Kediaman Nathan

1026 Words
Matahari pagi menjelang siang menyinari sebuah rumah di kawasan cluster daerah Jakarta Pusat. Qiandra berdiri menatap bangunan minimalis modern yang didominasi warna putih dipadu batu alam berwarna cream, kusen dan pintu berwarna cokelat gelap. Kombinasi warna tersebut memberi kesan natural dan hangat. Rumah ini mengaplikasikan atap miring ke belakang, dan menggunakan materi kaca pada railing balkon. Tak ada taman khusus yang ditonjolkan. Sebagai gantinya, ada tanaman pot berjejer di bagian balkon dan teras rumah sebagai penghijauan. Di sebelah teras, terdapar carport yang cukup untuk menampung satu mobil dan dua sepeda motor. Rumah ini, dibandingkan dengan kediaman utama keluarga Rajendra yang pernah Qiandra datangi, memiliki kesan yang berbeda. Jika kediaman utama keluarga Rajendra luas dan megah, maka kediaman pribadi Nathan terkesan praktis dan simpel. Di sisi kanan dan kirinya, berjejer bangunan serupa. "Masuk!" Nathan yang baru saja selesai turun dari mobil ke kursi roda dengan dibantu sopir, mengundang Qiandra memasuki kediamannya. Hanya ada satu koper sedang yang dibawa Qiandra untuk keperluan pribadi. Meskipun ia tahu akan tinggal di rumah Nathan untuk ke depan, tetapi ia sengaja tidak membawa banyak barang-barang miliknya. Nanti, selalu ada waktu untuk kembali ke rumah. Qiandra dan Nathan check out dari hotel lebih awal dari yang seharusnya. Nathan memutuskan untuk kembali ke rumah demi kenyamanan dan Qiandra memutuskan untuk mengikutinya. "Ini rumah yang sering gue tinggali tiga bulan belakangan. Loe bisa liat-liat dulu. Kalau ada sesuatu yang nggak loe suka, kita bisa merenovasinya. Jika secara keseluruhan bangunan ini nggak sesuai selera loe, kita bisa memilih tempat lain untuk ditinggali." Nathan tersenyum hangat, mengulangi lagi apa yang ia tawarkan sebelumnya. Uang bukanlah sesuatu yang Nathan pikirkan. Selama Qiandra mau, dia bisa memberinya apa pun. Rumah model apa pun yang Qiandra mau, Nathan tak keberatan bersikap boros untuknya. "Ini baik!" Lagi-lagi, respon datar inilah yang Qiandra berikan. Tak ada kehangatan, tak ada keramahan. Dingin, berjarak, dan penuh keengganan. Sebelumnya, ada impian untuk memilih rumah. Arsitektur apa yang ia ingikan, furnitur apa yang akan ia gunakan. Tapi sekarang tidak lagi. Bagi Qiandra, rumah tak ubahnya sebuah bangunan mati yang memiliki nilai guna tertentu. Tanpa nilai emosional. Nathan mengaktifkan daya otomatis di kursi roda, mengotak-atik beberapa tombol, dan mendorong benda itu dengan cepat melewati teras yang menanjak, memasuki ruang utama. Sang sopir memarkirkan mobilnya di bawah carport, mengangguk sopan pada Qiandra, dan tidak lagi mengganggu keberadaan mereka. "Den!" Seorang wanita berusia awal lima puluhan menyambut hangat kepulangan Nathan. Dia menatap ke arah Qiandra, mengamati selama beberapa detik, kemudian mengangguk penuh pemahaman. "Ini, Nyonya?" tanya wanita tersebut, nadanya sangat sopan. Nathan menganggukkan kepala. "Bi Um, ini Qiandra, istri Nathan. Qian, ini Bi Umi, yang sering bantu-bantu ngurusin rumah. Tapi lebih sering Bi Um ini bantu-bantu ngurusin rumah sebelah, tempat tiga sepupu gue tinggal!" Nathan menunjuk ke arah rumah di sebelah kanan mereka. Nathan adalah pribadi yang praktis dan tak memiliki banyak permintaan. Itulah kenapa Bi Um bisa mengurus dua rumah tangga secara bersamaan. Tugas utamanya hanya bersih-bersih. Biasanya untuk masak, Nathan mengandalkan kemampuannya sendiri. Dan untuk mencuci, ada mesin cuci khusus. "Sini Bibi bantu bawa! Nyonya hanya bawa barang ini?" Bi Um menarik koper sedang yang dibawa Qiandra, menuju ke dalam ruangan, langkah-langkahnya cepat dan mantap. "Ya. Hanya itu!" Jawaban Qiandra sedikit terlambat. "Ayo!" Nathan mengawal Qiandra melewati ruang tamu dengan satu set kursi cream, terus ke dalam ruang duduk dengan lukisan mawar besar di dindingnya, kemudian berhenti di depan pintu ruangan berukuran sedang. "Ini kamar utama. Tadinya adalah bagian ruang keluarga, tapi gue merenovasinya menjadi kamar!" Semenjak kaki Nathan lumpuh, dia mengalami kesulitan naik ke lantai atas. Akhirnya Mama menyarankan untuk melakukan renovasi dan membuat kamar di lantai bawah, di tempat di mana mudah dijangkau Nathan dengan kursi rodanya. Nathan membuka handle pintu, memasuki kamar utama rumah mereka. Ruangan ini didominasi warna cream, dengan sentuhan abu-abu di beberapa sisi. Ara ranjang king size dengan seprai polos warna silver, sebuah meja nakas di sisi ranjang, meja rias yang tampaknya masih baru di sudut ruangan, dan kamar mandi di ujung lain. Jendela kamar ini tinggi, dengan gorden rangkap dua yang bisa ditarik manual dari setiap ujungnya. "Ini kamar kita. Ada yang nggak loe suka? Sesuatu yang ingin loe ganti?" Nathan mendekat ke arah Qiandra yang masih berdiri canggung di dekat pintu, tampak enggan memasuki ruangan ini. "Ini … kamar kita? Apakah kita akan tidur dalam satu ruangan dalam waktu sesingkat ini?" Ada rasa shock di kedua manik mata Qiandra. Jujur, dia tidak mengantisipasi Nathan akan membuat langkah nyata sedrastis ini. Tidur dalam ruangan yang sama? Wow. Membayangkan Qiandra akan tidur di atas ranjang di depannya, dengan Nathan di sisinya, di malam hari, ketika hanya ada suara angin malam yang menemani, itu sangat membuat psikisnya tak nyaman. "Bisa nggak gue ambil kamar lain?" Suara Qiandra lirih, seperti cicitam hewan yang terancam oleh bahaya. Tubuh Qiandra tegang, ingin mundur menjauh, tapi juga tak tahu harus mundur ke mana. Tiba-tiba, sentuhan hangat terasa di lengan tangan Qiandra, menggosoknya naik ke atas dan ke bawah, mencoba menenangkan. Qiandra menatap ke bawah, di mana Nathan menyentuh lengannya dengan lembut. Sentuhan ini tidak mengandung maksud apa-apa, tidak mengandung keinginan ambigu. Namun, tetap saja Qiandra merasa tegang. Seolah-olah sentuhan ini menbangkitkan kewaspadaan Qiandra yang tertidur. Dengan cepat, Qiandra mundur dua langkah, menghindari sentuhan Nathan sepenuhnya. Mata Nathan menggelap, menunduk menyembunyikan luka dan rasa sakit. Hanya sentuhan ringan. Dan Qiandra menolaknya kuat. Mau ke mana arah pernikahan ini ke depan? "Kita sekarang suami istri. Terlepas dari apa pun motivasi pernikahan ini, pada akhirnya, kita adalah pasangan sah yang diakui agama dan hukum. Gue nggak akan paksa loe untuk memberikan apa yang belum bisa loe berikan untuk saat ini, sebagai bentuk penyempurnaan pernikahan kita. Tapi mau nggak mau, hal ini akan tetap terjadi di masa depan, Qian. "Meskipun gue lumpuh, tapi gue masih memiliki naluri utuh sebagai seorang laki-laki. Kelumpuhan tidak lantas membuat kemampuan seseorang dalam hal biologis lumpuh juga. "Loe harus beradaptasi dengan gue, Qian. Mungkin nggak nyaman, tapi itu adalah sesuatu yang akhirnya akan loe lakukan juga! Bantu kita, oke? Bantu pernikahan ini berhasil? Bisakah loe setidaknya paham masalah ini? "Cepat atau lambat, gue akan menjadi suami loe secara utuh. Bukan hanya sekadar nama!" …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD