Chapter 6

1184 Words
Aku mondar-mandir tak tenang. Bagaimana kalau Lucas ternyata curiga? Bagimana kalau Adam tak berhasil menembus keamanan yang di perketat oleh Lucas? Lebih parahnya lagi aku sudah 4 jam menunggu dan belum ada perkembangan sama sekali. Apa yang harus aku lakukan kalau Adam tak datang? Aku tidak mungkin diam saja di sini sementara ada rahasia yang mereka sembunyikan dariku. Suara pintu di buka membuat aku dengan cepat mengalihkan tatapanku, rasa senang menggelayuti tubuhku karena Adam sudah berdiri di sana dengan senyum menyebalkannya. Yang baru kusadari sekarang adalah dadaku tak lagi berdebar melihat senyum nakal itu. Apa semudah itu aku kehilangan minat pada pria yang ku dambakan hampir dua tahun ini. "Aku sudah mengusir para penjaga. Tapi secepat mungkin kita akan ketahuan jadi sebaiknya kita bergegas." Aku mengangguk. "Apa kamu bawa barang?" Tanyanya mengedarkan tatapannya keseluruh ruangan. "Aku tak akan terlalu merepotkan karena aku hanya membawa diriku sendiri." Ucapku dengan senyum bercanda. "Gadisku yang pintar." Adam langsung berjalan keluar di ikuti olehku. Benar saja, keadaan terlihat sepi. "Apa yang kamu lakukan sampai tak ada satu orangpun di sini?" Tanyaku cukup heran, Setahuku saat aku di seret kemarin aku melihat beberapa pelayan berlalu lalang. Tapi sekarang rumah ini seolah kuburan saja. "Cukup cerdik untuk membuat mereka khawatir." Jawab adam sok misterius. "Kurasa aku tak mengerti." Ucapku menggeleng kepala, dengan langkah yang terus kami pacu. "Gadis baik tak boleh tahu, nanti malah di ikuti." Adam menepuk kepalaku seolah aku hanya anak kecil tapi tak urung aku senyum dengan perlakuannya. Adam sosok pelindung buatku dari dulu. "Aku tak sekecil itu." Timpalku. "Oke. Cukup dengan pertanyaan tak penting. Itu mobilku." Adam menunjuk mobil merah yang mencolok, membuat aku mengerutkan alis. "Kamu tak terlalu pintar membawa gadis untuk kabur." Ledekku. "Aku ingin membuat si gadis kagum agar dia mau kabur denganku." Dia memang selalu mempunyai kata untuk membalas. "Baiklah kamu menang." "Selalu menang. Ayo cepat, Lucas pasti sudah menyadari kalau kamu sudah hilang dari rumahnya. Tapi dia tak akan tahu kalau akulah tersangkanya." Aku mengikuti Adam memasuki mobilnya. Ku tatap ia. "Kenapa dia tak akan tahu kalau kamu tersangkanya?" Tanyaku ingin tahu. "Apa aku belum bilang kalau gadis baik tak boleh tahu.." "Adam!" Pekik ku kesal, dia tertawa lalu melajukan mobilnya dengan cepat. "Maaf." Kali ini ia terlihat serius. "Buat?" Kurasa ia tak pernah salah. "Aku mengejarmu waktu itu tapi kulihat Lucas sudah ada di sana jadi aku merasa tak di butuhkan lagi. Maaf, aku tak tahu kamu sedang sedih waktu itu. Aku malah menambah beban pikiranmu." Aku ingat aku memang merespon Adam dengan cara kasar. Tapi itu karena aku ada masalah, juga ada perasaan terkhianat olehnya. "Tak apa. Harusnya aku sebagai sahabat membuatmu merasa lebih baik tapi pasti aku memperburuk suasana." Elakku jujur. "Lucas mau membantuku menyelidiki tentang wanita yang membohongiku." "Apa maksudmu?" Kupotong kalimatnya, terlalu kaget dengan penjelasannya. "Tenyata aku tak pernah menyentuh wanita itu. Aku di tipu, dan juga aku sudah tes diriku. Aku masih utuh. Kamu mengerti?" Aku mengangguk tahu maksud dari utuh itu. "Jadi Lucas mau membantu?" Tanyaku tak percaya karena Lucas masih peduli pada orang lain, walau Adam memang sepupunya. "Itu sebabnya aku tak berani terang-terangan mengaku menjadi orang yang mengeluarkan kamu dari rumah itu. Aku minta maaf, kamu tahu Lucas bisa murka apalagi tentang kamu." Aku mengangguk walau nyatanya aku tak mengerti apa spesialnya diriku sampai Lucas seperti itu. "Sampaikan permintaan maafku pada orang yang akan bertanggung jawab atas ini nanti kalau kamu bertemu dengannya." "Jadi kamu membuat orang lain jadi tersangka?" Tanyaku tak percaya. "Maaf." Nada memelasnya membuat aku tak tega marah padanya. Demi tahu dimana Mama aku rela mengorbankan siapapun walau ada rasa tak tega di hatiku. "Kurasa aku tak akan bisa meminta maaf padanya." Ucapku sarat dengan rasa bersalah. "Baiklah. Kita akan kemana?" Adam mengalihkan topik pembicaraan. "Bertemu Papa." *** Aku menyeruput jus jerukku dengan perasaan was-was. Adam mencari Papaku yang katanya sedang ada di kantor. Semoga dia tak terlalu sibuk untuk bertemu dengan anak haramnya. Rasanya miris. Aku mendongak saat pintu kafe terbuka, langsung bangun saat kulihat Papa dan Adam memasuki area kafe. "Pa?" Papa melangkah dengan cepat dan langsung memelukku dengan erat. "Papa baik-baik saja?" Tanyaku melepas pelukan Papa agar bisa melihat wajahnya. "Anak Papa. Jangan menangis, maaf Papa tak pernah bisa berbuat apa-apa padamu." Papa menghapus airmata ku yang mengalir sejak kedatangannya. Aku menggeleng. "Papa sudah berbuat banyak buat Dea. Papa memberikan Dea keluarga, ada Mama Kak Dera. Walau sekarang mungkin mereka membenci Dea." Timpalku sedih. "Mama kamu menyayangi kamu Nak, walau dia selalu mendahului Dera di banding dengan kamu tapi Papa tahu Dina menyayangi kamu. Dia hanya masih belum bisa menerima kamu sebagai anak Papa dari wanita lain." Aku mengangguk, ikut duduk saat Papa duduk. "Dea gak pernah punya niat buat merebut Lucas dari tangan Kak Dera. Papa tidak marah kan sama Dea?" Aku kembali merebahkan kepalaku di bahu Papa, masih sesenggukan dengan tangis. "Tidak nak. Tidak mungkin Papa marah, Lucas memang dari awal menginginkan kamu, bukan Dera. Lucas mendekati Dera hanya untuk balas dendam pada Dina. Ini semua salah Papa." Aku mendongak tak mengerti dengan setiap ucap yang terlontar di mulut papa. "Kenapa Lucas seakan terhubung dengan Mama? Dan kenapa Lucas selalu terlihat Marah saat aku membahas Mama?" Aku butuh jawaban sekarang. Papa menghembuskan nafas, terlihat lelah entah oleh apa. "Ceritanya panjang tapi Lucas memang berperan penting dalam hidup Mama kamu." Aku semakin bingung. Pria arogan seperti lucas berhubungan dengan Mama? "Jelaskan pada Dera Pa." Pintaku. Papa menerawang. "Dulu saat Delila, Mama Lucas mengandung Andre. Mamamu adalah sosok pengganti buat Lucas, Mamamu yang selalu merawatnya. Mamamu sudah di anggap sebagai mamanya sendiri. Bahkan kasih sayang Lucas pada Mamamu melebihi pada Mamanya sendiri. Seingat Papa saat Papa pertama kali bertemu Lucas saat itu dia bersama Mama mu, dia masih kecil." Papa terlihat sedih, pun terlihat enggan mengingat kembali masalalu tapi aku harus egois sekarang. "Mamamu teman sekolah Papa dulu, kami bertemu lagi saat Mama kamu mengantar Lucas berobat. Di sanalah percikan cinta kami yang dulu masih muda terulang. Entah setan apa yang merasuki Papa hingga Papa seolah tak sadar akan perbuatan bejad yang Papa lakukan. Mama kamu tidak pernah cerita kalau dia sudah mengandung kamu tapi semuanya berubah saat Papa mulai curiga dengan perubahan tubuhnya. Dia sering muntah-muntah juga pusing. Saat Papa tanya dia selalu bilang baik-baik saja. Puncaknya saat dia tiba-tiba menghilang entah kemana. Yang Papa tahu Delila menyembunyikan keberadaannya. Dan sisanya Delila datang menyerahkan kamu kepelukan Papa. Dia bilang mama kamu sudah tiada. Entah bagaimana hancurnya papa dulu." Aku menjerit dalam pelukan Papa. Tahu kalau ternyata sosok yang aku inginkan untuk bertemu telah tiada. Apa hebatnya mengetahui kamu memiliki mama kandung tapi sudah tiada? Aku menangis tersedu, memukul dadaku sampai terasa sakit. Papa mengelus kepalaku tapi tak berusaha berucap apapun mungkin dia tahu aku tak butuh kata apapun. "Sekarang dimana makam Mama?" Tanyaku saat tangisku cukup reda. Papa menggeleng. "Lucas tak pernah mau memberitahu Papa. Bahkan Delila juga tidak, ia terlalu takut atas murka anaknya." Jadi Lucas kunci di balik semuanya. "Dea harus pergi Pa?" Aku menghapus airmata ku. Aku siap dengan apapun yang terjadi jadi aku akan menemui Lucas sekarang. "Tapi Nak.." "Aku harus tau dimana makam wanita yang melahirkan ku." Itu nada yang tak dapat di bantah lagi. "Papa harap kamu tahu apa yang akan terjadi kalau kamu kembali pada Lucas. Ingat Papa selalu ada saat kamu butuhkan, pergilah Nak." Aku mengangguk kembali memeluk papa dan berlalu dari sana. Aku tidak tahu Adam dimana tapi begitu aku melangkah keluar kulihat dia sudah ada di sampingku. Tanpa bersuara.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD