Secangkir Kopi

1040 Words
Matahari mengintip malu-malu di cakrawala, membiarkan sinarnya perlahan-lahan menyemburat di langit pagi. Angin berembus pelan, menyisip ke kisi-kisi jendela, menggerakkan gorden. Kelopak Qiandra bergetar beberapa saat, sebelum akhirnya sepenuhnya terbuka. Dia menatap ke sekelilingnya, linglung untuk sesaat. Ruangan asing. Tempat asing. Bangunan asing. Ingatan perlahan masuk ke dalam kepalanya, membuat Qiandra tahu yang sebenarnya. Ini adalah suite room hotel tempat ia beristirahat dari resepsi. Qiandra bangkit dari ranjang, menggerakkan sendi-sendi tangan dan lehernya, kemudian berjalan ke wastafel untuk membasuh wajah. Kebiasaan lama sulit dihilangkan. Qiandra memiliki kebiasaan bangun pagi, bersamaan dengan saat matahari terbit. Setelah membasuk muka, Qiandra berjalan ke ruangan lain, dan terkejut mendapati Nathan tengah sibuk dengan laptopnya. Lelaki itu duduk di atas sofa merah, keningnya berkerut dalam, terkonsentrasi pada layar di depannya. Tampaknya dia tengah mengerjakan sesuatu yang penting. Hanya saja … sepagi ini? Sangat workaholik. Menyadari ada seseorang yang menatapnya, Nathan mendongakkan kepala, menangkap wajah polos Qiandra yang masih sedikit lembab setelah wajahnya dibasuh oleh air. Untuk sesaat, mata mereka saling bertabrakan, mengunci pandangan masing-masing. Namun, Qiandra segera mengalihkannya dengan cepat. "Bangun?" Suara Nathan hangat dan lembut. Bibirnya membentuk senyum, menyambut kehadiran Qiandra. "Ya." Ada kecanggungan yang sangat kentara dari sikap Qiandra. Dia menyapu pandangannya sekilas ke seluruh ruangan, mengalami dilema. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Kembali lagi ke kamar dan menghindari Nathan? Rasanya seperti kekanak-kanakan. "Duduklah!" Nathan tampaknya memahami dengan baik kecanggungan Qiandra. Dia menunjuk sofa panjang di depannya, menunggu Qiandra menempatinya. Pagi ini Nathan mengenakan pakaian kasual. Kaos panjang tanpa lengan dan celana kain yang nyaman. Tak jauh di sisinya, terletak kursi roda kosong yang dibiarkan begitu saja. "Tidur nyenyak?" tanya Nathan lagi, berbicara dengan Qiandra tanpa mematikan laptop di depannya. Sepertinya Nathan masih berencana melanjutkan pekerjaannya. "Ya." "Mama menyarankan kita mengambil bulan madu ke Itali." "Bulan madu?" Ada ketegangan nyata di mata Qiandra. Pernikahan ini masih terasa tidak nyata bagi Qiandra. Membicarakan bulan madu sama anehnya dengan membicarakan makhluk alien yang menyerang bumi. Ini … bagaimana Qiandra harus menghadapinya? Qiandra merasakan gelisah. Dia mengetuk-ngetukkan ujung kakinya ke lantai, menyalurkan kegelisahannya. Apa pun pemicu pernikahan ini, tetap saja ia sekarang posisinya adalah istri sah Nathan. Aneh rasanya jika ia mengambil pertahanan tak masuk akal seperti perawan. Hanya saja, jujur, alam bawah sadar Qiandra mengalami pergolakan besar setiap kali membayangkan ia harus bersama Nathan, memberikan apa yang pantas diberikan layaknya seorang istri, menerima apa yang pantas diterima oleh seorang istri. "Gimana? Mau diambil?" Nathan kembali mengingatkan posisi Qiandra tentang situasi mereka. Tak bisa menjawab, Qiandra hanya bisa menggigit bibirnya sendiri cukup keras. Bisakah dia bilang tidak? Bisakah dia bilang enggan? "Sepertinya tidak!" Senyum Nathan masih sempurna, tetapi ada cemoohan untuk diri sendiri di matanya. Bulan madu? Tentu saja Qiandra enggan melakukannya. Nathan masih cukup sadar siapa dirinya di depan Qiandra. Dia hanya mencoba menguji reaksi Qiandra saja. Tampaknya respon Qiandra sesuai dengan tebakannya. "Hm." Tak tahu lagi harus berkata apa, Qiandra hanya mengangguk kecil. Ya. Dia belum siap. Diq belum siap dengan ide sejauh itu. "Kita akan kembali ke rumah hari ini!" Tak lagi membahas bulan madu, Nathan mengubah topik lain ke dalam pembicaraan mereka. "Ya." Hanya anggukan kecil yang diterima Nathan sebagai respon. "Rumah seperti apa yang loe mau? Model dan desain seperti apa yang loe ingin?" Fluktuasi emosi di mata Nathan kembali tenang, mencoba menampilkan kehangatan lagi di depan Qiandra. Salah satu kelebihan Nathan adalah uang. Apa pun yang Qiandra mau, apa pun yang Qiandra inginkan, selama Qiandra buka mulut, bukan hal yang mustahil bagi Nathan untuk memenuhinya. "Apa aja." Pernikahan ini tak membawa banyak harapan bagi Qiandra. Tak membawa banyak impian muluk-muluk. Sebelumnya, dengan Rifki, Qiandra menyusuri pinggiran Jakarta, mencari rumah tipe 36 dan 45 yang terjangkau, dengan tawaran KPR yang mereka mampu tanggung. Sekarang, semuanya berubah dari lintsan yang ia harapkan. Keinginan-keinginan seperti rumah dan hal-hal lain yang menyertainya tidak lagi terlalu menggebu-gebu. Selama itu bisa digunakan untuk bertahan di bawah panas dan hujan, seharusnya baik-baik saja. "Rumah gue berada di kawasan cluster. Kalau loe nggak cocok, bilang aja. Nanti kita cari yang menurut loe cocok." "Ya." "Atau mungkin loe suka model apartemen?" "Terserah. Selama lokasinya nggak terlalu jauh dengan pekerjaan gue!" Satu-satunya keinginan yang masih dimiliki Qiandra dalam pernikahan ini adalah ia tetap ingin bekerja seperti sebelumnya. Dengan perubahan situasi yang tiba-tiba, Qiandra ingin dia memiliki sesuatu yang tetap konstan dalam hidupnya. Sesuatu yang tetap tidak berubah meskipun Nathan telah banyak mengubah semuanya. Pekerjaan adalah apa yang ia pikir masih tetap menjadi kawasan pribadinya yang ia genggam. Nathan menghentikan pekerjaannya, menutup laptop, dan beringsut dengan pelan ke arah kursi roda. Sepertinya ia akan pindah. Qiandra menatap lantai, tidak banyak mengomentari tindakan Nathan. Lelaki itu mengalami sedikit gangguan sebelum akhirnya bisa memindahkan dirinya sendiri ke kursi roda mengandalkan kekuatan lengannya. Ada suara brak yang cukup keras saat ia berhasil memantapkan posisinya. Diam-diam, Qiandra mengamati Nathan. Ada titik-titik keringat di pelipis lelaki tersebut, menunjukkan usahanya cukup keras dan menghabiskan tenaga. Napas Nathan juga berubah pendek-pendek. Saat Qiandra ingin mengalihkan pandangan, mata Nathan tiba-tiba menangkapnya, membuat Qiandra merasa canggung. Senyum Nathan kembali merekah, melembutkan wajahnya yang biasanya terlihat mendominasi. Alis hitam di atas mata Nathan membentuk kurva menawan, membawa kehangatan dia matanya yang setajam elang setiap kali ia tersenyum. "Kopi?" tawar Nathan, menggerakkan kursi roda ke sisi ruangan lain di mana ada mesin kopi dan cangkir yang tersedia. Tempat itu kebetulan mudah dijangkau Nathan tanpa harus berdiri. Dengan ahli, Nathan melakukan langkah demi langkah membuat kopi, dari menasukkan penyarung kopi hingga menuangkan kopi di atas cangkir. Kening Qiandra berkerut-kerut. Tindakan Nathan sangat praktis dan cepat. Tak butuh lama bagi Nathan menyuguhkan kopi tersebut dengan aroma yang menggoda. "Gula?" tanya Nathan. "Ya." Qiandra penyuka kopi. Tapi ia selalu memberikan gula di atas batas wajar. Rasa manis kopi lebih disukai daripada pahitnya. "Dua setengah hingga tiga sendok!" pinta Qiandra otomatis. "Terlalu banyak gula, nanti diabetes!" Nathan mengingatkan. Meski begitu, dia tetap memberikan tiga sendok gula di dalam cangkir sesuai permintaan Qiandra. Nathan membuka tirai di masing-masing jendela yang menghadap ke luar ruangan, membiarkan pagi ini pemandangan kota menjadi objek yang mereka nikmati. Lalu lintas di jalanan masih lengang. Beberapa mobil dan motor sesekali lewat. Di sini, di ruangan ini, dua orang menikmati secangkir kopi dalam diam. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD