Musim libur semester telah tiba. Nilai KHS pun sudah terpampang di situs sistem akademik kampus. Rupanya, usaha sekuat apapun yang Juwi lakukan, belum bisa menyelamatkannya untuk bisa tembus IPK 3. Lumayan, meski cuma 2,87 plus bonus ceramahan panjang dari Bunda. Juwi sudah menduga, dan nggak kaget lagi. Jadi, karena sudah saking apalnya tiap semester bakal begini, maka telinga Juwi sudah kebal oleh omelan Bunda yang tidak variatif itu, kalimat monoton yang selalu sama. "Neng, bisa ngak sih belajarnya ditingkatin. Sampai kapan kamu mau begini? Jadi dokter itu nggak main-main lo. Kalau dari sekarang aja kamu nyepelein kuliah, gimana nanti kalau udah terjun nanganin pasien? Kamu mau nyepelein pasien?" Bla bla bla, ocehan terus berlanjut, sementara Juwi hanya mendesah pelan sambil memutar m

