Lima hari berlalu tanpa terasa. Qiandra dan Nathan, menciptakan semacam keselarasan bersama dalam diam. Hubungan mereka belum menembus kedekatan layaknya suami istri, tapi setidaknya tidak lagi ada permusuhan dan perlawanan kuat dari Qiandra. Dengan kata lain, mereka seperti dua orang yang berada dalam kawasan bersama dengan perjanjian damai satu sama lain.
Di pagi keenam, Qiandra telah bersiap untuk berantkat kerja ke tempat makan QnQ. Qiandra mengenakaj kaos biru gelap dengan garis-garis merah, dan logo kecil yang menandakan tempatnya bekerja di bagian saku. Rambut panjangnya dibentuk sanggul, dan wajah lembutnya dipioles ringan untuk kenyamanan.
"Ayo berangkat! Gue anterin!" Nathan mengenakan setelan linen berwarna gelap, dengan dasi merah yang tampak kontras dan menawan.
Bukan hanya Qiandra yang mulai bekerja. Nathan juga mengambil langkah serupa. Selama dia di rumah akhir-akhir ini, Nathan selalu bekerja jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi. Beberapa kali Qiandra mendapati laki-laki itu melakukan rapat online melalui aplikasi elektronik. Kini, Nathan bisa beraktifitas normal kembali, memudahkan kinerjanya agar lebih baik lagi. Qiandra sendiri tak terlalu paham tentang pekerjaan Nathan. Yang dia tahu, salah satu usaha yang digembar-gemborkan tentang keluarga Rajendra di media adalah usaha real estatenya yang berkembang pesat. Ada juga cabang usaha-usaha lain dan investasi dalam bidang perbankan dan teknologi yang sekali dua kali pernah Qiandra baca di media secara singkat.
Tampaknya Nathan dipercaya ayahnya untuk menangani urusan real estate, meskipun Qiandra sendiri tak tahu apa posisi tepatnya Nathan dalam hal itu. Bukan watak Qiandra mengorek-orek informasi. Dia tak berniat mencari informasi tentang Nathan lebih jauh lagi. Selama pernikahan mereka bisa berjalan normal dan menghargai satu sama lain, itu sudah lebih dari cukup. Hal-hal di luar itu, Qiandra tak terlalu ingin ikut campur.
"Anterin?" Qiandra terlihat linglung.
"Pak Sodiq dua hari ini lagi dipinjem Mama buat pergi ke Lombok urusan bisnis. Sekarang lagi nggak ada sopir, sementara tempat kerja loe lumayan jauh. Lebih baik gue anterin sebelum hari semakin siang!" Nathan menarik lengannya, memeriksa waktu di arloji hitam miliknya. Masih pagi, cukup untuk mengantarkan Qiandra dan meneruskan perjalan lagi ke kantor Nathan yang kebetulan jaraknya searah.
"Lagian kita juga searah. Ayo buruan!" Nathan menepuk lengan Qiandra, kemudian meluncur pergi dengan lancar dengan kursi rodanya ke luar rumah. Qiandra mengikuti di belakang. Kebetulan saat mereka berdua berada di carpot, Rian, si gembul besar yang tubuhnya masih sesubur Indonesia sebelum merdeka, keluar dari rumah dengan langkah-langkah cepat.
"Udah mau berangkat? Gue ikut, ya!" Rian bekerja di kantor Nathan sebagai admin pengadaan barang. Dengan kata lain, dia bawahan Nathan yang telah mengabdi satu setengah tahun yang lalu, persisnya sejak dia lulua kuliah. Sering kali Rian berangkat bersama Nathan. Toh dia pikir itu searah.
"Hai, Kak! Mulai kerja juga? Aduh kasian, pengantin baru udah mulai pada kerja di hari kelima pernikahan. Kenapa nggak ambil liburan dulu? Bali, kek! Papua, Kek. Ato ke mana, gitu. Singapore lagi ada promo paket perjalanan murah. Tertarik? Ini perjalanan sepuluh hari dengan akomodasi yang oke banget, bermalam di hotel empat. Kalau minat, nanti gue kasih brosurnya? Atau mau coba cari info ke Jepang? Liburan ke Tokyo Sky Tree, Gunung Fuji, Istana Himeji, atau ke Disneyland and Disnaysea?"
Melihat Qiandra yang terdiam, Rian langsung menambahkan beberapa opsi lain yang menurutnya menarik.
"Kalau loe mau ke Eropa, juga bisa. Venesia? Di mana ada kanal-kanal yang romantis? Atau Mesir, mau jalan-jalan di sisi sungai Nil, di bawah rembulan malam? Loe tertarik bulan madu ke mana? Gue cariin akomodasinya yang bagus."
Daripada staff pengadaan barang, Rian lebih mirip marketing yang jobnya promo produk setiap kali dia membuka mulutnya. Qindra terpana oleh kecepatan Rian dalam membuka mulut dan menawarkan satu demi satu produk yang ia harap menarik lawan bicaranya. Jujur saja, Qiandra tak terbiasa menghadapi marketer seagresif ini, meskipun dia sendiri sebenarnya juga marketing produk yang ia jalankan sebagai reseller.
Langkah Rian terlalu bar-bar.
"Cukup?" Nathan mengetukkan jari-jarinya di ujung sandaran kursi roda yang terbuat dari besi yang dibungkus dengan semacam karet khusus dan terasa sedikit lembut.
"Hei, gue hanya menawari istri loe beberapa opsi yang siapa tau dia tertarik. Jangan terlalu kaku, oke? Orang yang terlalu kaku dan mudah marah akan cepet tua!" Di antara semua orang yang dekat dengan Nathan, Rian termasuk salah satu orang yang bisa berbincang bebas, tidak terlalu dibatasi oleh d******i Nathan yang biasanya menekan pihak lawan bicara dan membuat banyak orang lain segan.
"Bantu gue naik ke mobil!" Nathan tak lagi memperhatikan ocehan sepupunya. Dengan sigap, Rian membuka pintu mobil matic, dan sedikit ragu-ragu saat akan menempatkan Rian di posisi pengemudi.
"Loe yakin mau nyetir? Atau gue aja yang nyetir?" tawar Rian, kali ini terdengar tulus, tidak seperti caranya menawarkan dagangan.
"Mobil ini dimodif khusus. Gas dan remnya udah dipindah di bagian atas, sehingga bisa gue jangakau dengan tangan. Loe yang akan bingung kalau nyetir mobil ini!" Nathan menunjuk ke kemudi, mengisyaratkan agar Rian terus membimbingnya ke tempar tersebut.
Semenjak kecelakaan Nathan, tidak butuh lama bagi Nathan untuk bangkit dan kembali berakrifitas normal. Mobil yang tadinya merupakan mobil sport keluaran terbatas, diganti Mama dengan mobil matic yang mudah dikendarai dengan modifikasi di beberapa bagian sehingga Nathan bisa menggunakannya sendiri jika mau. Pak Shodiq, sang sopir, juga ikut belajar untuk menyesuaikan beberapa perubahan yang ada.
"Hati-hati, ya!" Rian menopang sebagian besar bobot Nathan, menariknya pelan-pelan dari kursi roda ke dalam mobil, dan berhasil setelah hampir satu menit berusaha keras.
"Dalam hal mengemudi, gue lebih percaya diri daripada loe!" Nathan melirik Rian, tersenyum mengolok-olok. Rian yang menjadi objek olok-oloj hanya meringis kecil. Nathan benar. Rian memiliki kebiasaan membentur sesuatu setiap kali dia membawa mobil. Terakhir, dia nyungsep di bak sampag umum dan harus ditolong banyak orang untuk bisa keluar.
"Kak! Udah dipikir baik-baik mau ambil honey moon ke mana? Saran-saran dari gue oke oke semua, lho!" Rian kembali menghadap Qiandra, membuka pintu mobil di belakang, dan memasukkan kursi roda milik Nathan ke dalamnya. Qiandra masuk ke sisi lain, duduk di dalam mobil dan tidak banyak berkomentar.
"Kak Qian! Gimana? Nggak tertarik?" Setelah Rian duduk di sisi Nathan, dia masih menyibukkab dirinya mengganggu Qiandra. Tampaknya wajah orang ini cukup tebal sejauh menyangkut menawarkan sesuatu.
"Nggak. Gue nggak minat bulan madu ke mana-mana."
Qiandra menolak dengan halus, tapi suaranya sedikit tajam.
Bulan madu? Bersama Nathan?
Pernikahan mereka tidak sedalam itu untuk melalui semua hal tersebut.
…