11. Putus

1321 Words
"Gue mau kita putus," gumam Arin. Tadi ia meminta Erlan untuk menemuinya di taman depan rumahnya. Arin menunduk. Ia tak berani mengangkat wajahnya. Erlan menatap gadisnya tak percaya. "Pu-putus?" Arin mengangguk. "Lo gak sakit kan, Seblak?" tanya Erlan tak yakin. Setahunya akhir-akhir ini tak ada perdebatan antara ia dan gadisnya. Tidak mungkinkan gara-gara tadi malam? Tadi malam kan mereka sudah baikan, lalu kenapa tiba-tiba gadisnya meminta putus? Arin menggeleng. Lidahnya kelu. Suaranya pun seperti tercekat di tenggorokan. "Jangan bercanda, Seblak. Ini gak lucu sumpah!" desis Erlan. Matanya menatap Arin tajam. Arin masih tak bersuara. Wajahnya semakin tertunduk. Ia merinding. Di depannya benar-benar Erlan kan? Karena takut ia pun menatap kaki Erlan. Ia menghembuskan napas lega saat kaki Erlan ternyata menapak di tanah. Arin menggeleng mengusir pikiran absurdnya. Ia harus fokus terhadap tujuannnya tadi. "Kenapa?" tanya Erlan pelan. Erlan memijit pelipisnya. Mencoba menahan emosi yang sudah berada di puncak kepalanya. Gadisnya masih terdiam. Dengan keras ia meninju dinding gazebo yang berada tepat di sampingnya. Arin terlonjak kaget. Ia tak tau Erlan akan semarah ini. Mata Arin terpejam saat Erlan meremas kedua bahunya. "JAWAB, SEBLAK! KENAPA?!" bentak Erlan. Rasanya Arin ingin menangis sekarang. Dengan sekuat tenaga ia menahan airmatanya agar tak jatuh mengalir. Arin meringis membuat Erlan sadar. "Maaf," sesal Erlan. Ia tak sadar kalau telah menyakiti bahu gadisnya. Erlan menangkup pipi Arin. "Liat gue, Seblak," kata Erlan lirih. Arin pun menatap Erlan. "Kenapa?" Arin menyingkirkan tangan Erlan dari pipinya. Ia tak menyangka Erlannya akan sekacau ini. "Gue capek, Santen. Lo terlalu cuek. Kadang gue mikir sebenarnya gue ini pacar lo apa bukan sih? Jangankan cium, pegang tangan gue aja jarang banget. Sekarang lo marah gara-gara gue minta putus. Harusnya gue yang marah karena sering banget diabaikan sama lo. Gue juga pengen kayak yang lain. Saling menunjukan kalau kita itu pasangan, tapi apa? Bahkan si Aryo aja bilang lo itu cuma halusinasi gue doang. Gue capek, Santen, capek! Masa cuma gue doang yang nunjukin kalau lo itu pacar gue, emangnya gue lagi uji nyali. Enggakkan? Sedangkan lo cuek aja, tapi giliran ada yang deketin gue lo marah." Erlan tertegun. Ia tau itu. Bahkan sangat tau. Gadisnya tak akan pernah meminta ia untuk berubah. Karena ia memanglah seperti itu. Erlan memejamkan matanya sekilas. Ia mendongak menahan laju air matanya. Namun ternyata gagal. Katakan saja kalau ia cengeng, tapi bukankah air mata laki-laki lebih jujur? Ia sangat menyayangi gadisnya, tapi kalau gadisnya tak bahagia, lantas ia bisa apa selain melepaskan gadisnya pergi? "Oke," kata Erlan singkat. Kini berganti Arin yang menatap Erlan tak percaya. Erlannya benar-benar terlihat sangat kacau saat ini. "Lo benar-benar biarin gue pergi, Santen?" Erlan mengusap kasar wajahnya. "Terus gue harus apa, Seblak? Bukannya itu yang lo mau? Gue bisa aja egois dengan menahan lo. Bahkan gue sanggup buat ngiket lo di kamar gue biar lo gak pergi, tapi itu gak bakal gue lakuin. Karena itu sama aja gue nyakitin lo. Sekeras apapun gue coba buat jadi kayak yang lain, gue gak bisa. Karena gue adalah gue. Gue sayang sama lo, tapi kalau lo gak bahagia sama gue, gue bisa apa selain membiarkan lo mencari kebahagian yang lain?" Sudut bibir Arin terangkat. Dengan tiba-tiba ia pun langsung memeluk Erlan erat. Ditenggelamkan wajahnya di d**a Erlan sambil menghirup aroma yang paling ia sukai itu. "Jangan kayak gini, Seblak. Gue bisa aja berubah pikiran dan benar-benar menyekap lo di rumah gue," ucap Erlan. Ia berusaha melepaskan pelukan Arin. "Lepas, Seblak!" Arin menggeleng. Ia semakin mempererat pelukannya. "Ada satu hal yang harus lo tau, Santen," gumam Arin. "Apa?" "Tadi itu gue cuma bercanda. Drama gue baguskan yah?" ucap Arin. Erlan berhasil melepaskan pelukan Arin. Ditatap gadisnya yang sedang menyengir lebar itu. "Maksud lo?" "April Mop," kata Arin sambil terkekeh pelan. "Gue gak tau harus ngomong apa lagi, Seblak, tapi yang jelas lo harus dihukum karena berani ngerjain gue," sahut Erlan. Arin meneguk ludah saat melihat senyum Erlan. Pilihan satu-satunya saat ini ada kabur. Namun, belum sempat ia berlari Erlan sudah menggendongnya seperti karung beras. "Maaf, Santeeennn!!" jerit Arin. "Gak lagi-lagi deh! Sumpah!" Erlan mengacuhkan teriakan Arin. Dengan langkah santai ia menuju ke suatu tempat yang sangat amat di benci oleh gadisnya. Setelah sampai ia langsung menurunkan tubuh Arin. Tubuh Arin limbung. Saat menyadari di mana ia diturunkan, Arin kembali melompat ke tubuh Erlan, dengan kaki melingkar tepat di pinggang Erlan. Erlan tersenyum puas. "Turun, Seblak! Ayamnya nyamperin tuh!" Arin menggeleng kencang. Ia menyembunyikan wajahnya di pundak Erlan. Dieratkan pelukannya saat ia mendengar suara ayam-ayam itu. Ya! Erlan membawa dirnya ke kandang ayam milik Daddy-nya. Daddy akan selalu mengancam ia dengan ayam-ayam itu bila ia membuat onar. "Gimana? Kapok?" Arin mengangguk. Erlan pun membawa gadisnya menjauh dari kandang ayam itu. Ia kemudian duduk di gazebo dengan gadisnya yang tak mau bangun dari pangkuannya. Ia merasa bersalah saat melihat wajah pucat gadisnya. Arin kapok. Ia tak akan lagi-lagi mengerjai Erlan kalau hasilnya seperti tadi. Jantungnya masih berdebar. Ia menatap Erlan sebal. "Itu bibirnya biasa aja. Mau coba ngegoda gue?" goda Erlan. Arin mendengus. "Di goda aja lo gak tertarik buat cium gue, Santen!" cibir Arin. "Oh, yah? Jangan salahkan gue kalau gue lepas kendali, Seblak." Erlan tersenyum tipis. Ia pun memiringkan wajahnya. Belum sempat bibir mereka bertemu, mereka meringis. "Bangun!" seru Ardo sambil menjewer telinga Erlan. "Siapa yang ngajarin kamu m***m gitu hah?!" "m***m apaan sih Pa, kecium juga belum, aduh-duh. Sakit Daddy!" seru Arin saat Vando juga menjewer telinganya. "Kamu umpetin di mana remot tivi hah? Sekarangkan jadwalnya Daddy nonton kartun!" omel Vando. "Tunggu deh, Van. Lo kalang kabut nyariin Arin cuma mau tanya remot tivi?" tanya Ardo tak percaya. "Iya," jawab Vando kalem. "Lo gak ngomel gara-gara mereka mau ciuman?" tanya Ardo lagi Dahi Vando mengkerut. "Kayak lo gak pernah pacaran pas muda aja! Oh iya yah lo kan jomblo sampai kuliah yak? Jadi gak ngerasain pacaran pas jaman sekolah." "Kok gue jadi kesel yak?" ketus Ardo. Vando tertawa lalu menyuruh Arin pulang. Setelah menemukan remot tivi, Arin melangkah ke kamarnya. "Loh, Gio? Ada apaan?" tanya Arin saat melihat Gio berada di kamarnya dengan wajah kacau. "Gue punya kabar buruk, Rin." gumam Gio. "Apa?" tanya Arin lagi. Ia berdiri tak jauh dari hadapan Gio. "Katanya Mom baru dapet kabar kalau gue ini ternyata bukan kembaran lo, Rin. Kembaran lo itu Erlan." Gio berkata dengan nada frustasi. Ia mengacak rambut gusar. "Jangan bercanda, Gio," kata Arin. "Lo gak boleh berhubungan lagi sama Erlan, Rin. Erlan kembaran lo, bukan gue," kata Gio lirih. Wajahnya menunduk sedih. Arin menggeleng kencang. Air mata yang ditahannya akhirnya menetes. Ia melangkah mundur dengan pelan lalu berlari menghampiri kedua orang tuanya yang sedang menonton. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Vando panik saat melihat Arin datang sambil menangis. "Apa benar Gio itu bukan kembaranku, Dad?" isak Arin. "Hah?" Vando melongo. Ia tak paham. "Nona," panggil Vando pelan. Ara menghela napas malas. "GIOOOOO!!" Gio langsung berlari menghampiri sang Mommy. Ia melongo melihat Arin menangis. "Duh, Rin, gue cuma bercanda tau, kan sekarang April Mop," ucap Gio. Dengan air mata yang masih membasahi wajahnya, Arin memukul tubuh Gio. "Dasar Gio nyebelin! Jelek! Bodoh!" Gio tertawa lalu menangkap tangan Arin. Dipeluk kembarannya itu sambil mengusap rambut Arin lembut. "Lo nyebelin, Gio!" racau Arin. "Iya, iya, gue emang nyebelin. Maaf oke," sahut Gio. Sementara Vando dan Ara hanya menggeleng melihat tingkah anak mereka. "Nona, kamu gak mau ngerjain kamu gitu?" tanya Vando. "Bunda sakit, Alien," gumam Ara. Vando tertawa lalu mengacak-acak rambut istrinya. "Kok kamu ketawa sih?" tanya Ara bingung. Vando mengendikkan bahunya. "Cuma April Mop kan?" Vando pun kembali fokus ke tontonannya. Tak lama kemudian handphone Vando berdering. Tumben Ayahnya menelpon. Ia pun menerima panggilan itu. "Halo, Yah. Ada apa?" "BUNDA KAMU SAKIT! BURUAN DATANG KE SINI! BUNDA KAMU NANYAIN TERUS TUH KOK ANAK BONTOTNYA GAK DATANG JENGUK! APA PERLU AYAH YANG KE SANA BUAT NYERET KAMU HAH?" teriak seseorang dari seberang sana. Belum sempat Vando menjawab telepon sudah dimatikan oleh Ayahnya. "Jadi itu bukan April Mop, Nona?" gumam Vando. "Yang bilang itu April Mop siapa, Alien?" cibir Ara. Raut Wajah Vando langsung berubah panik. Ia bangkit lalu mengambil kunci mobilnya. "Ayo kita ke rumah Oma!" seru Vando pada anak-anaknya. "Ayo sih ayo, Alien. Tapi seenggaknya kamu ganti celana dulu kek!" ketus Ara. "Masa ke sana pakai boxer pororo!" Gio menatap Daddy-nya. Pandangannya fokus ke boxer sang Daddy. Tungggu dulu, sepertinya ada yang salah. Ia kembali melirik boxer Daddy-nya lalu melirik boxer yang ia gunakan. Matanya melotot saat menyadari sesuatu. "Daddy boxer kita ketukerrrr!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD