Tidak jangan lagi. Berhenti. Kumohon hentikan sekarang. Aku tidak mau lagi ada disini. Aku menggeliat tak nyaman, tahu kalau sebentar lagi sosok misterius itu akan muncul dan benar saja, ia sudah berada di dekatku. Menyunggingkan senyum geli dan memujanya. Untuk setiap mimpi buruk yang kualami tentangnya sekaranglah aku baru bisa melihat bibir itu dengan jelas. Bibirnya tipis atas dan tebal di bagian bawahnya. Terlihat menggoda tapi juga menakutkan. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan dari dirinya, tatapan di balik tudung itu atau pisau yang sekarang tengah ia genggam dengan tangan kanannya. Tapi yang pasti tubuh kakunya menandakan ada sesuatu di balik setiap langkah yang mulai ia ambil. Aku ingin bertanya, seandainya saja kain itu tak menyumpal mulutku. Mataku melirik arloji yang

