"Pasti tubuh suaminya si Puspa, bakalan nga jauh beda sama mukanya"Ucap Bi Ningsih, "Benar, paling tubuhnya penuh dengan borok sama kutil" Timpal Bu Siti.
"Biarin, asal ga peyot aja kaya muka ibu"Ucapku berani.
Wajah mereka langsung memerah, aku hanya tersenyum." PUSPA DI ADA LAWAN" "Sabar ya, Dek."
"Mau nyaingin L3sti B3ler. Panggilannya Abang dedek, cihh nga pantes banget tahu!" Aku menghela nafas berat, rasanya muak terus meladenin orang-orang seperti ini. "Bang. Kita masuk ajalah! Jangan dengerin mulut comb3ran mereka" Ucapku.
Mereka semakin bersungut-sungut, menghina dan mengejekku. tak ku gubris lagi. aku berlalu meninggalkan mereka, dan menarik tangan Bang Adnan. namun ia malah menatapku, dengan binar kekaguman di matanya. Aduh aku kok jadi salting di tatap kaya gitu, padahal wajahnya tidak tampan tapi mampu membuatku, dag-dig-dug di buat nya.
"Kamu jangan di dengerin ya, Omongan mereka." Ucapku Sambil meneliti wajahnya. Andai tak terhalang dengan kulit yang hitam, dan bertompel di wajahnya, dia pasti sangat tampan. dengan wajah oval, alis tebal, bibirnya sedikit tebal namun terlihat seksi, dan matanya biru yang tampak indah. Tubuh tegap di sertai otot-otot di lenganya. hanya saja kekurangan ia memiliki kulit hitam dan bertompel.
"Iya. " Sejauh ini aku mengenal Mas Adnan. Ia orangnya begitu pendiam dan irit dalam berbicara.
"Neng kamar kalian di depan, Ya. Kamar yang ini sempit kalo buat dua orang." Ujar Ibu Ranti. Ia tersenyum bahagia melihat kedua pengantin baru itu.
"Iya, Bu"
Kami pun berjalan ke kamar yang di tunjukan oleh ibu. Di sana rasa canggung langsung menghampiri perasaanku, dua orang asing yang terikat oleh pernikahan berada di dalam satu kamar.
"Emm, aku mau ganti baju dulu" Ucapku, dan semoga saja ia peka.
Aku dan Bang Adnan sudah sepakat jika di hadapan orang lain, panggil kami akan berubah, menjadi Adek atau Abang. Tapi jika sedang berdua saja. Ku rasa kami akan memanggil dengan aku dan kamu, karena tak mau membuat ibu curiga.
"Ya ganti baju aja" Jawabnya santai.
"Maksudnya kamu bisa keluar dulu tidak"
"Tidak!" Aku langsung membulatkan mataku" Maksudnya kamu ganti baju aja. Saya mau mandi, jadi ga perlu keluar"
Aku menghela napas lega mendengar nya. Setelah itu Bang Adnan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar ini. ya kamar ini memang luas dari kamarku yang dulu, di dalam sini juga sudah komplit dengan kamar mandinya. dulu ini adalah kamar ibu dan almarhum bapak, namun karena aku sudah menikah, maka ibu menyuruhku untuk pindah kesini. sambil melepaskan asesoris yang berada di kepalaku, aku terus memikirkan bagaimana nasib pernikahanku ini, tidak ada cinta di antara kami. apa aku harus mulai belajar mencintai Bang Adnan, yang sekarang sudah menjadi suamiku. Sepertinya itu akan sulit bagiku, mengingat wajah yang ahh, Puspa walaupun bagaimana pun dia adalah suamimu'
Lamunanku buyar saat Bang Adnan keluar dari kamar mandi, dengan hanya melilitkan handuk kecilnya di pinggang.
"Arhggggggggg!"
Aku berteriak, bukan karena melihat hantu. Tapi melihat pria yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, tubuh berkulit belang seperti Z3bra.
'Kenapa ibu menjodohkanku dengan silum@n Z3bra. Kulit wajahnya hitam tapi tubuhnya putih dan berotot, semoga ia tak meminta haknya' Batinku aku bergidik ngeri saat membayangkan nya.
"Puspa! Ada apa nak? Pus kamu baik-baik saja kan" Teriak Ranti ibu Puspa.
"Tidak ada apa-apa, Bu" Lirihku . Aku lemas dan hanya bisa pasrah menerima pernikahan ini.
'Ibu. Kenapa ibu menghukum anakmu dengan cara seperti ini? Ibu bilang gapapa jelek asal hatinya baik, tapi ga belang kaya gini juga' Batinku.
"Kaget ya melihatku?"Tanyanya. "E-engak"
"Masa? Biasanya orang yang melihatku, akan menganggapku sebagai silum@n kuda lumping" Ucapnya sambil tersenyum. aku begitu gugup tapi juga takut saat ini. "Saya mengantuk , saya tidur duluan ya," Ucapku. Aku memilih untuk tidur saja, dari pada terus membayangkan hal yang tidak-tidak. Kuharap dia tak melakukan apapun padaku.
Aku langsung merebahkan diri di atas kasur, menutup seluruh tubuh dengan selimut tebal, namun kepalaku terus mengingat bentuk tubuh Bang Adnan, yang sekarang sah menjadi suamiku. Seperti ada yang aneh dengan dirinya, mengingat wajah dan tubuhnya benar-benar tak singkron, begitu berbeda antara mukanya yang hitam tetapi kulit tubuhnya yang putih dengan otot-otot yang begitu sempurna, 'Apa benar dia silum@n kuda lumping?' Batinku.