"Ciee... Ada pengantin barunya si buruk rupa!"
"Mana suami jelekmu? Panggil dong, aku penasaran seburuk apasih wajah suamimu itu" Seru Wulan~Anak dari Uwa Rosid dan Bi Ningsih.
"Eh, Puspa! Itu rambut pagi-pagi sudah basah, memang semalam habis belah duren, Ya?" Ucap Bi Ningsih.
'Hadeh Ibu dan anak, pagi-pagi sudah berkokok.
"Gak jijik apa sama mukanya? Terus itu tubuh suamimu ga korengan, kan?" Tanyanya lagi.
Aku sengaja membasahi rambut hari ini. Karena tak mau ibu curiga jika pernikahan kami memang tidak baik.
"Bu, emang suami si Puspa kaya gimana sih?"
"Namanya Adnan. Wajahnya jelek, kulit nya item dakian, kaya pant*t panci, tambah di pipinya ada tompel segede t*i cicak."Jelas Bi Ningsih.
"Issss.. mau gitu kamu di perawanin sama tuh cowok, Pus. Ga akan sudi! Lebih baik ku racuni dia!" Ucap Wulan dengan wajah mengerigidik jijik.
"Ya mau lah. Si Puspa kan ga beda jauh jelek, sama suaminya" Ucap Bi Ningsih di sahut tawa oleh anaknya.
Aku memutar bola mata malas. Membuka warung sembako sepagi ini, bukanya dapat pelanggan eh malah dapat hinaan.
Dan mereka memang selalu rutin datang sepagi ini, karena tak mau sampai ada orang lain tahu, bahwa mereka selalu mengambil barang sembako di warungku.
"Pus, Bibi mau ambil itu minyak 2 liter, beras 5 liter, sama telur sekilo" Pinta Bi Ningsih.
Aku langsung membungkus yang di pinta Bibi. "Uangnya dulu" Ucapku Saat aku akan menyerahkannya.
"Apa-apaan sih kamu! Sama saudara sendiri harus bayar" Sewot Bi Ningsih
"Ya haruslah! Kan aku jualan ini pake modal, pake uang bukan pake daun, jadi harus di bayar biar uangnya muter" Ucapku.
"Halah cuma jualan warung sembako kecil kaya gini aja, gayanya selangit" Bela Wulan untuk ibunya.
"Wajarlah! Dari pada kalian udah minta, gayanya songong banget. Dasar ga tahu diri"
"Apa kamu bilang!" Sewot Wulan, tubuhnya sampai maju ke depan. "Jangan berbelit-belit, cepat sinikan belanja, Saya." Pinta Bi Ningsih ngotot.
"Puspa, siapa di depan? pagi-pagi sudah ribut-ribut?"Tanya Ranti yang keluar karena mendengar kegaduhan di warung rumahnya.
"Eh Ranti! Ajarin sopan santun tuh anakmu, sama orang tua kok kurang ajar banget" "Memangnya Puspa kurang ajar bagaimana, Ning?" Tanya Ibuku.
"Dia ga mau ngasih Itu belanjaan saya, eh malah nyuruh saya bayar. Aku ini kan Bibinya, masa sama saudara sendiri harus bayar."Ujar Bi Ningsih dengan percaya diri.
"Ya memang harus bayarkan, Ning?" Tanya balik ibuku.
"Kamu ini sama saja sama anak mu. Sama-sama ga punya o t a k, wong sama saudara sendiri perhitungan"Kesal Bi Ningsih.
"Dasar keluarga pelit bin medit" Seru Wulan.
Gadis ini, mulutnya memang sebelas dua belas dengan ibunya. Sama-sama pedes tingkat dewa.
"Kasih ajalah, Pus. Mungkin mereka ga ada uang, makannya ga sanggup bayar" Ujar Ibuku melirik Bi Ning lalu pergi begitu saja.
Aku hanya tersenyum, melihat wajah memerah kedua wanita itu, ibu memang bisa sekali membalas mulut Bi Ning, dengan cara yang elegan.
"Nihhh.. aku kasih, masih butuhkan?"Ujarku santai.
Tangan Wulan langsung merebut plastik hitam, yang tadi ku pegang. "Ayo, Bu. Kita pulang!" Ajak Wulan dengan wajah misuh-misuh, Aku tersenyum puas.
"Makanya kalo masih butuh sembako gratisan, jangan suka menghina orang. Susah sendirikan kalo kalian ga bisa makan!" Tekanku.
"Dasar sombong kamu, Puspa. Lihat saja"