Vando memijit pelipisnya. Ia merasa bersalah karena telah mengomeli putranya. Namun, ia tadi terlanjur sebal. Arin, anak gadisnya itu takut dengan ayam, tapi kedua pria yang Vando percayai malah asik berdebat. Coba tadi kalau ia tak ada, entah apa yang akan terjadi dengan anak gadisnya yang satu itu. Untung saja, sejak pengeroyokan yang terjadi pada Arin waktu itu, Vando selalu memata-matai anak-anaknya untuk memastikan mereka sampai di sekolah dengan selamat. Vando menghela napas kasar. Ia pun menyenderkan punggungnya ke kursi. Mata Vando terpejam. Bayangan raut wajah kecewa Gio mendadak terlintas kembali ke pikirannya. Mungkinkah ini keputusan yang benar dengan menghukum mereka berdua? Tapi kenapa dadanya terasa sakit melihat wajah terluka putranya? Entahlah! Vando sendiri bingung. "A

