12. Pingsan

1187 Words
Arin berlari menuju sekolah. Lagi-lagi ia kesiangan. Apalagi hari ini adalah hari senin, di mana upacara akan diadakan. Ia merutuki Gio yang tak membangunkan dirinya. Arin menghembuskan napas lega. Gerbang sekolah belum tertutup. Ia langsung bergabung dengan teman sekelasnya setelah menaruh tas. Napas Arin masih memburu akibat lari tadi. Ia meringis. Perutnya terasa sakit. Tak hanya telat, ia juga tak sempat sarapan tadi. Sudah hampir satu jam Arin berdiri. Namun, Kepala Sekolah masih semangat memberikan nasehat yang membuatnya ingin sekali salto saking lamanya. Thanks God, bathin Arin saat kepala sekolah akhirnya selesai berceramah. Itu tandanya upacara akan segera selesai. "Gila! Si Doraemon benar-benar deh!" gerutu Arin saat memasuki ruang kelas. Dihempaskan tubuhnya di atas bangku. Ia lelah. Oh bukan hanya lelah, tapi juga lapar. "Doraemon?" tanya Chlora bingung. "Iya Doraemon. Emangnya lo gak liat tadi pas upacara?" Fio menggeleng. Ia penasaran. "Emangnya ada Doraemon tadi pas upacara?" "Ada tau. Itu loh yang ngasih pidato panjang sepanjang jalan kenangan," kata Arin. "Njirrr! Parah lo, Rin," sahut Chlora saat mulai paham. "Sadis! Kepsek disamain sama Doraemon," sambung Fio sambil terkekeh. "Lah, emang sama kan? Botak, pendek, gendut pula," ceplos Arin membuat Chlora dan Fio terbahak. Arin ikut tertawa. Kalian bayangkan sendiri bagaimana rupa kepala sekolahnya yang ia bilang mirip doraemon itu. "Oh yah, sekarang pelajaran apa?" "Fisika," jawab Chlora. Arin kembali meringis. Hari ini benar-benar memang luar biasa. Bangun kesiangan, lupa sarapan, upacara, dan fisika. Adakah yang lebih luar biasa dari ini? Arin bangkit. Baru selangkah tubuhnya terhuyung. Untung saja ia berpegangan pada meja, kalau tidak mungkin ia sudah jatuh. "Lo gakpapa, Rin?" tanya Chlora khawatir. "Gakpapa kok. Izinin gue yah?" pinta Arin sambil memperlihatkan tatapan memohon andalannya. "Oke," jawab Chlora singkat. Ia dan Fio tak akan pernah bisa menolak bila Arin sudah memperlihatkan tatapan memelasnya. "Thanks," seru Arin riang. Ia melangkah keluar kelas. "Mau ke mana, Seblak?" Langkah Arin terhenti. Ia berdecak sebal. Ia menoleh dengan perlahan dan mendapati Erlan sedang menatap dirinya sambil bersedekap.Ia menyengir lebar. Baru ia niat ingin bolos, tapi sudah kepergok. Erlan tersenyum. Arin bersumpah ia sangat tidak suka dengan senyum Erlan saat ini. Arin menggaruk tengkuknya tak yang tidak terasa gatal. Ia bingung. Harus jawab apa yah? Kalau ia bilang mau bolos dan ke kantin pasti Erlan akan menyeretnya dengan tidak manusiawi untuk kembali ke kelas. Mau ke toilet? Tidak mungkin. "Balik ke kelas, Seblak. Jam pelajaran udah dimulai," kata Erlan. "Tapi, fisika, Santen," renggek Arin. "Balik ke kelas, Seblak," ulang Erlan. Arin mendesah. Ia mengangguk patuh. Ia pun kembali ke kelas sambil menghentak-hentakan kaki kesal. "Loh kok balik lagi?" tanya Fio saat Arin kembali ke kelas. "Ketahuan sama Mamak Tiri." Arin mencebikan bibirnya. "Gurunya belum masuk?" Fio menggeleng. Arin pun menaruh kepalanya di atas meja. Hingga akhirnya ia pun terlelap. "Arini!" Arin berguman tak jelas. "ARINI!" Arin menggeliat lalu kembali ke alam mimpi. "ARINI ALTARRA NURAGA!!" Arin terlonjak kaget. Matanya langsung terbuka. Beruntung ia tak jatuh dari bangku. Rasanya Arin ingin sekali menyemprot orang yang membangunkannya. Ia mendongak dan mendapati Pak Dayus menatapnya tajam. "Sekarang kamu tulis di depan rumus perubahan yang tadi Bapak jelaskan!" perintah Pak Dayus. Arin meneguk ludah. Ia benar-benar tak tau. Jangan kan tau, dengar Pak Dayus menjelaskan saja tidak. Ah! Arin pun teringat sesuatu. Ia pun mulai menuliskannya S= W/F S= perubahan W= usaha F= gaya Jika hidup ingin ada perubahan, maka jangan banyak gaya, tapi memperbesar usaha. "Bagus, sangat bagus," kata Pak Dayus. "Lebih bagus lagi kamu sekarang berdiri di depan tiang bendera sambil hormat sampai jam istirahat." "Tapi, Pak?" protes Arin "Sekarang!" Arin menggerutu. Ia pun melangkah menuju lapangan. Memangnya ada yang salah dengan rumusnya?  Arin mengomel dalam hati saat matahari semakin terik dan meninggi. Arin mengusap peluh di wajahnya. Kepalanya semakin pening. Entahlah apa ia sanggup berdiri sampai jam istirahat nanti. Waktu terus berjalan. Bertahan Arin, bathinnya.  "Er, itu bukannya Arin yah?" kata Dennis sambil menunjuk seorang siswi yang sedang berdiri sambil hormat. Erlan langsung menengok. Benar. Itu gadisnya. Ia pun berlari menghampri gadisnya yang terlihat pucat itu diikuti Gio dan Dennis. "Loh kok kalian ada di sini?" tanya Arin saat ada tiga sosok manusia di dekatnya. "Lo ngapain, Seblak?" tanya Erlan.  "Latihan hormat!" ketus Arin. "Pertanyaan lo pertanyaan retorik tau gak?" Erlan tau itu. Ia kan spontan tadi. Arin kembali meringis. Perut dan kepalanya terasa sakit sekarang. "Santen," panggil Arin pelan. Ia sepertinya sudah tak sanggup lagi. "Kenapa?" "Kalau gue pingsan lo tangkep yah," gumam Arin. "Jangan bercanda, Seblak," kata Erlan. "Gue udah gak tahan, Santen," lanjut Arin. "Yaudah gue mau pingsan dulu, bye." Erlan mengerjapkan matanya tak percaya. Arinnya seriusan pingsan, tapi ada yah orang pingsan pamitan dulu? Dengan sigap Erlan menggendong tubuh Arin menuju UKS, sementara Gio dan Dennis mengikutinya. Gio mondar-mandir. Dia bingung. Apakah ia harus mengabari Daddy-nya? Kalau tidak dikabari, Daddy-nya mempunyai banyak mata. Ia pun memutuskan untuk memberitahu sang Daddy. Dengan cepat ia mencari kontak nomor dan menelpon Daddy-nya. "Ada apa, Gio?" tanya Vando dari seberang sana. "Arin pingsan, Dad--." Gio melongo. Belum sempat ia melanjutkan ucapannya, tapi sang Daddy telah memutuskan panggilan darinya. Sementara itu di kantor Vando panik. Anaknya pingsan. "Oke, rapat selesai!" seru Vando membuat karyawannya menatapnya bingung. "Selesai? Bahkan rapatnya belum dimulai, Pak," kata Asisten Vando. Mereka baru saja mau memulai rapat. "Oh, iya yah. Pokoknya rapatnya nanti aja. Anak gadis saya pingsan di sekolah, saya harus ke sana buat mastiin dia tidak kenapa-napa. Kalau kalian mau rapat, rapat aja duluan, rapatin apa kek, terserah," kata Vando lalu berlari pergi menuju parkiran. Saat sampai, ia langsung memakirkan mobilnya sembarang. Ia tak peduli. Ia kembali berlari menuju UKS. "Daddy," ucap Gio. "Gimana keadaannya?" tanya Vando. Ditatap wajah pucat anak gadisnya. Dengan lembut ia mengusap puncak kepala Arin. "Gakpapa, Dad. Faktor belum makan," jawab Gio. "Ini salahku, Dad. Kalau aja tadi aku biarin dia bolos pelajaran pasti dia gak bakal kayak gini," sesal Erlan. "Ini bukan salah kamu," sahut Vando. Tak lama kemudian mata Arin mengerjap lalu terbuka. Ditatap sekelilingnya. "Daddy kok ada di sini?" "Kamu gakpapa, Sayang?" tanya Vando lembut. "Aku baik-baik aja, Dad, cuma lapar," ucap Arin. "Jangan pernah sampai lupa sarapan lagi! Daddy gak mau kamu kayak gini. Daddy benar-benar khawatir tau," omel Vando. Bel istirahat pun berbunyi. Vando mengajak mereka ke kantin untuk mengisi perut. Baru saja mereka keluar UKS, langkah mereka terhenti. "Loh, kok kamu ada di sini, Nona?" tanya Vando. "Kamu sendiri kenapa ada di sini?" Ara balik bertanya. Ara bergidik geli saat kata sapaan mereka menjadi aku kamu. "Aku ke sini mau nganterin makanan, tadikan Arin gak sarapan. Jadi, takut pingsan." "Udah pingsan duluan kali, Mom," cibir Arin. "Wah, pasti Erlan berat tuh gendong kamu," goda Ara. "Udah-udah. Ayo ke kantin. Kita makan di sana aja," kata Vando menengahi. Kalau tidak ia yakin akan terjadi perdebatan antara Mommy dan anak itu. Mereka semua telah duduk di kantin. Tadi Chlora dan Fio berlari menghampiri Arin dengan wajah cemas. Vando pun membuka kotak makan yang dibawa istrinya. Sementara Dennis, Erlan, Chlora, dan Fio memesan makanannya masing-masing. "Suapin, Daddy," rengek Arin manja. Ia tak peduli. Terserah orang mau berkata apa saat melihat ia makan masih disaupin. "Aku juga, Daddy. Tadi pagi kan Daddy gak sempat suapin aku," kata Gio tak mau kalah. Vando tertawa. Ia pun mulai menyuapi anak-anaknya. Dennis melongo saat melihat Gio dan Arin disuapin oleh Vando. Ia tak tau dua anak singa itu manja. "Itu Daddy-nya kok gak masalah sih anaknya makan masih disuapin," kata Dennis pada Erlan. "Karena mereka sama," jawab Erlan singkat. "Sama?" Dennis mengerutkan dahinya. "Nona, suapin juga dong," pinta Vando. Ara menghela napas sambil menatap Vando dengan pandangan mencibir. Namun, tangannya tetap menyuapkan si Alien, bayi raksasanya. Dennis mengerti apa yang dikatakan Erlan sekarang. Ia menggeleng takjub. Keluarga itu benar-benar luaaaarrrrrrr biazaaaaaaa absurdnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD