Seorang wanita berusia lam puluhan duduk di ataw kursi kayu, mengenakan syal panjang untuk mengurangi hawa dingin di malam hari. Wajahnya yang penuh gurat-gurat penuaan masih menunjukkan sisa-sisa kecantikan yang dulu dimilikinya di usia muda.
Ujung jari-jarinya sedikit bergetar. Kantung matanya lebih tebal dari beberapa tahun lalu. Sesekali, suara batuk keluar dari tenggorokannya. Tangannya yang rapuh memegang dadanya dan menepuknya secara berkala. Ah. Tubuh ringkih ini tak lagi sesehat dulu. Sudah sering bertemu angin dan hujan, pertahannya mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Di sisi wanita tersebut, duduk seorang lelaki berusia sama. Tubuhnya yang kurus, mengurangi aura kekuatannya di masa lalu. Namun meski begitu, sorot matanya masih tampak tajam, tak membiarkan usia mengaburkannya.
"Qian! Besok adalah pernikahanmu!" Septi, Ibu Qiandra membuka percakapan serius di ruang duduk. Di sisi kiri dan kanan Qiandra, terdapat Tasya dan Sisil, dua adiknya yang berusia dua puluh empat dan dua puluh dua tahun.
"Ya, Bu." Tak ada antusiasme sama sekali dalam suara Qiandra. Pernikahan besok layaknya suatu proses yang terpaksa dilalui Qiandra tanpa keinginan murni dari hatinya.
Untuk seorang wanita yang kehilangan pernikahan sebenarnya, dan dituntut menjalani pernikahan lain yang tidak ia inginkan, keadaan pasif Qiandra setidaknya lebih baik dari beberapa orang. Mungkin jika ini terjadi pada wanita lain, hasil akhirnya adalah pelarian diri.
"Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk memutuskan untuk maju atau mundur," Ibu terbatuk dua kali, membuat dadanya terasa panas. Setelah tenang lagi, dia melanjutkan ucapannya. "jika kamu mundur, biarkan Ibu mengirimkanmu ke tempat Om-mu yang ada di Wonosobo. Di sana setidaknya kamu tidak akan ditekan untuk melakukan apa yang tidak kamu inginkan!"
Seluruh keluarga Qiandra tahu dengan baik situasi yang dialami Qiandra. Pernikahannya dengan Nathan hanya sebatas tuntutan yang ditekankan oleh pihak keluarga Rajendra padanya akhir-akhir ini.
"Tidak. Qian tetep akan menikah."
Mundur? Melarikan diri? Bahkan sekali pun Qiandra bisa, dia enggan membiarkan keluarga kecilnya mengalami akibat dari keegoisannya. Ibu sudah lebih baik, ayah juga tak lagi ngedrop seperti sebelummya. Menghilang dari pernikahan yang telah Nathan rencanakan berpotensi membuat kesehatan orang tua Qiandra memburuk. Keluarga Nathan selalu memiliki cara untuk menekan keluarga Qiandra dengan banyak cara. Percuma saja pergi jika Qiandra harus menjalani pelarian tanpa akhir.
Ini bukan masalah mau atau tidak mau. Ini masalah tanggung jawab. Tanggung jawab peran inilah yang membuat Qiandra sanggup bertahan hingga detik ini.
Selain itu, jika Qiandra tidak mau, tuntutan yang telah keluarga Rajendra batalkan akan kembali dia terima, membuat Qiandra menanggung predikat sebagai kriminalitas dan harus melalui sidang demi sidang untuk menerima hukuman atas kecerobohannya yang menyebabkan Nathan terluka. Dengan keluarga sebesar Rajendra, mudah bagi mereka membuat hukum diberatkan untuk Qiandra. Bisa jadi hukuman normal berlipat beberapa kali di tangan keluarga Rajendra.
"Kak," panggil Sisil lemah, meraih lengan Qiandra dengan ragu-ragu.
Sisil dan Tasya adalah dua wanita manis yang berwajah bulat dengan bibir tipis dan retina hitam yang menawan. Sementara Qiandra, struktur tulang wajahnya oval, dagu berbelah, dan retina cokelat seperti kucing. Qiandra mewarisi fisik Ibu, sementara kedua adiknya mewarisi fisik Ayah. Namun, keseriusan Qiandra mewarisi Ayah, yang cenderung menjaga jarak dari sekeliling dan selalu menjadi pengamat lama sebelum akhirnya terlibat dalam suatu lingkungan baru.
"Yakin ingin menikahi laki-laki itu?"
"Mau tetep menikah besok?"
Tasya dan Sisil bertanya bersamaan. Keduanya menunjukkan kebimbangan, mengalami dilema yang juga dirasakan oleh Qiandra dalam lubuk hatinya.
Pernikahan besok dipersiapkan dengan sangat sederhana. Qiandra menolak resepsi. Dia hanya mau melakukan akad di kantor KUA wilayah terdekat, dan mengundang hajatan tetangga malam harinya sebagai bentuk tasyakuran. Sudah. Tidak ada pesta, tidak ada tamu tertentu, tidak ada embel-embel lain yang menyertai.
Berbeda dengan pihak Nathan. Lelaki itu menyiapkan resepsi di sebuah gedung, mengundang seribu dua ratus tamu, dengan banyak ini itu yang Qindra sendiri tidak terlalu memahaminya.
"Ya. Jangan khawatir!" Tak ingin keluarganya cemas dengan dirinya, Qiandra mencoba menampilkan ekspresi ringan dan sedikit jenaka.
Jalan hidup seseorang kadang kekuar jauh dari track yang direncanakan. Qiandra hanya menjalani apa yang harus ia jalani untuk saat ini. Tidak banyak harapan. Tidak banyak ekspektasi.
"Jika setelah menikah nanti keluarga Nathan memperlakukanmu dengan buruk, kamu masih—" Ibu terbatuk lagi. Kali ini, batuknya hampir setengah menit tanpa jeda. "—masih memiliki rumah untuk kembali. Jangan pernah takut untuk kembali pulang!"
Sebagai ibu, Septi ingin menjamin Qiandra tempat untuk pulang dan kembali. Sesulit apa pun nanti kondisinya, mereka akan bersama-sama menghadapinya.
"Rumah ini selalu terbuka untukmu, dalam segala kondisi. Kami adalah orang tuamu. Sekuat apa pun nanti kehidupan berusaha menekanmu, jangan pernah malu untuk pulang ke sini. Ini tempatmu tumbuh. Ini juga tempatmu berlindung nantinya!" Kali ini Ayah yang angkat bicara. Ada kehangan dalam suaranya. Ada kasih sayang yang dalam darinya.
"Jangan khawatir, Ayah. Qian akan selalu kembali ke sini. Ini akan tetap menjadi rumah Qian." Bangunab berukuran tujuh kali enam meter ini, masih tetap menjadi bangunan favoritnya. Tempat di mana ia tumbuh, menerima banyak cinta, dan menghargai kehangatan keluarga.
"Bagus. Bagus." Air bening mengalir di pipi Ibu, membuat wajah tuanya penuh oleh air mata. Ada rasa berat melepas putrinya dalam pernikahan. Semua orang dalam keluarga tahu pernikahan seperti apa yang Qiandra dapatkan. Jenis pernikahan yang hadir karena tuntutan dan rasa tanggung jawab.
Tidak ada cinta. Tidak ada kasih sayang. Tidak ada persahabatan.
Kehidupan seperti apa yang nantinya Qiandra miliki? Keamanan psikis macam apa yang nantinya Qiandra dapatkan? Masihkah Qiandra nanti memiliki harga diri yang layak di depan suaminya?
"Maaf, Sayang. Ibu nggak mampu memberimu perlindungan maksimal. Seandianya Ibu dan Ayah memiliki kekuatan yang layak, kamu tidak perlu mengorbankan diri dalam pernikahan yang tidak diharapkan!" Tangis Ibu semakin menjadi-jadi, terisak-isak, merasakan dadanya semakin panas dan berat. Dia melalui hidup dengan keras dari sejak awal menikah. Tidak masalah baginya, selama anak-anaknya aman dan layak seperti anak-anak lainnya. Namun, hal itu saja tampaknya belum cukup. Putri sulungnya ditekab menikah oleh keluarga kuat dan mereka semua tak berdaya untuk melepaskan diri. Sebagai ibu, kegagalan melindungi Qiandra membekaskan kepedihan tersendiri.
"Sudah, Bu. Sudah. Ini hanya fase singkat dalam hidup Qiandra. Jangan terlalu sedih. Qiandra tidak akan mudah digertak dan disudutkan. Pernikahan tidak akan mengalahkan Qiandra." Qiandra memeluk Ibu, memberikan ketenangan dan bujukan.
Dia berjanji dalam hati, akan menguatkan diri baik-baik. Nathan bisa membawanya dalam pernikahan, tetapi tidak ada yang bisa memaksanya untuk tunduk dan kalah.
…