Aku memakan sarapanku dengan antusias tahu kalau sebentar lagi akan bertemu dengan Tante Delila, walau ada Andre yang menyebalkan di sana tapi anggap saja sebagai hiburan saja.
Kulihat Lucas menuruni tangga dengan pakaian non formal dan itu cukup untuk membuat jantungku berteriak antusias. Entahlah apa yang terjadi denganku tapi Kurasa otakku sudah mulai tak normal.
Aku menunduk kembali menikmati sarapanku, tak ingin tertangkap basah sedang menatapnya yang dengan sialannya adalah tatapan memuja. Itu menjijikan.
Aku berdehem saat kulihat Lucas sudah duduk di kursi seberang, tapi seolah tak mendengar dia melanjutkan makanannya dengan santai dan sesekali memeriksa ponselnya.
Oke itu menyebalkan. "Lucas.." Ucapku jengkel. Dia kembali menatap ku dan detik itu juga setiap kata yang ingin ku keluarkan menghilang entah kemana.
Pengaruhnya sangat besar buatku, aku bisa gila kalau seperti ini.
"Selesaikan sarapanmu, dan kita pergi." Tanpa sadar aku mengangguk tapi tak urung ku masukkan juga nasi goreng itu kemulutku.
Beberapa menit kemudian kami menyelesaikan sarapan kami dan langsung berjalan menuju mobil hitam yang terlihat misterius sama dengan pemiliknya.
Aku menatap pantulan diriku di mobil, dress putih selutut. Sungguh gadis baik-baik.
Aku tidak tahu kapan semua baju di lemari itu di siapkan untukku tapi aku menyukai siapapun yang memilihnya.
Aku masuk mobil dan langsung memakai sabuk pengaman, terlihat antusias yang tak di buat-buat, aku menyukai Tante Delila dan sekarang aku akan bertemu dengannya. Ini pasti akan menyenangkan.
Lucas masuk mobil setelah meletakkan tas hitamnya di belakang. Entah apa isi tas kecil itu tapi Kurasa itu penting untuknya.
Lucas tak menjalankan mobilnya, dia masih diam menatap jalan di depannya. Aku menatapnya heran, selalu dia seperti ini. Terdiam seolah menunggu sesuatu.
Aku melihat pinggangku, sabuk pengaman sudah terpasang, jadi apa yang membuat dia begini sekarang?
"Aku sudah memakai sabuk pengaman." Entah setan apa yang merasuki hingga aku menyuarakan isi pikiranku. Dan tatapan sekelam malamnya sekarang menatapku dengan tatapan aneh.
Apa aku salah?
Tangannya terangkat, membelai lembut rambut coklatku yang ku biarkan tergerai.
"Maaf." Aku membuka mata yang tak kutahu kapan aku tutup. Kulihat mata hitamnya, ada penyesalan di sana. Apa karena kejadian kemarin? Dia membelai lembut bibirku, tapi berhenti di tempat lukaku. Dia menekan lukaku membuatku mengaduh. "Sesakit itukah?" Tanyanya terdengar heran tapi juga terdengar menyedihkan.
"Tidak sakit kalau kamu tidak menekan nya seperti tadi." Jawabku sebal. Sudah tahu bibirku luka malah dia tekan-tekan sembarangan.
"Kemarilah!" Dia membuka sabuk pengamanku, membenamkan aku ke dadanya hingga aku bisa mencium aroma kayu manis di tubuhnya. Rasanya benar-benar nyaman. Aku memejamkan mata menikmati sensasi kupu-kupu terbang di perutku.
***
Aku cemberut, tuhan ini menyebalkan. Tidak ada yang menyenangkan sama sekali bertemu dengan mereka. Mereka semua menyebalkan terutama Lucas.
"Sayang?" Aku mengalihkan tatapanku melihat Mama Delila memegang bahuku dengan senyuman sayang. "Maaf ya. Mama tidak bisa mencegah mereka untuk ikut." Ya. Mereka si sialan.
Bianca, Mona, dan juga Reksya. Tiga sahabat serangkai milik Lucas.
Sebegitu spesialnya kah mereka sampai Lucas tidak sadar aku duduk seorang diri disini. Apalagi melihat dari cara Bianca menatap Lucas, aku membencinya.
Aku membenci Lucas, aku juga mulai membenci perasaan tak nyaman yang bersarang di dadaku. Stop, berhenti menyiksa diri Dea. Kamu harus melihat kenyataan daripada harus berenang di alam mimpi.
Jelas sekali terlihat mereka berempat saling memuja. Lucas dan Bianca, Mona memuja Reksya. Oh tuhan sayangnya mereka pasangan yang serasi. Bahkan aku kagum pada sosok Reksya yang terlihat selalu cool dengan setelan santainya. Siapa yang akan sadar kalau dia pewaris tunggal. Kata itu kudapatkan dari Mama Delila juga.
"Ma, apa mereka saja yang di undang?" Tanyaku tak menyembunyikan kekesalanku. Kulihat Mama Delila merasa bersalah.
"Ada Andre, Adam, sama Vio." Jelas Mama. "Tapi Adam belum datang, katanya masih ada di jalan tapi Andre sama Vio ada di halaman belakang." Tunjuk Mama arahnya. Aku tidak terlalu dekat dengan Vio tapi juga tidak bisa di bilang jauh karena kami sering bertegur sapa walau seadanya. Karena dia kan sahabatnya Adam walau si curut yang dapet.
"Aku akan pergi ke halaman belakang dulu Ma. Bye." Ucapku berlalu. Lebih baik pergi dari rasa sakit saja.
Aku melihat Andre sedang tertawa bersama wanita pujaannya itu. Terlihat menjengkelkan dan juga romantis.
Andre memang tak terlalu beda jauh dengan kakaknya tapi dia masih lebih baik dari Lucas, terbukti dari caranya memperlakukan Vio.
Aku melangkah dengan cepat tak mau larut dalam rasa iri. Ku posisikan duduklah di tengah mereka membuat percakapan apapun yang sedang berlangsung di antara mereka terhenti begitu saja.
Andre menatapku kesal tapi Vio malah tersenyum. "Aku tidak punya teman jadi tak apa kan aku di sini?" Tanyaku dengan nada memelas andalanku.
"Tentu"
"Tidak"
Dua jawaban dalam detik yang sama itu membuat aku tersenyum puas. Lebih baik mengambil jawaban Vio dan membuang jawaban Andre curut.
"Jadi kita akan membahas apa?" Tanyaku tak menghiraukan kekesalan Andre. Ini hukuman buat dia karena sering menggangguku.
"Bagaimana kalau pembahasannya adalah kamu masuk kedalam saja dan biarkan aku bersama Vio disini."
"Andre kok jahat?" Ucap Vio tak terima. Aku rasanya mau tertawa saat melihat dia menatap ku tak berkutik.
"Ya. Andre kok jahat." Timpalku semakin membuat Andre memerah.
"Dea!" Aku menoleh melihat Adam melambai kearahku. Dengan senyum terkembang, aku bangun dan menghampirinya.
"Kamu datang." Ucapku semangat.
"Tante mengundang." Jelasnya.
Vio bangun menghampiri kami, terlihat senang melihat Adam disana tapi tidak dengan si curut.
"Lama gak ketemu Dam?" Vio mengulurkan tangan yang langsung di jabat oleh Adam. "Kamu baik?" Tanya Vio setelah mereka melepaskan jabatan mereka.
"Tak pernah sebaik ini." Jawab Adam terlihat jujur. Kurasa ia sudah merelakan Vio untuk Andre dan aku senang untuk itu. "Bagaimana denganmu?" Tanya Adam balik.
"Aku baik. Kesehatanku juga semakin membaik, Andre selalu menjagaku." Aku mengerutkan kening tak mengerti, Vio punya penyakit?
"Aku senang mendengarnya." Jawab Adam tulus.
"Kamu sudah bertemu Mama?" Kali ini Andre yang mengangkat suara.
"Dia yang menyambut kedatanganku. Dia bilang gadisku sedang bosan." Ucap Adam memegang kepalaku. Aku tersenyum tapi tidak dengan Andre.
"Jangan bicara seperti itu, kamu tahu Lucas tidak akan suka." Ada nada mengancam disana.
"Oh tenanglah." Adam tersenyum diikuti Vio tapi aku tahu Andre tidak akan segan-segan melapor pada kakaknya. Patutlah aku harus takut.
"Lucas memanggilmu." Vio menunjuk dengan dagunya membuat semua menatap kearah pintu villa. Disana berdiri Lucas menatapku tanpa bicara. "Kurasa kamu harus kesana." Ucap Vio lagi.
"Aku akan kembali." Ucapku berlalu dari hadapan mereka dan langsung melangkah kearah Lucas yang sedang memeriksa ponselnya. Lagi. "Kamu memanggilku?" Tanyaku setelah cukup dekat dengannya.
Dia mengalihkan tatapannya dari layar datar tersebut. "Aku ingin kamu mengenal teman-temanku." Jadi ini masih tentang teman-temannya. Setelah dia puas cuek pada ku karena teman-temannya baru dia berniat mengenalkan aku.
"Untuk apa?" Tanyaku dengan tatapan menantang.
Dia menaikkan sebelah alisnya. "Karena mereka temanku." Nadanya balik menantang aku untuk menjawab, tapi aku hanya diam menatap kebawah. "Ada yang salah Dea?" Dia mengangkat daguku.
"Tidak." Jawabku tak yakin. Apa memang ada yang salah? Jelas semuanya terasa normal tapi entah kenapa hatiku seolah berteriak ada yang salah. Aku pusing sekarang karena seperti ada dua suara di dalam kepalaku.
"Mereka baik Dea, kamu akan menyukainya." Mereka baik di matamu tapi belum tentu padaku. Sudah kubilang ada suara jahat di kepalaku dan selalu mengalahkan suara baikku. "Kamu benar-benar tidak ingin?" Masih dengan nada kalemnya Lucas berucap. Aku tidak mungkin mengecewakan dia.
"Baiklah. Aku akan kenalan dengan mereka." Ucapku akhirnya.
Lucas tersenyum. Menggenggam tanganku dan membawaku masuk, kulihat mereka bertiga sedang asik bercanda di sana.
Bianca adalah wanita dewasa yang akan kamu temui di perusahaan-perusahaan sukses sebagai pemimpinnya, pakaian formalnya bahkan menggambarkan itu semua dengan lipstik tipis membuat ia terlihat biasa-biasa saja tapi ada kesan istimewa disana.
Mona kebalikan dari Bianca, dia glamor dan terlihat agresif. Dia bisa tersenyum tapi juga menatap tajam dalam satu detik yang sama, entahlah aku terlalu takut dekat dengan sosok Mona. Tapi mungkin hanya perasaan ku saja karena baru pertama kali aku melihatnya sejelas ini.
Reksya tipe pria idaman semua wanita. Dia manis dengan lesung pipi di kedua pipinya. Bahkan saat dia tersenyum orang lain akan ikut bahagia melihatnya. Rambutnya tertata berantakan, malah terkesan di sengaja. Ada kesan badboy tapi juga pria baik-baik di sana. Saat mata abunya menatapmu jangan salah saat seolah semua udara menghilang di sekelilingmu. Aku juga merasakannya, ini bukan karena aku tertarik atau semacamnya pada si Reksya tapi lebih kepada ada sesuatu yang teramat berharga terlihat dari tatap itu.
Jelas Lucas lebih segalanya dari Reksya. Oke lupakan yang itu.
"Ini Dea Anastasya. Kalian tahu dia dan juga betapa berharganya dia untukku. Jadi baik-baik padanya." Aku mendongak menatap Lucas yang berdiri di sampingku dengan memegang kedua bahuku. Berharga? Benarkah?
"Hai Dea, Panggil aku Bi." Ucap Bianca mengulurkan tangannya yang langsung kusambut dengan sedikit gugup.
"Kami suka kamu orangnya." Mona mengedipkan mata terdengar misterius dengan ucapannya.
"Senang bisa mengenalmu." Reksya berucap datar dan langsung sibuk dengan tabletnya.
Ini terlalu canggung dan Lucas tahu itu hingga ia dengan cepat pamit pada teman-temannya. Membawaku pergi dari sana.