Amanda terbangun dari tidurnya ketika tangan mungil Rafa membelai lembut wajahnya. Perlahan Amanda membuka matanya melawan rasa kantuknya. " Kok bangun sayang? Ada yang sakit?" Rafa menggeleng. " Abang nggak sakit kok, Ma. Tapi nggak tahu kenapa tiba- tiba di hidungnya langsung keluar darah." " Apa abang lagi mikirin sesuatu?" Rafa lalu kembali menggeleng sendu. Wajahnya nampak sedih namun berusaha menyembunyikannya. " Kenapa nak?" Rafa kembali menggeleng. Bibirnya nampak bergetar. " Abang... Ada yang mau abang ceritain sama mama?" Rafa kembali menggeleng. " Mama, abang ngantuk." Hati Amanda seketika merasa begitu teriris. Ia tahu anaknya sedang tidak baik- baik saja. Rafa hampir sama seperti dirinya. Meski terlihat kokoh, namun ia rapuh si dalamnya. Meski ia masih sangat kecil,

