Nafasku tersenggal, ada sesuatu yang menghimpitku bukan ini sebuah tubuh. Aku berusaha mengalihkan tubuh siapapun itu tapi tak ada reaksi. Ingin rasanya aku teriak tapi tenggorokanku tercekat. Siapapun tolong aku.
Udaranya sangat panas, keringat dingin bercucuran di tubuhku. Aku meraba. Detik itu juga tanganku menyentuh cairan yang terasa lengket dan juga bau amis yang mendera indera penciumanku. Apa ini?
Tubuh itu terangkat membuat aku silau oleh cahaya, aku mengerjap menyesuaikan penglihatanku dengan ruangan yang terasa pengap.
TIDAK. Aku ingin berlari, sejauh mungkin. Tidak lagi. Berhenti kumohon hentikan.
Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Apa lagi ini? Bukankah semua ini sudah berlalu. Kenapa dia bisa ada di sini?
"Gadisku sudah besar." Dia berucap dengan nada geli sekaligus memuja. Mata tajam di balik kegelapan tudung jaketnya, membuat rasa ngeri menghinggapiku.
Dia berlutut di depanku yang tergeletak tak berdaya. Bahkan cairan itu sekarang terlihat dengan jelas. Darah. Darah yang terlalu banyak hingga tubuhku sendiri berwarna merah pekat.
Aku berusaha bergerak tapi tetap saja kaku.
Tangan besarnya meraba permukaan rambutku yang lengket, menyunggingkan senyum yang terlihat mengerikan. "Gadis cerdas. Bagus karena kamu membunuhnya, walau sebenarnya aku lebih suka menancapkan pisau itu sendiri dengan tanganku tapi aku bangga juga padamu." Suara mendayu seolah merayu. Kesan misterius yang di bawanya tak pernah hilang dari dulu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin menancapkan pisau yang entah sudah hilang kemana, kewajah yang tak pernah kulihat ini.
Suaraku tak bisa keluar, yang kuinginkan hanya berteriak agar siapapun mendengar tapi seolah ada tangan tak kasat mata yang membungkam mulutku.
"Aku menemukanmu, sudah saatnya membawa Gadisku pergi." Aku menggeleng tak mau. Airmata sudah bercucuran.
Tidak jangan bawa aku.
"Sebaiknya kamu tetap berkelakuan baik, aku harus menyelesaikan sedikit masalah." Dia terdengar kesal entah oleh apa.
Tidak bawa aku kembali. Aku ingin kembali.
Dia mengangkat tubuhku seakan aku seringan kapas. "Aku punya tempat yang bagus untukmu." Dia mendudukkan aku di kursi kotor yang ada di dekat pintu.
Tidak aku tak mau ketempatmu.
Suaraku tercekat saat dia mengambil tali dan mulai mengikatnya di tanganku. Aku berontak mau lepas tapi tangannya seolah merangkapku.
Tidak. Lepas.
Tangan nya semakin kencang mengikat tali itu, membuat tanganku terasa perih.
Tidak kumohon jangan.
"Tidak..."
"Dea! Sadar!" Aku mengerjap menatap mata sekelam malam itu menatap khawatir kearahku. "Kamu tidak apa-apa? Ini aku." Ya. Dia Lucas. Ya itu adalah si pria misterius. Ya tuhan apa yang terjadi padaku?
Mataku menangkap beberapa orang yang berjejer di dekat pintu. Menatap dengan sorot berbeda-beda. Aku mengganggu tidur mereka, sudah pasti.
"Dea kamu mendengarku?" Lagi Lucas bertanya. Aku mengangguk lemah. "Kalian boleh keluar, aku akan mengurusnya." Nada perintah itu membuat semua orang mematuhi tanpa banyak membantah.
Aku menggigil entah oleh apa, setahuku udara tak sedingin tubuhku.
Lucas duduk di sampingku memelukku dengan erat, tangannya membelai kepalaku dan mengecupnya beberapa kali. Aku menangis di dadanya, tak bisa menyembunyikan kerisauanku.
Aku tahu itu mimpi tapi mimpi itu sudah lama hilang. Apa yang memicunya kembali.
"Semua baik-baik saja. Aku di sini." Lucas kembali berucap, menggosok telapak tanganku dengan tangannya hingga kehangatan menyelimutinya. "Ayo kamu harus tidur, malam masih terlalu panjang untuk terjaga."
Aku menggeleng, tak akan bisa tidur lagi. "Aku takut." Suaraku kering.
"Aku disini, aku akan menjagamu." Aku tetap menggeleng tapi Lucas tetap merebahkan tubuhku, menarik selimut yang ada di bawah kakiku hingga menutup tubuhku.
Kukira Lucas akan meninggalkan aku tapi dia ikut masuk kedalam selimut dan kembali memeluk tubuhku. Membiarkan kepalaku menjadikan lengannya bantal, ini terasa nyaman.
"Tidurlah!" Perintahnya membuat aku mengangguk dan semakin memperdalam kepalaku kedalam dekapannya.
"Jangan tinggalkan aku." Gumamku.
"Tidak akan."
***
Aku terbangun dengan langsung terduduk, melihat sekelilingku. Aku seorang diri. Kemana Lucas?
Ini sudah pagi, tentu saja Lucas kembali kekamarnya. Mimpi itu? Entah bagaimana aku mengatakannya, mimpi buruk dari masalaluku kembali.
Tanpa membasuh wajahku, aku berlari keluar. Menuju satu-satunya orang tempatku harus minta tolong.
Aku berjalan dengan cepat mencari keseluruh arah hanya untuk mendapati kesakitanku itu nyata.
"Apa sebaiknya kita pergi sekarang?" Suara merayu Bianca membuat aku muak. Apa dunia sedang buta dan tuli saat menghadirkan sosok Bianca diantara hidup kacauku.
"Ya sebaiknya kita pergi, semua orang masih tidur. Jadi kita bisa kembali dengan cepat." Lucas menanggapi membuat aku semakin muak saja. Aku masih berdiri di balik dinding, mendengar percakapan menyakitkan itu.
"Ayo." Suara langkah kaki berlalu, menyisakan aku seorang diri di tengah keheningan.
"Dea." Aku berbalik kaget. Melihat mata abu itu tersenyum dengan ramah. Reksya. "Apa yang kamu lakukan sepagi ini?" Tanyanya dengan kacamata putih yang sudah ia pasang di wajahnya. Apa dia sakit mata?
"Aku mencari Adam." Ucapku datar, tak terlalu suka dengan semua teman Lucas. "Apa kamu melihatnya?" Tanyaku ingin segera berlalu dari sana.
"Kurasa Adam masih tidur." Jawab Reksya masih dengan senyum ramahnya yang malah terkesan aneh. Apa dia mau menunjukkan lesung pipinya pada semua orang? Yang benar saja.
Oke. Aku memang sedang sensi.
"Kamu sudah sarapan?" Pertanyaannya malah membuatku merasa bersalah, dia sepertinya baik tapi karena suasana hatiku yang tidak baik malah membuat dia kena imbasnya.
"Aku akan mencari Adam dan makan. Terimakasih Kak." Timpalku dengan senyum tulus dan langsung berjalan menjauh darinya.
Kurasa aku tidak akan pernah bisa berada dalam lingkungan yang sama dengan teman-teman Lucas. Kami terlalu berbeda. Apalagi mereka adalah orang-orang yang cukup dewasa.
Aku kembali memacu langkah dengan normal setelah berhasil menghilang dari tatapan Reksya.
Berjalan kearah kamar Adam dan mengetuknya dengan pelan. "Siapa?" Suara Adam terdengar segar. Mungkin dia sudah mandi.
"Ini aku." Jawabku ragu.
Dia membuka pintu, menampakkan mata coklatnya yang terlihat bingung. "Kamu mau masuk atau bicara di luar?" Pertanyaan blak-blakkan itu mau tak mau membuat pipiku memerah dan dapat kulihat raut geli di wajah Adam. "Sebaiknya memang di luar." Ucap Adam menutup pintu kamar.
Adam mengajakku berjalan kearah belakang, di taman kemarin kami berkumpul dengan Andre dan Vio.
"Ada apa?" Tanyanya tanpa mau sibuk basa-basi. "Tentang semalam?" Pertanyaan lagi.
"Kamu pasti tahu penyebabnya." Itu pernyataan karena melihat dari wajah Adam saja, aku tahu dia sudah menebak apa yang terjadi.
"Dia tidak mungkin kembali Dea, polisi jelas sudah menembaknya." Aku tanpa sadar mengangguk tapi semua tidak membuat aku berpikir hal yang sama.
"Itu terlalu nyata Dam." Jawabku akhir nya. "Aku takut." Aku menggenggam kedua tanganku. Meremasnya dengan cukup kencang. Adam memperhatikan ku.
"Aku akan bicara dengan Om Hendra tentang ini. Kurasa obatmu harus dikembalikan." Adam menatapku prihatin. Dia tentu masih ingat dengan kejadian 2 tahun yang lalu.
Aku mengangguk lagi bagai orang linglung. "Rasa darah itu masih sama." Gumamku tidak jelas.
"Dea, dengar! Jangan mengingat itu semua. Itu akan memperburuk keadaan." Adam memegang kedua bahuku, menatapku dengan netra coklatnya yang menenangkan.
"Aku akan berusaha." Jawabku tak janji.
***