Konfirmasi

1064 Words
Qindra menatap Rifki di depannya, menganati keseluruhan ekspresi yang lelaki itu miliki. Tak ada lagi kehangatan dari laki-laki tersebut. Tak ada lagi binar-binar sayang yang dulu bermain-main di manik matanya. Tak ada lagi kelembutan cinta yang dulu sumpahkan pada Qiandra. Tujuh tahun hubungan terjalin, hancur terlindas dalam satu tragedi yang mereka hadapi di suatu sore karena kecerobohan Qiandra. "Maaf." Qiandra menyampaikan satu kata yang mewakili keseluruhan perasaannya. Satu kata yang mampu mengekspresikan rasa bersalahnya. Satu kata yang mewakili keinginannya. Cafe di pinggiran Jakarta masih sepi. Hari masih cukup pagi, hanya satu dua orang yang berlalu lalang di sekitar. Jalanan Jakarta tidak terlalu sibuk, menunjukkan akhir pekan ini banyak orang memilih beraktifitas di dalam rumah. Rifki menatap Qiandra sekilas, habis kata-kata setiap kali berpikir ingin merespon permintaannya. Maaf. Semua yang mereka jalani selama tujuh tahun hanya diwakili oleh kata maaf. Siapa yang kejam di sini? Mimpi yang Rifki miliki, kehidupan rumah tangga yang ia dambakan bersama wanita tercinta, tak ubahnya menjadi mimpi yang hancur di siang bolong. Jika dia harus mengekspresikan keluhannya, Rifki takut emosinya sendiri tidak akan sepenuhnya terkendali. Untuk pernikahan ini, Rifki menyiapkan yang terbaik buat segalanya. Dia bahkan mengajukan hutang berjumlah sekian, demi memberikan penampilan menawan pada resepsi mereka. Rifki ingin pernikahan mereka berkesan, membawa kenangan sepanjang hidup. Untuk melamar Qiandra, dia juga memberikan hal yang paling baik, memberikan apa saja semaksimap mungkin. Siapa yang mengira pada akhirnya ia akan dibuang seperti ini? "Tentang hadiah lamaran, aku akan mengembalikannya padamu." Suara Qiandra sedikit gemetar. Dia tak ingin terlalu egois. Bingkisan lamaran yang Rifki berikan delapan puluh persen masih utuh. Alangkah baiknya jika bingkisan tersebut kembali lagi di tangan Rifki, kembali pada yang seharusnya. "Apa yang sudah diberikan, biar saja. Tidak perlu ada pengembalian." Rifki berkata datar. Semua kepedihannya ia tutupi dengan sempurna di bawah penampilan dingin yang kini dikenakannya. "Tapi—" "Lakukan saja apa yang kukatakan." Rifki mengaduk black coffee yang ia pesan, membiarkan uapnya semakin melayang di udara sekitar. Pahit. Hidup yang manis bisa berubah pahit seketika. Tak ada jaminan selamanya dalam kebahagiaan. Tak ada jaminan selamanya dalam cinta. "Rif. Aku dengar Bu Mega memberikan sejumlah kompensasi untukmu. Sebagai bentuk kompensasi atas gagalnya pernikahan kita. Itu … itu tidak benar, kan?" Qiandra akhirnya menyuarakan apa yang ia pikirkan seharian ini. Pada dasarnya, Qiandra tak mempercayai apa yang Bu Mega katakan. Namun, rasa ingin tahunya terlalu besar untuk ia abaikan begitu saja. Qiandra butuh kepastian. Sesuatu yang pada dasarnya sudah ia tebak. "Bagaimana menurutmu?" Rifki bali bertanya. Dia lelah. Lelah menghadapi Qiandra sekarang ini. Wanita yang masih ia puja di dalam hatinya, meskipun mengucapkan maaf, tapi tak ada rasa bersalah kuat yang dideritanya. Rifki hancur, kesedihannya mengacaukan akal sehat yang ia miliki, merobeknya menjadi jutaan potongan yang tak lagi bisa disatukan. Lucunya, Qiandra tidak sehancur itu. Dia masih tetap Qiandra yang biasanya, dengan senyum dan mata jernih seperti malaikat. Hanya rasa bersalah yang wanita itu miliki, itu pun tidak sebesar yang seharusnya. Jadi akhirnya, Rifki tahu cintanya yang menggila hanya dimiliki olehnya, tidak oleh Qiandra. Cinta yang bagi Rifki mampu diwakilkan oleh hidup dan nyawanya, di mata Qiandra mungkin hanya dianggap sebagai emosi tipis. Perbandingannya terlalu jauh. "Aku tidak percaya." Qiandra menggelengkan kepala. Rifki adalah jenis orang yang suka menghadapi tantangan langsung, menolak jalan tikus yang tidak seharusnya. Menerima kompensasi jelas bukan karakter Rifki. "Sayangnya kamu salah saat ini, Qian. Aku memang menerimanya. Kompensasi itu terlalu besar. Sayang untuk diabaikan." Rifki tertawa kecil, matanya menyorot pedih, seperti mengolok-olok kehidupan. Dia jarang menemukan keberuntungan. Saat ia melihat Qiandra, dia pikir dia menemukan bintang keberuntungan. Nyatanya, Qiandra tak lebih dari rasa sakit yang hadir di tengah-tengah hidupnya yang stabil. "Nggak mungkin!" Qiandra menggeleng tegas. Membantah apa yang Rifki katakan. "Kita tidak pernah bisa menilai orang dengan akurat. Aku menilaimu A, nyatanya kamu B. Kamu menilai aku C, nyatanya aku D. Jadi janyan terlalu terkejut. Aku memang mengambil kompensasi itu. Mau tau berapa yang diberikan Bu Muga? Seratus lima puluh juta." Rifki menyesap cairan hitam di dalam cangkir, kemudian memfokuskan kembali perhatiannya pada Qiandra. "Sebenarnya masih ada ruang untuk negosiasi. Bisa saja aku meminta lebih. Tapi aku memutuskan untuk menerima jumlah itu. Toh untuk aku, itu sudah jumlah yang besar. Seseorang tidak bisa terlalu serakah, 'kan?" Qiandra ingin membantah lagi, tapi saat melihat keseriusan di mata Rifki, ia tahu apa yang disampaikan oleh Rifki adalah sebuah kebenaran. Tidak ada kebohongan. Tidak ada kepura-puraan. Hati Qiandra mencelos. Ada sesuatu yang retak dan robek, menciptakan kesedihan baru. Kini Rifki mengambil standar rendah untuk dirinya sendiri. Mungkinkah itu semacam dendam yang sengaja ia simpan untuk Qiandra atas kesalahan yang ia buat? Qiandra menunduk lama, bingung harus bereaksi seperti apa. Hubungan mereka mengalami perubahan besar. Ibarat kertas, ada robekan kuat di tengah-tengah. Sulit mengembalikan keutuhan. Masing-masing dari mereka cenderung ingin melukai satu sama lain. "Aku harap hidumpu akan menemukan hal-hal baik, Rif!" Harapan yang tulus. Harapan yang berasal dari lubuk hati. Qiandra telah membuat kerusakan pada hubungan mereka, dia harap ke depan Rifki mampu menemukan seseorang yang lebih baik darinya, seseorang yang lebih mampu menjaganya daripada Qiandra. Seseorang yang mampu mencintai dan mempedulikannya dengan sempurna. Sayangnya, wanita itu bukan Qiandra. "Harapanku tidak muluk-muluk. Hanya ingin di masa depan tidak lagi bersinggungan dengan wanita sepertimu. Jenis wanita yang mampu meletakkan cinta di bawah tekanan." Nada Rifki jelas menyindir. "Ya. Semoga kamu tidak bertemu orang egois sepertiku. Semoga nanti kamu menemukan wanita yang berkali-kali lipat lebih baik dariku!" Terluka. Tapi Qiandra tak ingin egois. Rifki butuh bahagia. Dan Qiandra ingin Rifki meraihnya dengan mudah. Jika kehadiran wanita lain mampu menyembuhkan rasa sakitnya saat ini, Qiandra sangat rela mendoakan Rifki untuk itu. "Sudahlah, Qian. Kita ditakdirkan untuk mengambil jalan yang berbeda. Mulai sekarang, bisakah kamu tidak menemuiku lagi? Jujur, aku tak ingin ada bersinggungan lagi denganmu!" Qiandra kali ini tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia menunduk dalam-dalam, kemudian bangkit dengan lemah. "Selamat tinggal, Ri." Suaranya lirih, dibawa oleh angin, tetapi masih mampu ditangkap Rifki. Wanita itu pergi, melangkah menjauh, membiarkan punggung kecilnya menjadi kenangan terakhir yang dilihat Rifki. Pergi. Akhirnya wanita itu menjauh juga, membiarkan bayangannya menjadi ingatan yang disimpan Rifki dengan hati-hati. Tak lama setelah kepergian Qiandra, ponsel Rifki bergetar sebentar, mengirimkan sebuah pesan. "Sumbangan Anda telah kami terima, sebesar seratus lima puluh juta rupiah. Terimakasih untuk kebaikan Saudara yang telah dibagikan bersama anak Panti Asuhan Sumber Kasih, semoga Tuhan memberikan ganti terbaik atas kebaikan Saudara. Salam kasih dan cinta." …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD