Nathan berbaring dan bersandar di kepala ranjang, setelah melalui perpindahan yang cukup merepotkan dari kursi roda ke dipan ranjang. Ada laptop di pangkuan, menampilkan grafik penjualan yang sedang dia pelajari.
Orang selalu cenderung mencari ganti atas apa yang hilang. Setelah kaki Nathan tidaj aktif, dia melampiaskan diri dalam pekerjaan, menghabiskan tujuh puluh persen waktunya untuk bekerja, menaklukkan proyek demi proyek, dan hanya menyisihkan tiga puluh persen waktunya untuk diri sendiri.
Jam tidur kurang. Sosialisasi kurang. Kestabilan kurang.
Kini, setelah ia menikah dengan Qiandra, Nathan bermaksud mengurangi sedikit demi sedikit kegilaannya dalam bekerja.
"Sudah malam. Tidurlah, Qian!" Nathan mematikan laptop, meletakkan benda tersebut di meja sisi ranjang, dan beralih menatap Qiandra yang sibuk dengan ponsel di tangan.
Sejak dua tahun lalu, saat banyak orang mulai marak membeli sesuatu secara online dan semuanya banyak menggunakan jasa digital, Qiandra memutuskan untuk merambah dalam jual beli online di beberapa tempat market place terpercaya, dan menjadi reseller tangan pertama.
Usaha sampingannya ini cukup berhasil, mengingat dia hanya perlu mempublish ulang barang dengan harga yang berbeda. Selisihnya nanti menjadi keuntungan Qiandra.
Dari produk pakaian, perawatan wajah, tas branded, hingga serba-serbi kewanitaan seperti sandal, sepatu, jam, dan kacamata. Semua Qiandra pasarkan. Dia memiliki beberapa akun sesuai dengan kelompok barang yang ia pasarkan, dan sejauh ini berjalan dengan baik.
"Ya." Qiandra mengatur ponsel dalam mode pesawat, menyimpannya di tas kecil, dan berjalan mendekat dengan canggung ke sisi Nathan.
Meskipun Nathan telah berinisiatif menempati sebagian ranjang dan membiarkan bagian lainnya kosong, tetap saja keberadaan Nathan terlalu mendominasi, seolah-olah siso ranjang yang Ntahan sisakan menyusut beberapa kali menjadi ukuran lebih kecil dari seharusnya.
Ada keraguan nyata di mata Qiandra. Apakah malam ini dia akan tidur satu ranjang dengan Nathan? Sejauh mana "tidur" ini berlaku? Sejauh apa makna "tidur" ini berkembang nantinya.
Ada dua selimut di atas ranjang, dua bantal biasa, dan satu guling panjang. Mungkin ada baiknya Qiandra mengambil selimut bagiannya dan menyebarkannya di lantai sebagai alternatif. Bukankah lebih aman Qiandra tidur di lantai mengingat tak ada sofa yang mumpuni di kamar ini untuk tidur? Atau bisakah ia menyeret sofa di ruang duduk dan menempatkannya di sini? Ide itu bukan ide yang buruk juga.
Qiandra mulai memikirkan satu demi satu ide yang muncul di kepalanya. Mungkin ekspresi wajahnya mudah dibaca, atau mungkin Nathan adalah pengamat ekspresi yang sangat jeli. Laki-laki itu menghalangi apa yang sedang dipikirkan Qiandra.
"Ini hanya tidur. Tidur dalam arti yang benar-benar tidur dan tidak memiliki konotasi apa pun. Qian, gue bukan binatang yang akan meyerang seseoranh dengan kasar di malam kedua pernikahan. Itu bukan gaya gue. Kita akan melakukan nanti perlahan-lahan, setidaknya setelah psikis loe siap menerima kehadiran gue lebih baik dari ini. Jadi jangan terlalu berpikir panjang saat ini. Tidurlah di sini. Bersikaplah baik!" Nathan menepuk sisi ranjang yang masih kosong, sengaja memberi tempat pada Qiandra.
Nathan bukannya tak memiliki batas. Bahkan meskipun ia ingin menyempurnakan pernikahan, dia butuh kerja sama dari Qiandra, bukan? Pemaksaan dalam hal sensitif seperti malam pertama bukan gaya Nathan. Dia jelas tak tertarik menjadi orang curang sejauh menyangkut mengambil keuntungan fisik. Hasràtnya memang besar dan cenderung di atas standar rata-rata sejak ia mengenal wanita, tetapi pengendaliannya juga berada di atas rata-rata. Kontrolnya cukup kuat untuk membentuk karakter diri yang tangguh.
"Ya." Sadar Nathan telah memberikan janji yang serius, Qiandra tak bermaksud tetap berdebat. Dia beringsut ke atas ranjang, berbaring kaku, dan menyelimuti dirinya dengan selimut seperti kepompong raksasa.
"Loe takut sama gue? Merasa nggak aman?" Sentuhan Qiandra tersa lembut di wajah Qiandra, membuat wanita itu membeku dalam hitungan sepersekian detik.
"Loe bilang … loe ... loe …." Qiandra tergagap, tak tahu lagi harus mengingatkan janji Nathan dengan cara bagaimana. Bukankah baru saja laki-laki itu berkata tak akan memaksakan diri?
"Jangan berlebihan. Ini cuma sentuhan. Apakah loe berpikir sentuhan juga masuk zona terlarang? Apakah mentalitas loe sangat rendah sehingga terganggu oleh sentuhan kecil seperti ini? Hmh?" Bukannya berhenti, Nathan malah semakin berani. Dia mengelus rambut Qiandra yang lembut seperti sutra, menenggelamkan jari-jarinya yang panjang di sana, dan mengacak-acak rambut Qiandra dengan tawa kecil. Tawa laki-laki itu sekilas terdengar seperti bel natal, renyah dan menjanjikan hal-hal baik.
Untuk sejenak, Qiandra terpana, memilih tak bergerak sama sekali. Tatapan mereka saling bersirobok, mengunci pandangan satu sama lain. Menyadari situasi mulai tak normal, Qiandra melemparkan pandangannya ke arah lain, memilih mengamati dinding yang berwarna cream dengan serius.
"Apa melihat dinding lebih baik daripada melihat gue?" Nathan menyadari pelarian diri Qiandra yang tiba-tiba, suaranya terdengar semakin hangat dan penuh oleh humor. Qiandra kembali membeku. Dia memilih tak menanggapi Nathan, beringsut sedikit menjauh, dan menempatkan jarak yang cukup lebar antara dirinya dan Nathan. Segala tentang laki-laki itu bahaya. Qiandra harus pintar dalam mengambil langlah-langkah perlindungan diri. Kewaspadaannya sama sekali tak boleh mengendur.
"Qian … sekali lagi lo bergerak ke kiri, gue yakinkan loe akan jatuh ke lantai yang dingin." Nathan mengingatkan, terdengar kekehan renyahnya yang terhibur oleh kelakuan Nathan.
Wanita ini, ternyata bisa tak masuk akal juga sejauh menyangkut tentang Nathan.
"Hmh. Bisa nggak loe jamin loe nggak akan melanggar wilayah tidur gue sepanjang malam?" Qiandra menoleh ke belakang, mengamati reaksi Nathan dengan serius.
"Nggak akan melanggar wilayah? Apa artinya itu?" Alis Nathan terangkat satu ke atas, bibirnya melengkung di salah satu sisinya, membuat ekspresinya tampak lebih santai dan menawan.
"Ini batas gue! Ini batas loe! Mari kita berjanji untuk menjaga batas wilayah masing-masing!" Qiandra menggambar garis tak kasat mata di antara mereka, menariknya hingga ke sisi paling ujung dari ranjang yang mereka tempati.
"Jadi ada garis tak terlihat yang kita ciptakan di atas ranjang? Bukankah ini sedikit … kekanak-kanakan?" Nathan mengangkat bahunya, senyumnya semakin lebar melihat sikap Qiandra yang mirip remaja berusia belasan tahun.
"Inu bukan kekanak-kanakan. Ini hanya perlindungan dasar di tempat tidur. Rules yang akan selalu kita pakai untuk hari-hari mendatang nanti!" Semakin Qiandra menjelaskan dengan serius, semakin ia terlihat seperti bocah yang sedang membuat perlindungan konyol pada diri sendiri.
Entah kenapa, Nathan menikmati semua ini.
"Apa lagi rulesnya?" Nathan menanggapi dengan santai.
"Nggak akan melakukan kecurangan negatif saat pihak lain sedang tidur!"
"Misalnya?"
"Misalnya memaksakan ... maksud gue melakukan itu … pada saat yang lain sedang tidak sadar!"
"Qian! Berapa kali gue bilang kita akan melakukannya dengan suka rela? Moral gue mungkin dipertanyakan, tapi orinentasi gue sangat normal. Gue nggak suka memaksa orang untuk menjadi milik gue dalam keadaan tidak sadar. Itu berlaku buat loe juga. Jadi, selain loe dengan aktif menyatakan kesediaannya untuk membagi malam pernikahan dengan gue, gue yakinkan nggak akan ada tindakan curang dan serangan nyata yang loe terima dari gue!
"Tapi jika itu atas inisiatif loe, gue nggak akan keberatan! Oke?"
Wajah Qiandra berubah merah merona dalam sekejap mata. Dia berbalik memunggungi Nathan, dalam hati mengutuk keterusterangan laki-laki itu pada setiap penjelasannya yang memalukan. Apakah perlu seterus terang itu?
…