Aku terjatuh dengan kasar di atas ranjang, mencoba bangun hanya untuk di jatuhkan lagi dengan sama kasarnya. Ku tatap mata sekelam malam itu agar dia tahu aku membenci setiap kekasaran yang ia berikan padaku. Tapi mata itu seolah mempunyai pengendalian diri yang patut diacungi jempol.
Bahasa tubuh nya tenang. Membuat rasa marahku bangkit dan ku yakinkan diriku kalau aku memang tak akan pernah menyukai laki-laki ini.
"Biarkan aku pulang." Ucapku akhirnya setelah memilih cukup banyak kata hanya itu yang mampu terucap. Apalagi gugup melandaku.
"Pulang?" Dia bertanya seolah tak cukup mendengar kata yang aku lontarkan.
"Kumohon.." kali ini aku mengiba. Sejahat apapun mereka, tetap saja mereka keluargaku. "Izin kan aku kembali ke Papaku."
"Papa yang tidak bisa melindungimu?" Nada marahnya terdengar menakutkan. Apalagi saat aku mengingat ancaman yang di berikannya pada Papa membuat aku merinding. Aku takut pada laki-laki ini.
"Dia mencoba melindungiku tapi kamu terlebih dulu datang." Belaku. Mengingat Papa membantah kata yang terucap di mulut Mama.
"Kalau dia mampu melindungi putri nya, maka dia tak akan menyerahkan kamu padaku." Teriakannya membuat aku terkesiap kaget. Dia terlihat merasa bersalah tapi matanya seolah tak bisa di ganggu gugat.
"Tidak. Dia tak mungkin menyerahkan aku pada orang lain." Aku menggeleng tak habis pikir.
"Orang lain? Heh, jadi bersiaplah tinggal dengan orang lain ini." Saat dia berbalik untuk keluar dari kamar, aku langsung beranjak hendak berlari keluar tapi dengan cepat dia meraih pinggangku dan langsung membawaku keatas ranjang tapi kali ini ia diam diatas tubuhku membuat aku meronta.
"Sebaiknya jangan memancing kemarahanku. Karena kamu tidak akan suka akhirnya." Dia menyatukan tanganku diatas kepalaku. Tangan nya yang bebas meraba setiap tekstur bibirku, seolah ia tak mampu mengendalikan dirinya.
Saat wajahnya semakin mendekat aku mengelak. Berusaha tak memberinya apa yang ia inginkan.
"Lepaskan aku.. biarkan aku pergi.." Aku meronta tak mau berhenti. Walau usaha itu hanya sia-sia. Lucas bukan tandingan buatku.
"Diam!" Kali ini bentakannya membuat aku terdiam tapi tak surut juga tatapku menantang tatapannya. "Sekali lagi kukatakan, mereka tak menginginkan mu."
"Papaku menginginkan ku." Jawabku cepat.
"Bahkan walau dia menginginkanmu dia tak bisa melindungimu, seperti dia tak bisa melindungi Mamamu. Papamu seorang pengecut, dan kamu harus terima itu."
"Tidak. Papa tidak seperti itu." Aku menggeleng berusaha menolak penjelasan menyakitkan tersebut.
"Kamu hanya anak di luar nikah, tapi kamu masih saja ingin mempertahankan Papamu. Kamu benar-benar bodoh." Aku menatapnya dengan nanar. Anak di luar nikah? Aku hanya anak haram? Aku.. ya tuhan bunuh aku.
Lucas melepaskan aku. Menatapku seolah aku adalah orang asing. Apa ia merasa bersalah sekarang? Apa sebenarnya yang dia tahu tentangku?
"Katakan dimana Mamaku?" Aku bertanya mendekatinya yang terlihat menjaga jarak. Kulihat dia membisu dan terlihat kaku. Mata hitam itu tak pernah bisa terbaca. "Kamu tidak mau mengatakannya?" Aku kembali mendekat saat dia mundur.
"Istirahatlah." Dengan kata itu ia keluar.
"Kamu akan menyesal jika tidak mengatakannya." Aku berteriak tapi seolah teriakan ku hanya angin lalu buatnya karena tanpa menunggu apapun ia langsung meninggalkan aku sendirian.
Aku masih bisa mendengar suaranya saat dia berucap entah pada siapa. "Suruh Jev membawa beberapa penjaga kerumah ini. Aku tidak mau dia mendapatkan celah untuk keluar."
"Ya tuan."
Aku merosot di dekat pintu, tak pernah kurasakan hatiku segamang ini. Apa yang harus aku lakukan?
***
"Anda harus makan Nona, saya takut di marahi kalau anda tidak memakan makanan anda. Bahkan ini sudah siang dari tadi malam anda belum makan." Suara itu lagi. Aku masih saja diam di bawah selimutku, tak terlalu peduli dengan suara yang selalu sama.
Aku sudah mencoba segala cara untuk kabur tapi tetap tak ada jalan. Lucas benar-benar memblokir jalan keluar untukku.
Aku memang lapar. Bahkan dari tadi malam, tapi ini aksi terakhirku untuk bisa membuat Lucas membuka suaranya.
"Saya mohon nona, dengarkan saya. Anda tidak tahu bagaimana kalau Tuan sudah marah." Tanpa di beritahu juga aku sudah tahu betapa mengerikanya dia.
"Saya.."
"Siapa namamu?" Tanya ku membuat dia terdiam cukup lama.
Kukira ia tak akan menjawab tapi dia bersuara." Julie. Nama saya Julie."
Aku membuka selimut, menatap wanita yang seumuran dengan Kak Dera. "Julie aku tak lapar. Dan tak bisa di paksa makan. Jadi keluarlah, karena aku butuh sendiri." Aku kembali menutup diriku dengan selimut setelah menyelesaikan kata-kataku.
Tak ada suara lagi dan terdengar bunyi pintu di tutup, setelah wanita bernama Julie itu keluar.
Tak lama suara pintu di buka dengan kasar membuatku tertegun, selimutku di singkap dengan kasar.
"Kamu menghabiskan sisa sabarku." Dengan kata itu Lucas membangkitkan tubuhku hanya untuk di jatuhkan lagi bersamaan dengan tubuhnya. Aku berontak mencoba lepas dari belitannya.
Aku mencakar dan menendang, tapi aksiku tak membuat Lucas mundur dari mencoba mendaratkan bibirnya di bibirku bahkan dapat kurasakan sobekan kemejanya di tanganku.
Mataku terbuka menatap nanar selimut itu yang berserakan entah kemana. Kini hanya ada aku dan Lucas dengan dadanya yang sejak kapan telanjang? Kemana kemeja putih yang barusan ia kenakan.
Aku menatap mata sekelam malam itu. Mata itu terkesan lapar, bahkan tatapannya seolah menelanjangiku.
Aku menelan salivaku dengan gugup. Apa yang harus aku lakukan?
Tangannya meraba wajahku, merasakan setiap sensasi yang ada di sana. Bahkan sekarang ia menyunggingkan senyum menang saat tahu kalau tubuhku membeku.
Dia mendekat. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa tubuhku tak bisa berontak. Apa tubuhku segila ini pada sosok asing Lucas.
Yang dapat kusyukuri untuk sekarang adalah aku memakai celana jins panjang, hingga aku tak bisa merasakan bagian tubuh pribadinya.
"Kamu membuatku lapar.." suaranya yang terdengar mendesah membuat aku merinding dengan rasa asing yang menghampiri.
"Aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada Mamaku." Aku berucap membuat wajahnya terlihat berubah.
Tak ada lagi rasa lapar di sana. Malah kebencian itu seakan menguasainya. Kenapa masalah Mamaku terlalu sensitif untuknya?
"Jangan membahasnya sekarang." Ada nada memohon di sana. "Aku belum siap bercerita."
Aku mengangguk mengerti.
Dia tersenyum. Untuk pertama kalinya kulihat senyum itu.
Aku memegang wajahnya, mendekatkan ia ke bibirku dan melumat bibir itu dengan asal-asalan. Jangan salahkan aku karena tak terlalu bisa dalam b******u tapi kuharap pikirannya teralihkan.
Dia terlihat terkejut tapi tak urung mengambil alih permainan. Dia melumat bibirku dengan beringas seolah ini saat terakhir dia bisa menciumku, kuharap ini memang terakhir kalinya.
Aku meraba tubuhnya dengan kedua tanganku membuat dia semakin menggila, bahkan. Sekarang bibir itu menjelajahi leherku dan menggigitnya dengan gigitan kecil. Aku melengkungkan tubuhku semakin mendekat padanya, rasa asing ini membuat rasa maluku hilang entah kemana.
Setelah puas dengan tubuhnya, ku naikkan tanganku di kepalanya yang masih betah menyesap leherku. Rasa geli dan rasa mendamba membuat aku seakan gila. Tapi saat tangannya sudah ada di area dadaku aku melepaskan cumbuannya. Dia mengangkat wajahnya heran.
"Kamu tak akan bertindak terlalu jauh kan?" Tanyaku berharap ia memang tak terlalu gila untuk memaksaku memuaskan gairahnya.
"Kamu belum siap?" Pertanyaannya membuat aku tercengang. Kurasa aku tak akan pernah siap.
"Ya." Jawabku pendek.
Dia mengangguk dengan senyumannya. "Baiklah." Lucas bangun dan mengambil kemejanya yang ternyata ada di dekat meja lampu.
Aku memperhatikan gerak-geriknya saat dia mengambil selimutku dan menutupi tubuhku yang terlihat kaku. Dia duduk di sampingku, memegang kepalaku dan mengelusnya lembut.
"Kamu ingin makan?" Tanya nya manis. Aku ingin kamu keluar.
"Aku tidak lapar. Tapi aku ngantuk. Apa aku boleh istirahat?" Ucapku dengan nada memelas.
"Baiklah. Aku harus kembali ke kantor. Panggil Julie kalau kamu butuh apapun." Dia mengecup bibirku dengan cepat membuat aku tak bisa mengelak.
Aku mengangguk dan dia melangkah keluar.
***
Setelah dia keluar cukup lama, aku meraba kebawah bantalku dan tersenyum saat ponsel itu sudah ada di tanganku.
Tak akan terlalu menyenangkan kalau Lucas tahu aku memperdayanya.
Ku buka layar ponsel, untung tak ada kode kuncinya.
Aku menekan beberapa digit nomor yang sudah ku hapal di luar kepala, menunggu panggilan itu diangkat dengan cemas.
Tidak akan lama sampai Lucas sadar kalau ponselnya menghilang dari saku celananya.
"Hmm.. apalagi yang kamu inginkan?" Suara sapaan yang tak terlalu menyenangkan itu membuat aku mengernyit heran.
"Dam.. ini aku." Ucapku ragu.
Beberapa saat hanya suara angin yang ku dengar. "Dea? Ini kamu?" Adam mengenal suaraku.
"Dam bantu aku keluar dari sini, aku harus keluar dengan cepat." Suaraku menggebu.
"Maksud kamu?" Adam terdengar heran tapi juga khawatir.
"Lucas menahanku di rumahnya. Aku ingin keluar, kumohon bantu aku." Aku memelas.
"Apa yang kamu lakukan sampai dia bisa menahan mu?" Aku berdecak kesal.
"Bisakah aku menjelaskan nanti. Aku hanya butuh keluar sekarang." Jeritku frustasi. "Lucas sebentar lagi pasti akan menyadari kalau ponselnya hilang." Tambahku.
"Oke-oke.. Kamu di rumahnya yang mana?" Aku melongo mendengar pertanyaan itu.
"Sebanyak apa rumah Lucas?" Tanya frustasi.
"Lucas terlalu kaya hanya untuk memiliki satu rumah. Tapi baiklah kamu pasti ingat ciri-ciri rumahnya kan?"
Aku mengingat, saat pertama kali aku datang. "Ada pancuran di depan halaman. Juga ada pilar-pilar panjang di depan pintu utama. Kurasa rumah ini sangat besar. Oh ya rumahnya ada di dekat restoran siap saji. Restoran itu ada di depan rumah, berseberangan dengan jalan raya." Jelasku panjang lebar. Untung ingatan ku cukup jernih.
"Sudah kuduga dia akan membawamu kesana, aku akan melihat keadaan dulu. Kamu tunggu aku, karena Setahuku Lucas ada rapat pemegang saham sore ini jadi dia akan terlalu sibuk untuk mengetahui kamu melarikan diri."
"Cepat!" Ucapku tak sabar dengan penjelasan panjang lebarnya. Aku langsung mematikan sambungan saat ku dengar suara langkah kaki.
Aku buru-buru menghapus daftar panggilan dan langsung terjun keranjang, melempar ponsel itu kebawah ranjang dan mecoba bergelung dengan nyaman di bawah selimutku.
Ku dengar suara pintu di buka, aku menutup wajah seolah sudah tertidur.
Hanya beberapa langkah kaki yang ku dengar, dan berhenti di dekatku. Cukup lama siapapun itu berdiri di dekatku, apa Lucas curiga?
Tapi aku dapat menghembuskan nafas lega saat suara pintu tertutup dan kamar kembali sunyi senyap.
Semoga Adam benar-benar datang.