Serangkai bunga sedap malam ditempatkan di bawah jendela ruangan, membiarkan wanginya yang alami menyebar ke segala penjuru, membuat orang-orang yang menghirupnya merasa tenang dan nyaman.
Seorang lelaki dengan kursi roda duduk di sisi meja konter dapur, sibuk membuat lemon tea hangat dengan tangannya yang terampil.
"Aduh, Den. Sudah sudah. Biar bibi aja yang buat minuman!" Bi Um, seorang asisten rumah tangga yang telah mengabdi lama, terbiasa memanggil majikannya ini dengan sebutan "Aden" yang sesungguhnya berasal dari kata "Raden". Jadi meskipun Nathan sudah menikah, alih-alih menyebutnya "Tuan", panggilannya masih tetap saja "Aden".
Namun, berbeda dengan Qiandra. Wanita yang datang ke rumah ini dam langsung menempati sebagai posisi istri Nathan, di depan Bi Um, dianggap sebagai seorang "Nyonya". Jadi, terciptalah panggilan yang ambigu. Bi Um memanggil Qiandra dengan sebutan "Nyonya", dan Nathan dengan sebutan "Den". Nathan yang menyadari ketidaksesuaian panggilan ini tidak terlalu banyak berkomentar. Kebiasaan lama sulit dibuang begitu saja. Lagi pula, dia juga tak terlalu peduli dengan hal-hal sepele.
"Nggak apa-apa, Bi. Nanti lemon tea ini berikan ke Qian, ya. Dia suka kopi, tapi untuk sarapan, perutnya pasti tidak mendukung untuk mengonsumsi kafein. Lebih baik dialihkan ke lemon tea!" Nathan memandang segelas lemon tea hangat hasil karyanya, kedua mata hitamnya terkesan puas.
"Ya, Den." Bi Um mengangguk patuh. Dia sibuk membuat oseng-osenh ati lombok ijo di dapur, membuat ruangan sedang ini dipenuhi aroma masakan yang kuat.
"Semua masakannya pedas, ya, Bi. Jangan lupa! Besok-besok kalau masak dikasih cabai semua."
Qian suka pedas. Nathan ingat ini.
Bi Um sedikit membeku. Dia terlihat tidak nyaman, kemudian mengangguk dengan berat hati. Beberapa saat kemudian, dia menyuarakan pendapatnya.
"Gimana kalau Bibi bikinin satu dua masakan yang nggak pedes? Perut Aden kan sensitif sama masakan pedas!"
"Nggak perlu. Bikin aja pedes semua. Nathan nanti terbiasa, kok!" tolaknya kuat.
Tak berdaya, Bi Um hanya bisa melanjutkan masak dan merenung dalam-dalam di hati.
Qindra itu, tampaknya wanita yang sangat berarti di hati majikannya.
Pertanyaannya adalah, sejauh mana arti itu nantinya berkembang? Bi Um bukan orang bodoh. Dia memahami dengan benar ada percikan ketegangan setiap kali Nathan dan Qiandra bersama dalam satu ruangan. Bukan jenis ketegangan romantis, tapi lebih kepada ketegangan karena keengganan.
Suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Nathan memutar kepalanya, mendapati Qiandra berjalan ke dapur dengan piyama katun bermotif kucing. Rambutnya yang sepanjang pinggang dibiarkan tergerai, seperti tirai sutra lembut yang berayun menawan. Untuk sejenak, pandangan Nathan mengalami stagnasi. Dia seperti lelaku tua yang serakah, meraup semua pandangan indah yang ada di hadapannya, dan memakunya kuat-kuat di dalam ingatan.
"Sudah bangun?" sapa Nathan, suaranya lembut.
"Ya." Hari ini Qiandra bangun satu jam lebih siang daripada biasanya. Tidur di sisi Nathan membuat Qiandra dipenuhi kewaspadaan, sehingga dia baru berhasil tidur dini hari jam dua.
Hasilnya, Qiandra terlambat untuk bangun.
Qiandra mencari cangkir, dan menggeledah beberapa kotak dapur untuk mencari kopi.
"Mau bikin kopi, Nyah?" Bi Um langsung tanggap. Melihat anggukan Qiandra, Bi Um segera menggelengkan kepala. "Lemon tea aja, Nyah. Masih pagi. Kopi nggak baik buat perut. Kopinya siangan aja, ya, kalau Nyoyah udah sarapan." Bi Um meraih lemon tea yang sebelumnya dibuat Nathan, menyerahkannya pada Qiandra dengan senyum tulus.
Melihat gelas tinggi di depannya, Qiandra mengerutkan dahinya, sedikit terkejut.
"Ini buat saya, Bi?"
"Iya. Lemon yang diperas nggak terlalu banyak, jadi nggak apa-apa diminum pagi!" Setidaknya, minuman ini masih lebih baik daripada kopi.
Setelag ragu-ragu sejenak, Qiandra menerima gelas tersebut, dan berjalan ke luar dapur dengan langkah-langkah lambat.
"Sarapan sebentar lagi siap, Nyah. Tunggu aja di ruang tengah." Bi Um menyarankan.
Nathan segera mengikuti Qiandra di belakang, bibirnya melengkung membentuk kurva indah. Bahkan dari belakang, sosok Qiandra mengesankan keindahan.
Mereka berdua berhenti di ruang tengah, menikmati kesibukan sendiri-sendiri. Qiandra melihat acara TV pagi seputar masakan, sementara Nathan mengambil koran mingguan yang terletak di meja, dan membacanya dengan santai.
Tak ada yang bersuara. Hanya harum bunga sedap malam yang mendominasi ruangan, membuat Nathan dan Qiandra terbawa dalam kenyamanan pagi.
Ada keharmonisan dalam diam, suatu keselarasan yang bahkan tercipta tanpa harus berkata-kata.
Nathan menikmati suasana ini. Sesekali dia melirik ke Qiandra, memastikan wanita itu meminum minumannya. Senyumnya semakin lebar saat melihat Qiandra menghabiskan lemon tea yang dia buat. Ada kepuasan tersendiri yang lahir di hati.
Setelah seperempat jam berlalu, Bi Um memanggil mereka semua ke meja makan. Karena hari masih pagi, Bi Um segera beralih ke rumah di sebelah, memasak untuk para sepupu Nathan. Dia sudah terbiasa melayani dua rumah sekaligus. Tenaganya yang masih kuat dan tindakannya yang sigap membuat wanita lima puluh tahun itu dihargai oleh orang-orang yang menggunakan jasanya.
Setelah kepergian Bi Umi, Nathan mendorong beberapa lauk pada Qiandra, membujuk wanita itu untuk makab banyak. Wanita ini masih saja mungil, pinggangnya kecil, tampak rapuh. Seharusnya berat tubuhnya dinaikkan beberapa kilo lagi.
"Makan ini!" Nathan meraih lauk lain, dan menyerahkannya pada Qiandra di atas piring.
"Cukup! Ini terlalu banyak!" Qiandra menyuarakan protes.
"Bukankah ini semua masakan pedas? Sesuai selera loe? Makan yang banyak. Tubuh loe kurus!" komentar Nathan, mendesah panjang saat matanya jatuh pada pinggang Qiandra yang kecil dan rapuh.
Qiandra menelan ludah, melihat satu demi satu masakan yang tersaji di atas meja. Oseng-oseng ati pedas, kacang panjang pedas, dan nila lombok ijo. Qiandra tersenyum puas. Air liurnya diam-diam berproduksi lebih banyak.
"Semua pedas!" Nada suara Qiandra tak bisa menyembunyikan antusiasme.
"Ya. Semua pedas. Suka?" Wajah Nathan melembut, pandangannya menyapu pada ekspresi puas Qiandra di hadapannya.
"Suka." Qiandra mulai menikmati sarapan. Pipinya menggembung, menelan nasi dan lauk dengan suka cita. Kedua matanya yang berbinar tidak bisa menybunyikan rasa senangnya. Nathan ikut menikmati hidangan serupa, senyumnya tidak pernah hilang dari awal hingga akhir.
Sederhana. Melihat senyum wanita itu, Nathan merasa bahagia. Jika masakan pedas mampu menarik binar suka cita dari Qiandra, maka Nathan akan melakukan ini setiap hari. Untuk menyenangkan seseorang, pertama-tama kita harus memuaskan perutnya lebih dulu.
Setelah selesai sarapan, Qiandra duduk kembali di ruang tengah, menikmati wangi aroma bunga sedap malam, dan sibuk menscroll ponselnya untuk melihat beberapa orderan dagangan yang dia terima belakangan ini.
Tak berapa lama kemudian, suara Nathan menginterupsinya.
"Kopi! Satu cangkir dengan tiga sendok gula!"
Pandangan Qiandra teralihkan, menatap cangkir yang Nathan serahkan padanya. Bibir ceri Qiandra melengkung, menatap cairan hitam pekat di depannya dengan tatapan memuja.
"Kopi. Bagus."
Perlahan tapi pasti, Nathan membawa hal-hal favorit yang disukai Qiandra.
…