"Cal bawa calon mantu mamah dong ke rumah."
Suara mamanya membuat Marsha kini menggeliat dan menegakkan tubuhnya. Dia kembali terserang demam. Semalam akhirnya dia pulang ke rumah Mama dan papanya.
Lebih baik bersama keluarganya daripada sakit di rumah sendiri. Dia akhirnya menikmati dimanjakan oleh sang Mama.
Seperti siang ini, sejak pagi dia hanya meringkuk di atas sofa malas yang ada di depan televisi. Dia tidak masuk kerja lagi akhirnya.
"Calon mantu apa sih ma?"
Marsha menoleh ke arah mamanya yang kini mengupaskan jeruk untuknya.
"Ih mau bohong ama Mama. Kemarin papamu bilang kamu macarin salah satu dokter anak di rumah sakit. Hayoh ngaku deh."
Marsha langsung memutar bola matanya. Sebagai anak tunggal memang tidak ada rahasia di antara mereka. Papa dan mamanya memang selalu membahas semuanya.
"Belum. Baru juga macarin. Namanya pacar itu baru penjajakan ma."
Sang mama mencibir dan kini menyerahkan jeruk yang sudah di kupasnya itu kepadanya. Marsha langsung menerimanya dan memakan jeruk itu.
"Ehm kalau udah cocok ngapain juga penjajakan cal. Kamu udah tua loh. Kapan ngasih mama cucu?"
Marsha memejamkan matanya lagi. Memijat pelipisnya yang kali ini kembali berdenyut.
"Mah Ical lagi sakit nih. Masa di ajakin ngomongin cucu?"
Sang mama langsung tersenyum.
"Duh yang lagi sakit heheheh.. Ya udah deh istirahat aja. Itu pacar kamu suruh ke sini tuh. Suruh nengokin kamu. Kan dokter kan ya?"
"Maaaahh"
Dan mamanya langsung tertawa dan berlalu dengan melambaikan tangannya. Marsha merapatkan jaketnya lagi. Dan mencoba untuk memejamkan matanya.
Tapi belum ada satu menit, dia mendengar suara dering ponselnya. Marsha membuka matanya dengan malas. Dia langsung merogoh saku celana. Lalu tersenyum saat melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo Dokter Manis."
"Heh aku ini Melani. Jangan merayuku. Kamu katanya sakit lagi? Tuh kan bandel. Pasti semalam kamu gak minum obatnya."
Marsha tersenyum mendengar Omelan Melani di ujung sana.
"Pahitlah males. Enakan coklat buatan kamu."
"Udah deh. Gak mempan ngerayu aku. Ini papa kamu yang bilang sama aku kalau kamu sakit lagi. Habis ini aku ke rumah. Mau nganterin obat."
Marsha memberengut.
"Enggak ah. Gak suka obat. Ini juga mau tidur. Lagian ibu Dokter kan banyak pasiennya. Gak usah repot-repot ke sini."
"Ok. Kalau gitu aku kasih ke Wina saja ya? Kamu suka kan kalau yang nganter Wina?"
Marsha mengernyitkan keningnya. Dia lebih suka bertemu sama Melani hari ini. Dia tidak mau merepotkan Wina juga sebenarnya.
"Enggak."
Jawabannya itu membuat Melani di ujung sana terdiam.
"Ehm maksudku aku lagi gak mau bertemu ama siapa-siapa. Jadi yah.."
"Ya udahlah kamu ini keras kepala."
Klik
Marsha terkejut karena sambungan telepon di ujung sana terhenti begitu saja. Melani marah?
"Woman."
Marsha meletakkan ponsel di atas sofa yang di duduknya. Dia merasa begitu kemas hari ini. Sepertinya memang dia harus meminum obat. Tapi obatnya sendiri dia tidak ingat meninggalkannya di mana.
Marsha beranjak dari duduknya. Sepertinya dia harus ke rumah sakit dan periksa lagi.
******
"Hatsyiii.."
Marsha mengusap hidungnya. Lalu merapatkan jaketnya. Melangkah melewati koridor rumah sakit yang akan membawanya ke ruangan dokter Rio.
"Marsha."
Dia terkejut saat melihat Wina sudah ada di depannya dan menatapnya dengan terkejut.
"Hai."
"Astaga kamu pucat banget. Masih sakit ya?"
Marsha menganggukkan kepalanya. Wina langsung melangkah mendekatinya. Dan mengusap pipinya dengan lembut.
"Sudah periksa lagi?"
Marsha tersenyum dan menggenggam jemari Wina. Kekasihnya itu tampak begitu khawatir.
"Ini baru mau periksa lagi."
"Eheeemm."
Suara deheman itu membuat Marsha mengalihkan tatapannya dan melihat Melani melangkah mendekati mereka berdua.
"Owh kamu pucat sekali. Kamu bandel sih semalam kan aku sudah bilang kamu jangan pulang malam-malam dari rumahku. Tapi kamunya yang maksa."
Wina langsung menatap Marsha dengan tajam.
"Kamu semalam di rumahnya Melani?"
Marsha tentu saja baru akan menjelaskan saat Melani tiba-tiba melangkah maju dan menyentuh lengannya.
"Aku masih belum lupa ciuman kita."
Marsha langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Melani.
"Ciuman?"
Suara itu terdengar dari Wina. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Marsha merasa bersalah sudah membuat kekasihnya itu bersedih.
"Bibir kekasihmu sangat lembut."
Marsha memejamkan matanya mendengar ucapan Melani lagi. Tapi begitu dia membuka matanya, Melani sudah beranjak melangkah meninggalkan mereka.
"Mel."
Marsha berteriak untuk memanggil Melani. Apa yang di lakukan Melani sudah melewati batas.
"Kamu jelaskan kepadaku."
Wina menarik tangannya dan kini membuat Marsha untuk menatap Wina.
"Itu semua bohong."
Wina sudah mengusap air mata yang kini mengalir di wajahnya.
"Aku sudah tahu kalau kamu pasti akan terpesona dengan Dokter Melani, aku tahu..."
"Husst bukan seperti itu."
Marsha menarik Wina untuk memeluknya. Tapi dia kembali bersin dan tubuhnya menggigil.
"Aku ada pasien. Maaf."
Wina mendorong tubuhnya. Dan langsung bergegas untuk meninggalkannya. Merasa tidak bisa mengejar Wina karena dia merasa lemas. Akhirnya Marsha berbalik dan meneruskan langkahnya untuk menemui dokter Rio.
*****
Marsha akhirnya bisa tidur setelah minum obat dari Dokter Rio. Dia memang tidak kuat untuk pulang ke rumahnya. Dan dokter Rio mengatakan dia bedrest dulu di salah satu paviliun di rumah sakit.
"Cal."
Marsha langsung membuka matanya saat mendengar suara itu. Dia berusaha untuk menegakan tubuhnya tapi di tahan oleh Melani.
"Kamu harus istirahat dulu."
Marsha kini menatap ragu ke arah Melani yang sudah berdiri di samping brankarnya. Marsha sendiri merasa lemah karena tangannya juga di bebat oleh selang infus.
"Kenapa kamu ke sini?"
Marsha masih merasa kesal kepada Melani yang sudah berbohong di hadapan Wina tadi.
"Aku jengukin kamu. Tadi papa kamu bilang kamu di rawat di sini."
Melani kini mendekatinya dan menarik kursi lipat yang ada di sebelah brankar lalu langsung duduk di sana.
"Kamu sudah jahat sama Wina. Kenapa kamu berbohong tentang kita?"
Marsha melihat Melani kini memainkan jemarinya. Tak ada raut wajah penyesalan di sana. Melani malah terlihat puas.
"Ehm aku cuma ngegodain dia."
Melani mengangkat bahunya.
Membuat Marsha menghela nafasnya dan kini menatap lekat ke arah Melani.
"Itu jahat Mel. Dia sudah menangis."
"Itu pantas di terimanya. Apa yang di lakukan dia dulu..."
Melani langsung terdiam. Sadar kalau dia sudah keceplosan bicara. Wanita itu kini menyibakkan rambut panjangnya itu.
"Kamu mau makan? Aku udah bawain bubur nih."
Melani mengalihkan tatapannya dari Marsha dan kini mengambil bubur yang dia letakkan di atas nakas. Wanita itu langsung menyendokkan bubur itu dan menyuapkannya di depan mulut Marsha.
Tapi Marsha menggeleng.
"Aku gak nafsu makan."
Melani mengangkat alisnya. Lalu meletakkan sendok itu di atas mangkuk.
"Gimana mau sembuh kalau makan aja gak mau."
Marsha Kini menatap Melani. Dia masih bingung dengan sikap Melani kepadanya.
"Kenapa kamu peduli denganku?"