SUAMIKU TERNYATA SULTAN ( PART 4 )

594 Words
"Wahhh... Wahhhh. Jadi ini suaminya si Puspa!" Jerit Wulan dari kejauhan. 'ngapain lagi nih anak kesini?'Tanyaku dalam hati. "Heran, kok si Puspa mau-maunya di perawanin sama si buruk rupa"Seru Wulan. "Beneran semalam belah duren, Pus." Tanya ibu-ibu tetangga rumahku. "Gimana rasanya? Kuat berapa ronde tuh suami jelekmu" Wajahku langsung merona, mengingat apa yang terjadi tadi semalam. 'Tapi. Ni ibu-ibu beneran nanya kaya gitu?' Aku menghela napas dalam. Lalu menatap satu-persatu wajah mereka. "Kalian nanya? Kalian bertanya-tanya bagaimana rasanya? Itu tanya saja pada rumput-rumput yang bergoyang" Ucapku menirukan slogan Arif cepmek yang tangah viral itu, sambil menunjuk rumput yang ada di halaman rumahku. Heran aku sama ibu-ibu di kampung ini, kapan bisa berhenti julid dengan kehidupan orang lain? Bukan orang lain tapi keluargaku, setiap hari mereka berbelanja hanya untuk bergibah, kupingku selalu panas mendengar nyinyiran, dan julidan para tetangga yang selalu mengomentari kehidupan pribadiku. "Halah bilang saja. Si buruk rupa itu payah, kan?."Ejek Wulan. Membuat semua orang menertawakanku dan Bang Adnan. Aku yang tak terima atas hinaan sepupuku ingin langsung membalasnya, namun di hentikan oleh Bang Adnan. "Biarkan saja, Dek" "Nyesel gak, Pus? Sudah menikah dengan lelaki gemb*l itu?" Kata Wulan. "Makanya cari suami itu yang benar. Ini juga ibunya, sudah ga waras, sudah mau saya jodohkan sama Jurangan Nasir, eh besoknya main di jodohkan saja anaknya, sama orang asing."Herdik Bu Ningsih. "Sengaja mau bikin anaknya sensara. Masa ya ada seorang ibu yang menjodohkan anaknya sama p e n g e m i s pasar" Ujar Ibu-ibu lain "Padahal ya, Bu. Kalau si Puspa mau di nikahin sama Jurangan Nasir. Dia bakalan di bikinin rumah gedong, uang bulanan gepokan. Lah ini malah milih nikah sama p e m u l u n g" 'Ya Allah. banyak sekali sebutan panggilan suamiku. tadi G e m b e l, P3ng3mis, sekarang P e m u l u n g, sungguh dahsyat sekali mulut wanita' "Kalau begitu, silahkan jodohkan saja putri Bibi itu. Pada Jurangan Nasir! " Tunjuk ku pada Wulan. Seketika wajah kedua orang itu memerah, dan menatapku tajam. Aku balas menatap berani wajah Bi Ningsih. Orang seperti saudara ibuku ini, mana mungkin dia senang, jika aku dan ibu bahagia. Mereka ingin menjodohkanku agar bisa memperalatku untuk memeras harta Jurangan Nasir. Aku tahu rencana mereka, ingin membuatku menderita demi keuntungan mereka sendiri. Mereka benar-benar licik. "Huh memang anakku tidak laku apa? Wulan, putriku itu tidak perlu di jodohkan dengan siapapun. Sudah banyak pria yang sekarang mengejar-ngejar dia. Bukan seperti kamu, kalau tidak di jodohkan mana l@ku-laku, kamu sampai perawan tua"Ujar Bi Ningsih bangga. Cihhhh! Padahal para lelaki itu mengejar Wulan, karena sekedar menginginkan tubuhnya. Saat SMA dulu aku sering mendengar bahwa setiap mantan pacarnya, pernah melakukan hubungan intim pada Wulan. Wanita itu begitu terkenal di kalangan lelaki, makanya sekarang para lelaki itu ingin mendapatkannya, hanya untuk bisa mencicipi tubuh Wulan. 'Kasihan Bibi tak tahu tentang kebusukan anaknya' Batinku "Benar, Bu. Nih coba lihat calon suamiku, beda jauh banget bukan dengan suaminya si Puspa itu. Sudah tampan, berkulit putih bersih, dengan tubuh gagah, ia juga sudah mapan dan kaya raya. Bukan pria gemb3l yang tak jelas asal usulnya" Ujarnya. Sambil menujukan foto di dalam ponselnya pada semua orang. Saat Bang Adnan ikut melihatnya. Ia malah tertawa terbahak-bahak, aku bingung apa ada yang lucu dengan foto itu. Ku lihat tidak ada. Pria ini sungguh aneh, kenapa ia tertawa, saat melihat foto pria tampan berjas, yang ada di dalam ponsel Wulan. "Hei! berani g3landangan seperti menertawakan pacarku" Sentak Wulan. "Kayanya ga waras itu suaminya, Puspa" Herdik ibu-ibu lain. "Aduh kumplit banget sih penderitaan, Puspa" 'Bang! Kenapa kamu memalukan diri sendiri'Batin
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD