Penolakan

919 Words
"Makan ini!" Nathan menambahkan cumi-cumi di piring Qiandra. Malam ini mereka makan malam bersama, dengan diiringi musik klasik dari sound ruang tengah yang nadanya terdengar hingga ruang makan. Qiandra mengernyitkan dahi menatap cumi goreng yang diberi tepung, kemudian bergidik enggan. Tidak. Makanan laut bukan sesuatu yang ia suka. Jika anti bodi tubuhnya sedang buruk, bahkan akan muncul bentol-bentol di kulitnya sebagai perlawanan diri. Melihat wanita itu enggan makan, Nathan mengambil kembali cumi-cumi itu, meletakkannya di piringnya sendiri. "Nggak suka seafood?" Senyum Nathan merekah, menemukan salah satu ketidaksukaan Qiandra. "Nggak." Qiandra menatap menu di depannya, tampak kecewa. Cumi goreng, rendang sapi, sayur asem, lalapan, dan bakwan udang. "Nggak ada sambal?" Melihat tak ada lauk pedas, Qiandra merasa sayang. Dia sangat suka pedas. Jika tidak ada masakan pedas, setidaknya ada sambal bawang atau sambal terasi sebagai pengganti. "Suka pedas?" Bukannya menjawab, Nathan justru bertanya balik. Qiandra meresponnya dengan anggukan. "Nggak ada. Besok aku suruh Bi Um bikin yang pedas-pedas! Sekarang makan apa yang ada dulu!" Nathan menyiram nasi Qiandra dengan rendang sapi, dan kali ini tidak mendapat penolakan berarti. Suasaja kemudian hening. Hanya ada suara sendok bergesekan dengan piring, menghasilkan bunyi nyaring yang tak kunjung berakhir. "Setelah melihat rumah ini, apakah ada sesuatu yang ingin loe ubah? Furnitur mungkin? Atau ruangan yang nggak sesuai dengan selera loe?" Nathan menatap istrinya dengan lembut, mengangkat topik tentang rumah. Qiandra melirik ke sekelilingnya, menyadari seua furniture dan desain rumah ini sebenarnya sudah sangat baik dan saling melengkapi satu sama lain. Paduan yang apik. Tidak perlu ruang renovasi. Selain itu, ini adalah rumah Nathan, sudah seharusnya ditata dan didesain sesuai dengan seleranya. Untuk apa bertanya pada Qiandra? "Nggak. Semuanya baik-baik saja." Jawaban Qiandra masih datar, tak ada fluktuasi sama sekali, menunjukkan tingkat kerertarikannya pada Nathan masih belum ada perkembangan. Wanita itu layaknya besi. Mau dibentuk dan dimodif seperti apa pun, pasa dasarnya tetap keras dan sulit diarahkan. "Gue akan kasih loe uang bulanan, ini kartu yang bisa loe pegang mulai sekarang. Sandinya satu enam lima dua tiga tiga. Di sini sudah ada saldo dasar. Kalau loe mau belanja atau apa pun, pakai aja. Jika jumlahnya kurang, kontak gue, nanti gue sent tambahan saldo!" Nathan menyodorkan sebuah kartu pada Qiandra, mengamati reaksi wanita itu dengan hati-hati. "Nggak perlu. Nggak ada kebutuhan pokok yang harus gue kejer akhir-akhir ini. Simpan aja kartu ini!" Seperti yang telah diharapkan, Qiandra medorong kembali kartu tersebut di depan Nathan, menolak langsung terus terang. Uang? Bahkan jika Qiandra butuh, dia tak akan lari ke Nathan. Pernikahan ini adalah semacam penebusan dosa dari Qiandra. Qiandra berharap dalam proses ini dia tak perlu kehilangan banyak harga diri dalam menyenangkan Nathan. "Tolong hargai posisi gue!" Nada suara Nathan kali ini terdengar tegas dan tak memberi ruang bagi perdebatan. Harga diri seorang suami adalah melindungi, mengayomi, memberi, menafkahi istri dan anak-anaknya sesuai kemampuan. Kartu ini adalah bukti kerka keras Nathan, pada siapa lagi dia kaan berlaku derwan jika bukan pada istri dan keluarganya sendiri? "Ambil ini. Syukur jika loe mau pakai, nggak bersedia pakai, juga nggak akan gue tuntut. Ini adalah tanggung jawab gue sebagai kepala rumah tangga! "Sebagaimana orang lain, gue juga ingin memberikan hal-hal baik dalam keluarga. Jangan terlalu bersikap keras dan menolak gue, Qian! Bisakah loe pahami ini?" Masih saja ada jarak tak kasat mata di antara mereka. Jarak yang tadinya Nathan pikir akan menyusut seiring waktu, tetapi tampaknya hingga kini beluk ada perubahan apa pun. Mungkin di mata Qiandra, pernikahan mereka tak ubahnya perjanjian bisnia dengan pasal-pasal terkait. Namun, di mata Nathan, pernikahan ini sangat sakral dan berarti. Hal yang sama, memiliki takaran nilai yang berbeda di hati dua orang. "Gue suami loe! Sudah selayaknya memberikan perlindungan dan nafkah real yang harus loe terima!" Tak ingin perdebatan memanjang, Qiandra mengalah dan menyimpan kartu itu di saku celananya. Hari ini Qiandra masih mengambil libur kerja. Dia tak memiliki rencana khusus untuk pergi keluar. Tampaknya, hari ini dia akan menghabiskan di rumah saja. "Loe kerja di warung makan lesehan, kan?" tanya Nathan, mengangkat topik lain. Qiandra mengonfirmasi pertanyaan Nathan dengan anggukan kecil. Pekerjaan ini cukup baik, ditambah lingkungannya yang menyenangkan. Qiandra sangat nyaman di sana. "Kenapa nggak buka warung lesehan aja sendiri? Gue kasih modal?" tawar Nathan, kedua matanya berpijar dengan cahaya kelembutan dan harapan. "Tempatnya bebas loe pilih! Nanti gue bantu survei? Gimana?" Harapan di mata Nathan masih menyala, menatap Qiandra lekat-lekat. "Nathan! Tolong tarik batas di antara kita. Pekerjaan gue, jangan pernah loe campuri urusannya. Gue juga nggak butuh amal loe untuk melakukan apa pun. Gue nggak tertarik membuka usaha atau apa pun itu. Hidup gue sederhana, pekerjaan gue pun nggak terlalu bergengsi, tapi itu adalah apa yang gue suka dari hidup gue sendiri. Jangan pernah mencoba untuk mengendalikan hidup gue!" Marah. Tersinggung. Kesal. Memangnya kenapa jika Qiandra bekerja di warung makan? Adakah pekerjaan seperti ini mengganggu orang lain, terutama Nathan? Mungkin laki-laki itu malu melihat istrinya bekerja kasar dan berniat mendongkrak namanya lewat tawaran halus agar Qiandra bersedia menerima bantuan darinya. "Maaf. Maaf." Nathan menundukkan kepala, menyembunyikan senyum getir dan sorot mata kelalahan. Dia hanya ingin memberikan yang terbaik bagi Qiandra. Semua hal-hal baik dan sangat ingin memanjakan istrinya secara utuh. Tampaknya hal ini selalu disalahpahami oleh Qiandra. Bagi Nathan, ia berusaha menawarkan kebaikan kebaikan. Bagi Qiandra, tawaran itu melukai harga dirinya. Kesalahpahaman yang rancu dan sayangnya, tak musah diuaraikan. "Gue hanya ingin memberikan dukungan dan sumber daya yang mampu gue serahkan sama loe. Jika itu melukai harga diri loe, gue nggak akan maksa lagi. Sudah! Ayo makan!" …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD