Para Sepupu

1112 Words
Qiandra berdiri di balkon lantai atas, mengamati jalanan di bawahnya yang lengang. Pembatas balkon ini menggunakan material kaca, dengan model kantilever yang menggantung pada dinding bangunan. Fakta menjadi istri Nathan, masih sulit Qiandra cerna. Hidup sering kali mengolok-olok kita, menjebak kita dalam situasi yang tak kita mau. Nathan berkata bahwa cepat atau lambat, lelaki itu akan menjadi suaminya secara utuh. Yah. Itu benar. Segalanya akan berjalan ke arah itu. Hanya saja, ada keengganan nyata yang masih Qiandra rasakan di dalam hatinya. Enggan untuk disentuh, enggan untuk dimiliki, enggan untuk dideklarasikan. Dia ingin berdiri dalam gelap, di bawah bayang-bayang, hanya pasif dan menjadi terabaikan. Bisakah? Tampaknya tidak. Pernikahan selalu membuahkan tuntuntan satu demi satu. Seegois apa pun Qiandra, dia tak bisa memasang portal tinggi hanya untuk menahan penghalang antara dirinya dan Nathan. Apa pun dinding yang ia gunakan di antara mereka, ditakdirkan untuk hancur pada akhirnya. "Nyonya … ada sepupu-sepupu Den Nathan yang datang. Mereka ada di bawah!" Bi Um memberikan informasi, menatap punggung nyonya barunya yang tampaknya memiliki sikap menyendiri. Wanita ini dan Nathan kemarin menikah. Tapi situasinya cukup sulit dijelaskan. Tidak ada kedekatan di antara mereka, tidak ada kebersamaan, bahkan ada ketegangan nyata di udara setiap kali dua orang ini berada di dalam ruangan yang sama. Sebagai orang yang telah melayani keluarga Rajendra lama, Bi Um bisa mendeteksi semua keabnormalan ini. "Sepupu-sepupu?" Apakah ada kunjungan semendadak ini bahkan di hari pertama saat Qiandra datang ke rumah Nathan? Qiandra tadinya ingin beristirahat setelah mengalami keletihan resepsi kemarin. Tapi berhubung kamarnya adalah kamar bersama, dia enggan tidur di sana. Qiandra memilih menyendiri di lantai dua, berharap dia menemukan ketenangan. Siapa yang tahu ternyata ada kunjungan sepupu-sepupu? "sepupu-sepupu" yang artinya jelas jamak, menunjukkan lebih dari satu orang. Qiandra tersenyum kecil, turun ke lantai bawah dengan malas. "Rumah mereka di sebelah, jadi nanti mereka pasti akan serinh muncul di rumah ini." Bi Umi menjelaskan. Nathan memiliki empat sepupu yang tinggal di sebelah rumahnya. Tadinya rumah ini dan rumah di sebelahnya adalah aset milik Tante Erin, adik dari Mama Nathan. Berhubung Nathan memiliki hubungan dekat dengan anak-anak Tante Erin, akhirnya satu rumah di cluster ini sengaja ditawarkan pada Nathan, agar Nathan memiliki akses tempat tinggal bersama mereka. Hingga akhirnya, dua rumah ini ditinggali Nathan dan para sepupunya. Karena ikatan kekerabatan, mereka sering datang dan pergi ke rumah satu sama lain tanpa canggung. "Ya." Qiandra merespon datar, tak terlalu tertarik dengan riwayat sepupu Nathan. Dia menuruni tangga dengan kecepatan normal, samar-samar mendengar suara-suara orang berbincang di ruang keluarga. Empat orang laki-laki duduk menempati sofa ruang tengah, sementara Nathan berada di hadapan mereka dengan kursi rodanya. Saat Qiandra datang, semua pandangan beralih padanya. Senyum kaku muncul di bibir Qiandra. Wajah mereka sekilas tak asing, tampaknya kemarin mereka datang ke resepsi pernikahan. Hanya saja, Qiandra tak terlalu memperhatikan tamu stu per satu sehingga ia tak memiliki kedekatan khusus dengan para tamu dan kerabat Nathan. "Hai, Kak Qian!" Seorang lelaki gembul dengan berat badang sekitar seratus lima puluh kilogram menyapa Qiandra, dengan lambaian tangan ringan. Wajah semua laki-laki ini di atas rata-rata, memiliki kontur yang tegas, mata tajam, dan paras menawan, termasuk bahkan yang paling gembul sekali pun. Seandainya saja tubuhnya tidak sebesar ini, Qiandra yakin laki-laki di depannya bisa dikatakan menjadi idaman wanita. "Hai." Qiandra membalas sapaan dengan sopan. "Kami sepupu Nathan, tinggal di sebelah rumah ini. Gue Rian. Ini kakak kembar gue, Luki dan Leslie." Rian menunjuk dua laki-laki paling ujung yang berusia sekitar akhir dua puluhan. Laki-laki yang satunya berperawakan sedang, sedang yang lain berperawakan mungil, cenderung seperti wanita. "Jangan salah, ya. Leslie ini cewek, dia suka bersikap sebagai cowok. Kelainan yang sulit untuk kami sembuhkan!" Rian mengedipkan matanya, bertingkah lucu seolah-olah sedang membagi rahasia penting negara penuh konspirasi. Tatapan Qiandra jatuh pada wanita mungil yang disebut Rian. Penampilan ini memang bisa dikatakan laki-laki. Rambut pendek di bawah telinga, kaos besar yang tidak menampakkan bentuk tubuh sebenarnya, dan sikap semau sendiri yang tercermin dari sorot matanya. Ini … wanita? Cukup unik. "Hai Luki, Leslie!" Qiandra menganggukkan kepala. Luki tampaknya lelaki yang tak mudah dekat dalam bersosialisasi. Dia terlihat dingin, hanya menganggukkan kepalanya acuh tak acuh. Seolah kehadiran Qiandra tidak terlalu berpengaruh pada dirinya. Sementara Leslie tak lebih baik. Dia hanya menanggapi dengan geraman rendah. "Dan ini, yang paling bontot. Namanya Vian. Dia masih sekolah. Dia siswa terkutuk yang menjadi cobaan para guru. Jangan tanya riwayat pelanggaran sekolahnya berapa. Buku kesiswaannya sudah tamat diisi ratusan pelanggaran dari dia." Rian menendang remaja di sisinya, tampak kesal oleh predikat buruk adiknya sendiri. Vian menghindar dengan akurat, dan melirik Rian tak suka. Tampaknya hubungan persaudaraan mereka diwarnai permusuhan ringan khas saudara. "Bisa nggak mulut loe lebih diem?" Vian menatap Rian tak suka, merasa terganggu oleh kalkmat panjang yang Rian katakan. "Loe dan kakak-kakak loe, semua nggak bisa bersosialisasi dengan bener. Kalo nggak ada gue, siapa yang mau bersikap dewasa dan memperkenalkan diri dengan layak?" Rian berdecih kecil. Dia memandang Luki, Leslie, dan Vian penuh cemoohan. Ketiga saudara Rian ini sama-sama memiliki persamaan. Abnormal. Di setiap momen, sering kali mereka mengambil sikap semaunya sendiri. Di antara mereka, hanya Rian yang bisa diandalkan. Setidaknya, kemampuan sosialisasinya bisa dibilang bagus. "Gue cabut dulu!" Vian bangkit berdiri, berjalan keluar dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam salu celana jins. "Loe mau tawuran lagi?!" Rian berteriak, menunjukkan kekesalan. Tak ada jawaban dari Vian. Remaja itu tetap melenggang pergi, tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan langkahnya. "Mau jadi apa generasi muda kalau semua kayak Vian! Kacau negara kita. Kacau!" Rian menggelengkan kepalanya, tak berdaya oleh tingkah adiknya yang slengekan. "Gue pergi. Ada turnamen trading!" Luki bangkit berdiri, menyusul kepergian Vian. "Gue pergi. Ada yoga!" Leslie mengikuti di belakangnya. Rian yang melihat kepergian saudara-saudarinya hanya bisa memandang mereka dengan tak berdaya. Tampaknya ia sudah terbiasa oleh sikap mereka. "Jangan terlalu diambil hati. Kakak dan adik gue semuanya bisa dikatakan abnormal! Kalau di masa depan nanti mereka bilang sesuatu yang buruk, jangan terlalu dipikirkan. Sering kali mulut dan otak mereka nggak singkron!" Rian menjelaskan dengan senyum ramah pada Qiandra. Dari semua sepupu Nathan, Rian orang yang paling mudah membuka diri. "Kak Qian. Kulit loe halus banget, ini pasti hasil perawatan panjang. Kulit seperti ini perlu dijaga dengan baik. Jangan mudah terpapar matahari. Ngomong-ngomong, gue punya produk skin care dan perawatan cream lain yang loe pasti butuhkan. Gimana? Tertarik?" Perpindahan topik yang tiba-tiba ini membuat Qiandra membelalakkan matanya, bingung. "Jangan dengerin Rian. Sebenarnya yang paling abnormal dari sepupu gue adalah Rian. Dia ahli marketing. Semua yang bisa dia jual, bakalan dia jual. Kotoran kucing juga kalau laku pasti dia pasarkan!" Suara Nathan menginterupsi penawaran Rian. Qiandra sekarang paham. Semua sepupu Nathan abnormal. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD