BAGIAN.8

1638 Words
Besok pagi Carlos terbangun dengan Zahra tidak ada disebelahnya, Carlos bangun dari tempat tidur nya, ia membersihkan diri untuk siap-siap pergi kekantor. Ia senang satu persatu permasalahan dikantornya sudah mulai membaik, walau pun pria tua itu masih dalam tahap pencarian. Ia tidak akan melepas kan tua bangka itu, Carlos turun kebawah dengan pakaian sudah sangat rapi, ia melihat istrinya tengah menyiapkan sarapan pagi seperti biasa, pemandangan ini yang sudah sangat jarang ia lihat karena terlalu sibuk dengan Lisa, betapa bodoh nya ia yang dibutakan oleh nafsu, dan mengacuhkan keluarganya. Disana sudah lengkap ada Zidan yang tengah bercerita dengan Opa nya dan Ibu mertua yang tengah membantu istrinya menyiap kan sarapan, Carlos tersenyum sambil menghampiri mereka. Ayah yang melihat Carlos pun langsung tersenyum "ayo nak kita sarapan bersama."ajak ayah mertua nya. "Ayah duduk disini saja biar saya duduk disebelah Zidan." Kata Carlos dengan sopan sambil menggeser kursi bagian kepala keluarga untuk mertua nya duduki. Ayah zahra tersenyum kearah Carlos dan duduk di kursi tersebut. Carlos duduk disebelah anak. "Zidan tadi cerita apa." Kata Carlos kezidan. "Zidan tadi tanya sama opa surga itu seprti apa."kata zidan sambil tersenyum. Carlos kan kening nya" memang surga itu seperti apa."tanya Carlos "Kata opa, surga nya allah itu sangat indah, ada sungai-sungai yang mengalir dan juga taman yang indah juga, pas banget yang ada dimimpi zidan dan zidan sebentar lagi juga bakal kesana, karena Zidan udah janji." Kata Zidan dengan raut senang. "Memang Zidan janji sama siapa." Tanya Carlos lagi. "Rahasia, Zidan nggk boleh kasih tau, tapi dia orang nya sangat tampan dengan badan tinggi besar, hidung nya sangat panjang seperti pinokio."kata Zidan dengan polos, Carlos terkekeh mendengar penuturan anak nya. Carlos beranggapan itu hanya hayalan anak kecil saja, disana zahra sudah terdiam tidak tau harus bagai mana, ia ingin menangis tapi ia tidak sanggup.. "Oya, minggu depan papa mau ajak Zidan jalan-jalan. Papa udah cari tempat yang bagus, disana kita juga bisa menggambar, Zidan pasti suka."aja Carlos, namun wajah Zidan seketika menjadi sedih, tidak ada raut kebahagiaan disana. "Zidan tidak bisa." Kata anak nya. "Kenapa tidak bisa? Zidan masih marah sama papa ya? Papa janji mulai sekarang papa nggk bakal pergi lagi, papa nggk bakal pulang telat lagi, papa janji." Kata Carlos dengan sungguh-sungguh, kata-kata itu tidak hanya untuk anak nya juga untuk Zahra. Zidan tersenyum lalu memeluk papanya "zidan sayang papa, tapi Zidan sudah janji sama dia, mau ikut ketaman bunga yang ada sungai nya, disana sangat indah, tapi sayang papa sama mama nggk boleh ikut."kata Zidan dengan polos nya. "Sudah ayo sarapan, kamu juga makan." Suruh Zahra kepada Carlos, tidak ada lagi panggilan sayang dari Zahra. Tapi perlakuan nya tidak berubah, tetap sama seperti dulu.. "Zidan sayang, kaka dito katanya mau kesini." Zidan seketika tersenyum senang. "Mama nantik panggil ayu ya, suruh kesini juga." Zahra mengangguk. *** Sepanjang perjalanan menuju kantor ia termenung, ia memikirkan kata-kata anak nya. Dikantor orang-orang menyapa nya, tapi Carlos tetap berjalan mengindah sapaan mereka, karen sedang memikirkan Zidan, ia merasa anak nya hari ini sangat lah aneh. Setiba nya diruang kerja ia melihat Lisa tengah duduk diatas meja nya sambri tersenyum genit. Wanita itu berjalan kearah nya dengan sensual, Carlos hanya diam melihat wanita itu tampa minat. "Hentikan Apapun yang ada dipikiran mu Lisa. Aku sudah mengatakan berulang kali agar kau berhenti mengganggu ku."kata Carlos dengan tegas. "Ooh benar kah." Kata Lisa tampa takut, ia mereba d**a bidang milik Carlos seraya menghembus kan nafasnya dileher pria itu. Hampir setahun menjalin kasih ia sangat tau dimana letak sensitif bos kesayangan nya itu. Lisa bisa lihat bukti gairah Carlos yang terbalut celana didalam sana, ia meraba dengan sensual. "Kau mungkin menolak sayang, tapi tidak dengan ini." Kata Lisa dengan terus membelai yang dibawah sana. Namun seketika Carlos mendorong Lisa dengan kuat hingga wanita itu terjatuh. "Kau sunggu tidak malu Lisa, aku sudah beberapa kali mengatakan, kita sudahi perselingkuhan ini, saat ini aku ingin kembali bersama keluargaku."kata Carlos marah. Lisa yang dipelakukan kasar untuk pertama kalinya pun menangis. "Aku memcintai mu mas, tidak kah kau tau itu."kata Lisa seraya menangis. "Tapi aku tidak bisa bersama mu lagi Lisa, tolong mengerti lah."kata Carlos melembut. "Bagai mana kau bisa meninggal kan ku seperti ini ha, kau sudah menikmati tubuh ku Carlos, setalah itu kau buang begitu saja seperti sampah."teriak Lisa tak terima penolakan. "Jangan mengungkit tentang itu Lisa,kita sama-sama tau, kau lah yang pertama kali merayu ku hingga samapi memberi ku obat perangsang."ucap Carlos dengan datar seraya berlalu begitu saja. Lebih baik ia pergi dari pada termakan oleh rayuan Lisa lagi. Dirumah Zidan sangat senang Ayudiah dan juga Dito tengah bermain bersama nya. Zidan mengajak mereka untuk menggambar orang-orang yang mereka sayang seperti kelurga dan juga teman. Ayudiah menggabar zidan, sedang kan Dito menggambar ibu dan ayah nya, sedang kan zidan ia hanya menggambar wajah zahra. Seperti biasa gambar Zidan tidak diragukan lagi, sangat cantik. Dito dan Ayu sempat kagum melihat gambaran Zidan yang begitu detail dan juga mirip seperti figura zahra. Ayu juga pintar menggambar namun tidak sebagus Zidan, Dito yang tidak ada bakat dalam menggambar hasil nya yah bisa dikatagorikan gambaran anak SD pada umum nya. "Sepertinya aku sama sekali tidak berbakat dalam menggambar." Kata Dito, sedih. "Tidak apa-apa kak, menggambar itu tidak perlu bagus, tapi ketulusan dan bentuk cinta kepada orang yang kita sayangi, karena kita mengambarnya dari hati. Itu opa yang sering bilang sama Zidan." ucap Zidan serya tersenyum. "Nantik zidan buatkan gambar tante intan sama om keanu buat kak Dito ya, sebagai kenang-kenangan." Kata Zidan tersenyum tulus. "Cuman Dito aja yang dibuatin, Ayu kan juga mau."kata gadis kecil itu dengan cemberut. "Iya nantik Zidan buatin."kata zidan seraya membelai kepala Ayu. Zidan sangat menyayangi Ayu, Ayu adalah teman pertamanya dan juga selalu didepan jika ada orang menjailinya. "Uuh kecil-kecil udah genit."kata Dito dengan datar. "Iiih siapa yang genit, Zidan kan calon suami Ayu."Zidan hanya tersenyum menanggapi. "Diih pede, kaya Zidan mau aja sama gadis berisik kaya kamu."kata Dito dengan angkuh. "Iih Zidan mau tau."balas Ayu dengan tajam menatap Dito Zidan terkekeh pelan "Ayu calon suaminya diganti sama kak Dito aja, cocok."canda zidan. "Nggk mau, Ayu mau nya zidan aja jadi suami Ayu, Dito kaya penyihir, jahat mana jelek."kata Ayu dengan kesal. Seketika Dito menarik sedikit rambut Ayu yang dikuncir dua "iih apa sih, Dito nyebelin."teriak Ayu membahana. Zidan hanya melihat keduanya sambil tertawa. Hari sudah beranjak sore, Ayu dan Dito akhirnya dibawa paksa pulang karena pertengkeran hebat membuat seisi rumah menjadi kacau. Saat zahra hendak menutup pintu, Bastian memanggil nya. "Hy." Sapa Zahra. "Hmm maaf mengganggu."kata Bastian sopan. "Iya ada apa."kata Zahra seraya membalas senyum dangan sopan pula. "Kata nya Ayu tidak sengaja memecah kan guci rumah mu ya." Kata bastian. "Iya, tidak apa-apa, nama nya juga anak-anak. " kata Zahra "Om tiaaaaan" panggil Zidan dengan senang seraya berlari menuju bastian. Dengan sigap pria itu menggendong Zidan. "Om Tian aku punya sesuatu untuk om."kata Zidan dengam semangat. "Hmm apa itu." Zidan pun mengeluarkan sebuah kertas hasil gambar nya. "Ini untuk om Tian, ini aku dan juga om Tian."kata zidan dengan senang. Zahra tersenyum melihat anak nya yang begitu akrab dengan Bastian. "Bastian ya."kata suara ayah dari belakang. "Eeh iya om, saya bastian." Kata bastian dengan sopan ia mencium punggung tangan ayah. "Waah semakin tampan aja ya, gimana kabar mama papa mu, sehat."tanya ayah. "Alhamdullillah sehat om."balas nya. "Ayo masuk, tidak baik mengobrol didepan pintu."aja ayah nya. Dengam sopan ia mengikuti ayah dari belakang sambil menggendong Zidan. "Nak buat kan minum."suruh ayah nya kepada Zahra. "Eeh tidak usah pak , saya kesini cuman sebentar mau kasih tau kalau saya akan menggantikan guci yang dipecakan ponakan saya." Jelas tian. "Ooohhh tidak apa-apa, namanya juga anak-anak, tidak perlu diganti kok."kata sang ayah. "Benar mas Tian, tidak apa-apa."kata zahra. "Saya jadi tidak enak , tapi saya sudah memesan kan guci yang mirip dengan yang dipecahkan Ayu mungkin besok atau lusa sampai kesini."ucap Bastian. Mereka mengombrol cukup lama ditambah lagi dengan kedatangan Bunda. Zahra sedari tadi menatap Zidan yang seperti menekan perut nya, bulir-bulir keringat keluar membasahi wajah anak nya. "Zidan."panggil Zahra. Seketika semua mata menatap kearah Zidan. Bastian yang dekat dengan Zidan pun dengan cepat ia mengangkat anak itu. "Dimana kamar nya." Tanya Bastian kearah Zahra. "Diatas, mari ikut saya."Zahra berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Bastian dan juga kedua orang tuanya. Bastian meletakan Zidan dengan lembut. "Tidak apa-apa. Ini udah biasa, nantik sakit nya juga hilang."kata Zidan lemah. "Kita kedokter saja ya nak."kata Zahra seraya menangis. "Tidak perlu, Zidan mau disini saja, Zidan mau istirahat hmm sama opa."Zidan melihat kearah ayah Zahra. "Pergilah biar Zidan sama ayah, kamu panggil Carlos untuk pulang dan juga telfon mertua mu."ucap Ayah. Jika ayah berkata seperti itu. Berati ada apa-apa dengan anak nya. Mereka semua pun keluar, Zahra sudah menangis sedari tadi, entah kenapa melihat air mata Zahra membuat nya merasa sedih. "Zidan anak yang kuat."kata Bastian dengan tanpa sadar menyeka air mata Zahra. Mereka sama-sama kaget lebih lagi Tian,entah kenapa tangan nya dengan kurang ajar membelai air mata Zahra. "Maaf." Ucap nya pelan. Zahra mengangguk"aku permisi sebentar, ingin menlfon Carlos." Pamit Zahra. Ia menelfon Carlos berulang kali namun tidak ada jawaban dari sang empu. Ini sudah kesepuluh kali namun hasil nya sama. "Bagai mana nak."tanya bunda. "Tidak ada jawaban buk."kata zahra. "Sebaik nya kamu kekantornya nak, ini stuasinya darurat, biar mertua mu bunda yang mengabari" Kata bunda. Zahra mengangguk menyetujui perkataan bunda. Tampa menukar baju zahra sudah keluar rumah. "Zahra."panggil Bastian. Seketika langkah Zahra berhenti. "Biar aku yang mengatar mu, bahaya jika kau menyetir sendiri dengan keadaan kacau seperti ini." Zahra membenarkan ucapan Bastian. Ia pun mengikuti pria itu menuju mobil nya. dilain tempat, Carlos dan juga lisa tengah memandikan keringat,seketika teriakan carlos pun terdengar. "ini begitu nikmat."geramam carlos terdengar begitu frustasi. "Yah sangat nikmat bukan, melakuakan perselingkuhan itu memang nikmat suami ku." Seketika keduanya terkaget dengan kedatangan Zahra. zahra tengah menatap sinis kedua nya. Tbc Gantung dulu ya biar makin penasaran wkwkwkw
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD