Gio bergerak resah di kasurnya. Semalam suntuk ia tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak. Otaknya seakan tak mau berhenti bekerja. Ia terus kepikiran Arin hingga pagi menjelang. Otaknya terus bertanya, apa Arin tidur dengan nyenyak tadi malam? Siapa yang menemani Arin, kalau Arin mimpi buruk? Apa Arin baik-baik saja di sana? Gio mengusap rambut gusar. Ia benar-benar pusing memikirkan itu. Ia sudah mencoba menghubungi Arin, tapi ternyata nomor kembarannya itu tidak aktif. Sepertinya sang Daddy benar-benar marah kali ini. Gio memeluk gulingnya. Guling yang sama dengan Arin. Guling bergambar kartun Puroro berwarna biru, sedangkan Arin berwarna merah muda. Guling yang telah menjadi kesayangan mereka. Guling kado ulang tahun dari sang daddy saat usia mereka 15 tahun. Aneh kenapa sang daddy

