SUAMIKU TERNYATA SULTAN ( PART 6 )

395 Words
"Siapa pria itu, Puspa?" "Kok bisa dia ngasih set perhiasan mahal itu" 'Mulai deh kepo lagi' "Coba sini aku lihat" Ujar Wulan ia langsung mengambil paksa perhiasan itu, dari tanganku. Aku hanya menghela napas panjang, saat melihatnya begitu norak mencoba dan memamerkan perhiasan yang bukan miliknya. "Bagus ga, Bu?"Tanya Wulan pada ibuya. "Cocok banget itu mah di kamu, Nak"Ucap Bi Ning semangat. "Harusnya perhiasan ini itu buat aku ya, Bu. Soalnya bakal ga cocok kalo si Puspa yang memakainya"Ucap Wulan. Aku langsung menatap horor pada wanita itu. "Tapi pria itu kasih sama aku, bukan sama kamu. Kalau kamu mau beli aja sendiri" Ucapku lalu mengambil perhiasan itu. "E-ehhh .. Ehh.. Berikan padaku, kamu itu tidak pantas memilikinya!" Kekeh Wulan. "Puspa, cepat berikan perhiasan itu pada putriku!"Sentak Bibi. "Kalian ga malu apa? Mengambil barang yang bukan milik kalian? "Tanyaku. Wajah Wulan dan Bi Ningsih memerah. Mereka tak sadar bahwa sedari tadi mereka terus di perhatikan oleh para ibu-ibu. "Bu Ning, jadi selama ini--" "Tidak! Saya hanya memberitahunya saja" Sangkal Bibi. "Lagian dulu Puspa bilang ga suka sama perhiasan. Ya dari pada ga ke pake lebih baik untukku kan?"Timpal Wulan. 'Kapan aku pernah bilang begitu?' Batinku. "Oh begitu, saya kira memang Bi Ning dan Wulan, ini suka meminta barang yang bukan hak kalian" Ucap Ibu-ibu lainnya. Huh memang mereka suka meminta barangku, dengan mengklaim bahwa barang itu tak cocok untukku. Dulu saat Aku dan Wulan kecil, kami sering bermain. Waktu itu aku mambawa banyak sekali mainan, namun semua di ambil oleh Wulan dan Bibi, mereka membawa semua mainan itu ke rumahnya. Pernah juga saat ibu membelikanku gaun pesta yang indah, saat aku menunjukkan pada Wulan, ia langsung menangis, lalu Bibi merebut dan mengambil gaun pestaku untuk Wulan. Saat itu ada anak tetangga kami yang berulang tahun. Namun aku di ejek oleh teman-temannya ku saat tak memakai gaun pesta kesana. Sementara Wulan ia di puji oleh teman-temannya, karena memakai gaun pestaku yang indah. Sebaiknya aku masuk ke dalam rumahku. Kurasa sudah habis tenagaku hari ini meladeni mereka. Ku langkahkan kaki ini masuk ke dalam rumah. Kulihat Bang Adnan seperti tengah menelpon seseorang. Tapi perhatikan ku teralih pada ponselnya, dengan logo apel yang bekas gigitan orang di sana. 'Melihat penampilannya. Ku rasa mana mungkin dia mampu membeli barang semahal itu, aku pasti salah lihat. Aku menggeleng kepalaku cepat. Aku kembali melihatnya, namun ponsel itu tetap sama. 'Siapa sebenarnya dia?'Batinku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD