"Kemana tunangan kamu?"
Marsha akhirnya tidak tahan untuk menanyakan hal itu. Kalau ucapan sang papa benar, berarti Melani membohonginya.
Marsha Kini melirik Melani yang duduk di sampingnya. Mereka masih berada di dalam mobil. Tapi Marsha belum melajukan mobilnya. Masih berhenti di halaman parkir rumah sakit.
Wanita itu langsung menoleh ke arahnya dan menyipitkan mata.
"Memangnya apa urusanmu nanyain Kevin?"
Jawaban sinis dari Mel seperti biasanya kini di dapat olehnya. Dan Marsha tersenyum. Wanita di sampingnya ini selalu bersikap sinis tiap kali terdesak.
"Katanya tunangan. Kenapa di saat kamu butuh kayak gini dia gak datang?"
Marsha langsung menatap Melani yang langsung memberengut. Tahu kalau wanita itu pasti akan marah. Marsha tidak mau mengambil resiko. Dia langsung menyalakan mobil dan segera melajukan mobilnya.
"Dia sibuk."
Jawaban tidak terduga terdengar dari mulut Melani. Dan Marsha kini menoleh sedikit. Melihat Melani yang kini mengedarkan pandangannya ke arah jalanan yang mereka lewati.
"Owh. Jadi kapan nikah?"
Kembali pertanyaan itu membuat Melani langsung menatapnya dengan sebal.
"Bukan urusanmu juga. Urusin tuh tuan putrimu."
Jawaban ketus itu membuat Marsha tersenyum. Dia melakukan mobilnya dengan hati sedikit riang. Entah kenapa info dari papanya tentang Melani membuat hatinya menghangat.
"Kamu kenapa selalu menyebut Wina tuan putri?"
Kali ini Melani menoleh dan merubah duduknya. Wanita itu menghadap ke arahnya. Dan tersenyum sinis.
"Ya memang dia tuan putri kok. Liat aja. Hidupnya dari dulu bergelimang harta. Dia sekolah kedokteran juga gampang-gampang aja. Jadi yah..kamu yang harus nyiapin tabungan kalau mau nikahin dia."
Marsha kini mengangkat alisnya. Nada bicara Melani sedikit meninggi.
Marsha melihat kedai kopi langganannya ada di depan sana. Dan dia belum ingin langsung membawa Melani pulang.
"Kita ngopi dulu ya?"
Marsha tidak menunggu jawaban Melani dia langsung membelokkan mobilnya memasuki halaman kedai kopi di depannya.
"Suruh siapa ngopi? Kamu kan lagi minum obat."
Marsha langsung menoleh ke arah Melani yang kini sudah menatapnya dengan serius.
"Kata siapa aku masih minum obat?"
Melani langsung mencondongkan tubuh ke depan. Membuat jarak di antara mereka lebih dekat. Lalu Melani mengulurkan tangan untuk menyentuh keningnya.
"Tuh masih demam gini kok gak mau minum obat."
Melani menegurnya dengan galak. Dan membuat Marsha langsung tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Susah nih pergi Ama Bu dokter."
Jawabannya membuat Melani langsung melotot.
"Udah deh. Sekarang antarin aku pulang. Kamu aku buatin s**u hangat atau coklat aja gimana?"
Marsha mengangkat alisnya. Tapi kemudian mengangguk.
******
"Nih. Diminum."
Marsha menatap Melani yang kini baru saja meletakkan s**u hangat dan ada roti lapis di sampingnya. Yang di tata cantik di atas nampan.
Marsha tengah duduk di teras depan rumah Melani. Berbeda dengan rumah Wina yang memang mewah, rumahnya Melani sangat sederhana. Tapi rapi.
"Kamu di sini sendiri?"
Marsha kini menatap Melani yang duduk di sebelahnya. Mereka memang duduk di lantai teras dimana pemandangan depan rumput hijau langsung menyambutnya.
"Ehm sama papa. Tapi kalau jam segini papa belum pulang dari kantor. Biasa workaholic banget si papa mah."
Marsha mengangguk dan kini mengambil cangkir berisi s**u hangat itu. Menyesapnya dan menatap Melani yang kini memainkan rumput yang di injaknya itu.
"Cuma berdua? Mama kamu?"
Melani langsung menatapnya dan tersenyum.
"Mama sudah di surga. Mama meninggal saat melahirkan ku. Jadi yah aku cuma sama papa."
Marsha merutuki dirinya sendiri karena lancang menanyakan hal itu.
"Owh maaf. Aku tidak tahu kalau.."
Tapi Melani sudah menggelengkan kepalanya. Lalu mengangkat bahunya.
"Udah lama juga. Jadi bagiku aku memang hidup cuma sama papa. Dan sangat bangga dengan papa selama ini tetap tidak mau punya istri lagi. Jadi yah, aku menjadi teman papa untuk selamanya."
Marsha mengernyitkan keningnya. Melani kini tersenyum dan mengambil kue lapis yang sudah di iris-irisnya tipis itu.
"Jadi kamu tidak mau punya pacar dan menikah itu karena tidak mau meninggalkan papamu?"
Tentu saja celetukannya membuat Melani tersedak. Dan membuat Marsha langsung mengangsurkan cangkir berisi s**u kepada Melani.
Dengan cepat Melani menerima cangkir itu dan langsung meminumnya. Masih sedikit terbatuk tapi kemudian sedikit berkurang.
"Maaf."
Ucapannya langsung membuat Melani menatapnya galak.
"Aku sudah bertunangan. Siapa bilang aku belum punya pacar."
Tentu saja hal itu membuat Marsha tersenyum. Dia tahu Melani sudah berbohong. Tapi dia tidak mau membuat wanita itu malu. Dia akan membiarkan Melani mengakuinya sendiri.
"Iya percaya deh. Yang udah punya tunangan."
Melani kini menatapnya lagi.
"Aku memang sudah punya Kevin yang mencintaiku."
Jawaban Sombong itu membuat Marsha mengangguk. Kenapa Melani menutupi dirinya? Kenapa wanita ini memakai topeng yang berbeda?
"Syukur deh." jawabannya membuat Melani menepuk lengannya dengan keras.
"Kamu ngejek aku?"
Marsha langsung menggelengkan kepalanya. Dia melihat Melani kini seperti biasanya. Bersikap sinis.
"Kevin itu cinta mati sama aku. Kamu Sono tuh urusin tuan putrimu. Kamu kan tergila-gila sama dia."
Celetukan Melani membuat Marsha teringat Wina. Menunduk menatap sweater yang di berikan wanita itu tadi.
"Aku masih belum tahu. Namanya juga sedang menjajaki. Orang pacaran itu kan lagi mempelajari. Jadi yah aku dan Wina itu baru masa pendekatan."
Melani menggeleng.
"Huh kasian deh tuan putri. Belum dapat hati kamu ya? Tapi pasti udah dapat uang kamu kan?"
Marsha kini menghela nafasnya. Lalu menatap Melani dengan serius.
"Jadi kamu yang lebih beruntung daripada Wina? Sudah dicintai oleh tunanganmu?"
Melani terlihat terkejut. Tapi kemudian wanita itu memainkan rambutnya yang di biarkan tergerai itu.
"Tentu saja aku lebih menang daripada dia. Aku sudah punya tunangan. Dan lebih baik daripada dia."
Marsha penasaran dengan Melani yang tampak sangat ingin bersaing dengan Wina itu.
"Aku percaya kamu lebih baik daripada Wina."
Melani kini memutar bola matanya. Lalu memainkan jari-jari kakinya yang telanjang itu di atas rumput.
Hari sudah beranjak malam. Mereka sampai di rumah Melani setelah Maghrib.
"Gak perlu di tegaskan seperti itu. Aku memang lebih baik daripada Wina. Tapi kamu kan cintanya sama dia."
Marsha terkejut dengan penuturan wanita disampingnya itu. Apa maksud Melani? Sedikit cemburu?
"Ah sudahlah. Aku lelah. Kamu pulang sana."
Melani tiba-tiba beranjak dari sisinya. Berdiri dan meregangkan tubuhnya. Lalu berbalik untuk menatapnya.
Marsha merasa di usir oleh Melani. Kali ini menunjuk cangkir s**u yang masih setengah isinya itu.
"Aku mau minum ini dulu."
Marsha langsung mengambil cangkir itu. Dan menatap bekas lipstik yang ada di tepi cangkir. Dia tersenyum, lalu memyesapnya tepat di bekas lipstik milik Melani.
"Eh tapi itu...kan.
"
Melani membelalak saat menatap Marsha meneguk semuanya. Setelah selesai Marsha mengusap bibirnya.
Lalu menunjukkan jarinya yang berwarna merah sedikit terkena bekas lipstik yang ada di cangkir.
"Kita sudah berciuman."
Dan Marsha hampir tertawa saat melihat wajah Melani yang memerah itu. Sungguh membuat hatinya senang karena menggoda Melani.