"Puspa! Sebaiknya kamu bawa suamimu itu ke rumah sakit jiwa."
" Ya Allah, benar-benar tega, Bu Ranti ini. Menjodohkan anaknya sama lelaki rupanya seperti itu! Sudah mukanya @ncur, miskin, otaknya juga g£ser." Nyinyir mereka.
"Ibu-ibu di sini itu mau belanja atau mau bergosip ria. Kalau mau ghibah cari tempat yang lain bukan di sini" Tegurku.
"Belagu banget sih kamu, Puspa."
"Lagian gimana mau belanja?. Melihat wajah suamimu membuat kami jijik dan malas berbelanja di sini"
Mendengar itu Bang Adnan yang di sampingku langsung berdiri, dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku hanya menatap punggung belakangnya. Dengan tatapan iba, kenapa hatiku marasa sakit saat suamiku terhina seperti ini. Aku memang tidak mencintai, tapi ia adalah suamiku, pakaianku, aku harus menjaga martabatnya.
"Nah begitu dong. Kami juga jadi nyaman berbelanja tanpa harus melihat wajah jel3k suamimu itu, bukan ibu-ibu?"
"Iya, kalo bisa jangan sampai dia berani keluar rumah."
"Nanti kamu bisa malu sendiri, kalau orang-orang tahu dia suamimu, Puspa"
"Emang semua orang sudah tahu, Bu. Kalau suami Puspa itu ya si buruk rup@." Ejek Bibi.
Bibi dan Wulan sama sekali tak beranjak pergi. Mereka masih betah di sini untuk menghina, dan mengejek aku dan suamiku, padahal kedua wanita ini sama sekali tak ada berbelanja.
"Sudah cukup! Jika kalian mau berbelanja silahkan, kalo tidak pergi saja ke tempat lain" Kesalku.
"Dih! Ga usah ngambek gitu, demi belain suami g3mbelnya"ujar Bibi "Mau dia seburuk apapun. Dia tetap suamiku yang wajib aku bela, Bi."
"Ya, sudah nih pesanan saya. Cepetan bungkusin" Ucap ibu-ibu itu.
Mereka menyerahkan selembar kertas belanjaanya padaku. Aku langsung menerima, dan membungkus pesanan mereka dengan cepat.
"Ini pesanannya" Ujarku sambil menyerahkan plastik hitam satu-persatu pesanan mereka. "Besok kalau kami mau belanja. Bilang sama suamimu jangan keluar"
"Iya apalagi sampai berjaga di warung. Kamu harus melarangnya, karena kami mual dan jijik melihat wajah dia"
"Makanya kamu nurut sama Bibi. jangan sama ibu kamu, nanti kaya gini nih. Kamu jadi nyesel sendirikan"Ujat Bibi penuh percaya diri.
"Kalau sudah belanjanya. Silahkan pergi!" Usirku, aku benar-benar tak tahan mendengar ocehan mereka. segera wajah mereka nampak kesal.
"Maaf. Apakah ini benar rumahnya Bu Ranti?" Tanya pria berjas itu. Membuat semua wajah ibu-ibu bertanya-tanya.
"Benar, Pak."Jawabku
"Siapa pria itu?" Bisik ibu-ibu.
"Paling orang depkolektor, yang mau nagih hutang" Bibi tertawa mengejek. Aku tak mengubris mereka. Ku alihkan wajahku lagi pada pria tadi. "Apakah benar anda yang bernama Pupsari?"Tanyanya lagi.
"Benar, Pak. Saya Puspasari, ada apa ya? Tanyaku kali ini.
"Ini ada kiriman dari atasan saya untuk anda"Ujar Pria itu, lalu menyerahkan sekotak beludru merah.
Aku perlahan membuka isinya. Aku dan para ibu-ibu begitu terkejut, saat melihat satu set perhiasan cantik di dalamnya.
"Maaf sepertinya bapak salah orang" Ujarku. Sambil mengembalikan nya lagi.
Aku kekeh berusaha untuk menolak hadiahnya, namun pria itu memaksa aku untuk menerimnya.
"Betul, ini adalah hadiah pernikahan anda yang di berikan oleh atasan saya, jadi mohon di terima"Ujar Pria itu. Lalu melangkah pergi, dengan kotak merah yang masih di tangan ini.
Aku melonggo. Tak percaya ada orang yang mengirimkan hadiah pernikahan seperti ini.
Siapa sebenarnya pria tadi? Pakaian juga rapi seperti orang kantoran. Aneh sekali aku harus menyelidikinya.