"Capek ya?"
Marsha menoleh ke arah Wina yang kini bersandar di jok mobil. Hari sudah malam saat dia mengantar pulang dari rumah sakit.
"Iya sedikit."
Wanita itu kini menegakkan tubuhnya. Lalu menoleh kepada Marsha yang tengah fokus ke jalan raya yang dilewatinya.
"Ehm tadi sibuk. Dokter Melani memantau operasi yang tadi berjalan dan semua pasiennya di alihkan kepadaku."
Mendengar nama Melani di sebut. Marsha tentu saja teringat. Dia langsung mengedarkan pandangannya. Melihat ada ATM center, dia segera menepikan mobilnya.
"Ehm aku mau transfer uang dulu ya. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal bentar?"
Wina mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Marsha.
"Ambil uang atau transfer? Owh mau beliin aku berlian pasti."
Marsha untuk sejenak terkejut dengan ucapan Wina. Tapi kemudian tersenyum dan mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Wina.
"Kamu itu lucu. Bentar ya."
Wina sedikit memberengut. Tapi kemudian mengangguk. Akhirnya Marsha turun dan segera berlari ke tempat tujuan.
Dia sudah berbicara dengan papanya tadi tentang pasien yang tak mampu yang di operasi oleh Melani. Dan papanya setuju untuk memberikan keringanan. Dalam artian memang Marsha yang membayar semua biayanya di bantu oleh papanya.
Setelah menyelesaikan tujuannya. Marsha kembali ke dalam mobil. Dan mendapati Wina tengah sibuk dengan ponselnya.
"Lagi ngapain sih? Serius banget."
Marsha mencondongkan tubuh ke arah Wina. Membuat wanita itu tersenyum dengan lembut. Lalu menunjukkan ponselnya.
"Lagi cari baju nih. Buat acara pesta nikahannya Sepupu. Pilihan dong."
Marsha menatap layar ponsel Wina yang menampilkan beberapa baju. Dan Marsha mengernyitkan keningnya melihat harga yang tercantum.
"Mahal banget sih?"
Marsha kini melihat Wina tersenyum.
"Iya dong. Kan ini merk paling terkenal dan terbatas."
Marsha kini tersenyum lalu menyalakan mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
"Heran deh sama cewek. Satu baju aja pakai harganya bisa buat beli 20 baju loh. Apanya yang beda coba?"
"Ya bedalah. Kan buat makin cantik. Kamu juga suka kan kalau aku cantik?"
Ucapan Wina itu membuat Marsha menoleh ke arah kekasihnya itu.
"Ya sukalah. Siapa juga yang nolak punya cewek cantik."
Wina langsung menampilkan senyum manisnya lagi. Tapi kenapa ada yang mengganjal di hatinya?
*****
Setelah mengantarkan pulang Wina. Marsha kini membelokkan mobilnya ke kedai kopi yang biasa menjadi langganannya. Sudah lama dia tidak mampir ke sini.
Saat keluar dari dalam mobil dan Melangkah masuk ke dalam kedai, dia mendapati Melani tengah duduk di deretan bangku pengunjung. Wanita itu tampak santai dan sedang menyesap kopinya.
Tentu saja Marsha langsung tersenyum dan menghampiri Melani.
"Hai.."
Melani mengangkat wajahnya dan terkejut melihatnya.
"Owh halo. Sendiri? Dimana tuan putrimu?"
Marsha kini menarik kursi yang ada di depan Melani dan langsung duduk.
"Sudah tidur di rumah. Kasian dia kecapekan."
Melani hanya mengangkat alisnya. Marsha sendiri langsung memesan kopi kesukaannya kepada pelayan.
"Suka ngopi di sini juga?"
Marsha kembali menoleh kepada Melani. Tapi wanita itu menggeleng.
"Enggak sih. Hanya kalau dia pulang saja."
Ucapan Melani tidak di perhatikan oleh Marsha karena kopinya sudah datang.
Marsha menyesap kopinya dan memejamkan mata menikmati rasanya.
"Aku selalu merindukan kopi yang ada di sini. Owh iya bagaimana operasinya? Aku dan papa sudah sepakat untuk menanggung semua biayanya."
Mendengar ucapannya wajah Melani langsung cerah. Ada senyum di wajahnya yang membuat Marsha suka.
"Alhamdulillah. Dokter yang mengoperasi pasienku sudah berhasil
Dan semuanya berjalan dengan baik. Terimakasih ya kamu dan papamu mau berbaik hati. Ah aku lega sekarang. Bisa melihat mereka sembuh."
Melani menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. Lalu tersenyum cerah lagi.
"Aku juga terimakasih sudah menjadi dokter yang begitu peduli kepada pasien di rumah sakitku."
Melani kali ini menepuk dadanya sendiri.
"Sudah tanggung jawabku. Itu memang tujuanku."
Marsha kembali menghangat. Kenapa sikap Melani mulai menggelitik hatinya.
"Beb, sorry terlambat."
Marsha langsung menoleh ke arah suara itu. Di sampingnya tengah berdiri seorang pria yang menatap Melani dengan wajah penuh penyesalan.
Melani langsung beranjak dari duduknya.
"Hai..Its Ok. Aku juga belum lama kok."
Melani maju dan memeluk pria di sampingnya itu. Hal itu membuat Marsha terkejut.
Siapa pria yang sedang dipeluk Melani? Kekasihnya?
"Owh ini perkenalkan Marsha. Atasanku di rumah sakit."
Melani melepaskan pelukannya dan menunjuk Marsha.
Tentu saja Marsha langsung beranjak berdiri.
"Marshall."
"Kevin."
Pria itu menjabat tangan Marsha dengan tersenyum. Tapi Marsha sudah tidak nyaman berada di sini.
Dia langsung melangkah mundur.
"Senang berkenalan denganmu. Tapi aku harus pulang. Sampai jumpa lagi."
Marsha melambaikan tangan kepada Melani dan juga Kevin. Lalu langsung bergegas berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar.
Kenapa hatinya begitu gundah saat ini?