak bisa berpindah dari sana. Kilauan bulan purnama merah darah, perlahan kembali berwarna jingga merona. Sorot mata Bulahot beralih menatap bulan yang mulai bergeser dari posisinya. Dewa melihat Bulahot itu bersedih. Mata yang berpijar bagai kilatan api, kini mulai meredup. Lalu Bulahot itu kembali menatap Dewa, dengan tatapan penuh makna. “Entah apa yang dirasakan Bulahot itu ... sepertinya ia bersedih ... tap—tapi aku benar-benar terluka, bahkan menggerakkan tubuh saja rasanya sulit.. ap—apakah Bulahot itu akan menerkamku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD