Dua orang lelaki saling duduk bersama di sebuah bilik restoran berprivasi, di lantai dua yang menghadap ke arah jalan raya. Siang ini lalu lintas cukup ramai, meskipun tidak terjadi kemacetan parah seperti halnya sore hari. Udara Jakarta tidak terlalu panas, bahkan sedikit mendung, menandakan sebentar lagi kemungkinan akan diguyur hujan. Ibu kota terlalu sibuk. Ibarat anak, Jakarta terlalu hyperaktif. Ada baiknya hujan deras mengguyur, memberikan kesegaran baru di tengah polusi yang tak pernah berakhir.
Bayangkan saja. Kota Jakarta memiliki penduduk sebelas juta jiwa dengan luas tanah enam ratusan kilo meter persegi. Berapa kali lipat saja kepadatannya dari rata-rata nasional? Hampir semua orang beraktifitas, menggunakan oksigen bersama ,dan membuang karbon dioksida tanpa henti. Produksi di mana-mana. Kendaraan sumber polutan bermotor dua puluh juta lebih. Jangan tanyakan bagaimana kondisi udara di sini. Jika ada yang memiliki penglihatan eksta, mungkin udara di tempat ini sudah dipenuhi partikel berwarna abu-abu gelap, bukti adanya miliaran limbah udara yang tidak mampu diserap oleh alam lagi.
Kota besar. Kesibukan besar. Pulutan pun demikian juga. Andai setiap pohon dan tanaman di tempat ini mampu berbicara, mereka pasti meneriakkan protes sebagai wujud keluhan mereka dalam keletihannya menetralkan polusi. Kerja berat. Kerja tanpa akhir.
"Gue ngambil wanita loe!" kata seorang lelaki yang duduk di kursi roda, menatap lawan bicara di depannya yang terlihat tenggelam dalam dimensinya sendiri.
Rifki, lelaki berusia tiga puluh tahun dengan wajah manis dan berkulit cerah, menarik pandandangannya dari jalanan di bawah, memfokuskan perhatiannya pada Nathan.
Dalam diam, mereka sama-sama tahu siapa yang dimaksud dengan wanita Rifki. Bukannya menerima pernyataan itu, Rifki justru menggelengkan kepalanya dengan getir.
"Wanita gue? Seseorang yang bersedia pergi, tidak akan pernah menjadi hak milik gue!"
Pernikahan Rifki gagal. Setengah bulan ini dia sibuk menekan masalah-masalah yang dihasilkan oleh kekacauan ini. Keluarga yang marah, kerabat yang ingin menuntut pihak pengantin wanita, dan teman yang hampir setiap saat memaksa Rifki untuk mengatakan alasan "sebenarnya". Alasan yang selalu Rifki sampaikan pada semua orang adalah adanya ketidakcocokan, tapi kebanyakan orang tidak mempercayainya.
Setelah usaha yang cukup keras, setidaknya masalah ini bisa mereda lebih baik. Ibarat cerita, telah mengalami babak antiklimaks.
Nathan yang mendengar pernyataan Rifki, tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai di matanya. Senyum dangkal yang justru terlihat sebagai topeng kaku.
"Gue menyukainya sejak SMA!"
Pengakuan Nathan mengejutkan Rifki, tetapi hanya dalam beberapa detik. Detik berikutnya, ia tertawa kecil, sorot matanya menunjukkan simpati.
"Dia wanita yang nggak mengenal cinta. Dia wanita yang mampu meninggalkan seseorang dalam detik-detik terakhir. Dia wanita yang ramah di permukaan, tapi hatinya lebih dingin dari es, lebih keras dari besi. Menyukainya, memujanya, mencintainya … adalah sebuah tragedi. Karena pada akhirnya, jika ada kondisi di mana dia harus memilih antara cinta dan keselamatan diri, dia akan memilih yang kedua."
Tidak ada rasa iri pada Nathan. Tidak ada kebencian pada Nathan. Kini, Rifki tahu keadaannya dan Nathan tak jauh berbeda. Sama-sama dua orang yang tertarik pada wanita tanpa hati. Wanita yang bahkan tak memahami apa itu cinta.
Hidup bersama dengan orang seperti itu … siapa yang mampu bertahan lama?
"Loe nggak membenci gue karena ini?" Nathan tidak mengira hasil akhirnya akan seperti ini.
"Untuk apa benci? Kita sama. Dua orang yang perasaannya terjebak pada satu wanita. Bedanya, gue mulai mengambil jalan untuk pergi menjauh, sementara loe mengambil jalan untuk menjatuhkan diri ke takdir berlumpur. Bukankah posisi loe lebih menyedihkan?" Rifki mengambil kotak rokok di saku kemeja, menghidupkan sebatang rokok untuk mengurangi tekanan suasana yang mulai tegang. Asap samar berputar-putar di atas kepala, sebelum akhirnya membumbung tinggi ke langit-langir ruangan.
"Bukankah loe punya istri?" Rifki teringat akan Stephanie.
"Hanya secara formalitas!" Ikatan Nathan dan Stphanie serapuh kertas. Pernikahan macam apa yang mampu hancur dalan semalam hanya karena salah satu pihak menjadi lumpuh dalam sekejap mata? Jelas pernikahan itu sama ringkihnya dengan vas porselen murah yang diobral di jalanan.
"Mungkin pada akhirnya, pernikahan loe dan Qiandra juga sebatas formalitas!" Rifki mengingatkan.
Mereka adalah dua orang dari latar belakang berbeda, baru pertama kali bertemu, tetapi nyatanya, ada banya pemahaman diam-diam. Benar kata orang. Lamanya waktu bukan jaminan seseorang mengenal orang lain dengan baik.
"Selalu ada ruang pembalikan." Dalam trading, selalu ada istilah support dan resistance. Di titik itu, harga akan mengalami pembalikan. Di realita, Nathan yakin akan ada hal serupa. Kita saja yang harus mencari celahnya.
"Untuk seseorang seperti Qiandra, sulit menemukan titik pembalik. Pada akhirnya nanti jika usahamu tidak kunjung menbuahkan hasil, akan ada titik jenuh. Saat itu terjadi, kusarankan kamu menyerah!"
"Menyerah?" Kali ini, Nathan yang tertawa getir. "Entahlah. Mungkin waktu yang akan menjawab!"
Kedua lelaki yang seharusnya rival, kini saling memandang, penuh pemahaman.
…
Proses perceraian Nathan berlangsung singkat. Kedua pihak sama-sama memudahkan jalannya persidangan. Stephanie yang segera ingin melepaskan diri dari suami yang dianggapnya cacat, dan Nathan yang ingin segera melepaskan diri dari istri tanpa bakti. Hanya dalan waktu tiga bulan setengah, perceraian itu selesai. Nathan bahkan bersikap lunak dan memberikan banyak tuntutan Stephanie yang diakui sebagai harta gono gini. Bagi Nathan, harga mahal untuk melepaskan Stephanie setara dengan kebebasannya.
Dalam tiga bulan ini, hubungan Nathan dan Qiandra bisa dikatakan sangat kaku. Tiga kali dia menemui Qiandra dan berusaha menciptakan pendekatan, semuanya berakhir gagal. Wanita itu, meskipun bersedia menjadi istrinya kelak, sikapnya terhadap Nathan lebih pantas dianggap sebagai atasan dan bawahan, alih-alih calon pasangan.
Qiandra hanya menjawab saat diberi pertanyaan, tersenyum kaku saat disapa, merespon saat dituntut, dan tak pernah sekali pun mengambil inisiatif dini.
"Pernikahan kita akan digelar satu setengah bulan lagi. Ada permintaan khusus?" tanya Nathan di kunjungannya yang keempat, persis seminggu setelah perceraiannya diresmikan.
Mereka duduk di teras, menatap cahaya jingga keemasan senja yang menawan di cakrawala.
"Nggak ada." Qiandra sibuk menatap senja, seolah-olah pemandangan di langit lebih indah dari wajah lelaki di sisinya.
Untuk pernikahan yang tidak ia inginkan, untuk apa dia mengajukan permintaan? Tidak ada keinginan sama sekali dari Qiandra untuk memberikan suara pada perencanaan pernikahan ini.
"Yakin nggak ada?" Nathan tak pernah bosan menatap wajah Qiandra, meskipun hanya dari samping seperti ini.
"Ada jika loe sudi mengabulkannya?"
"Apa?" Sudut mulut Nathan tertarik membentuk suatu kurva.
"Batalkan saja pernikahan ini, bagaimana?" usul Qiandra, nadanya acuh tak acuh.
Nathan tersenyum lembut, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Gue bisa memberikan apa saja yang loe mau, tapi bukan itu. Pernikahan akan tetap dilaksanakan, apa pun kondisinya!"
…
…