"Hatsyi..."
"Hatsyii.."
Marsha mengusap-usap hidungnya. Dia sungguh merutuki dirinya sendiri karena terserang flu. Padahal kemarin dia cuma kehujanan saat pulang dari kedai kopi sehabis bertemu dengan Melani.
Ingin merasakan berhujan- hujanan sebentar. Entah kenapa dia kemarin malas untuk segera pulang dan malah menantang hujan dengan menyendiri di taman depan kompleks perumahannya. Bodoh memang.
Akhirnya dia menggigil kedinginan dan paginya langsung terserang flu.
"Kamu flu?"
Suara Wina yang melongok dari pintu ruangannya membuat Marsha tersenyum. Dia baru saja membuang tisu yang dipakainya untuk mengusap hidupnya.
"Iya."
Wina mengernyitkan keningnya saat melangkah ke dalam ruangannya.
"Ehm padahal nanti malam mau aku ajak makan malam di restoran Jepang kesukaanku."
Marsha langsung menegakkan tubuhnya saat Wina kini berdiri di depan meja kerjanya. Seperti biasa wanita itu tampak cemerlang. Dengan pakaian yang pas di tubuhnya dan juga padanan semuanya yang tampak serasi.
Wina memang tampak ekslusif.
Entahlah. Aku pusing hari ini. Nanti maaf ya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Ini saja habis periksa ke Dokter Rio aku mau pulang."
Marsha melihat tatapan kecewa dari Wina. Wanita itu mencoba tersenyum tapi kemudian memang tampak kecewa.
"Yah, padahal aku udah pesan tempat di sana. Kalau di batalin nanti kena charge.. Ehmm kan kita belum ngerayain jadian kita?"
Wina kini mendekatinya dan mengulurkan tangan untuk mengusap rambutnya. Membuat Marsha memejamkan matanya. Rasanya begitu enak ketika sedang pusing di belai seperti itu.
"Besok saja kalau aku sudah sembuh ya?"
Marsha mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan salah satu kartu kreditnya
"Ini bayarlah biaya pesan tempatnya. Maafkan aku ya."
Wina menerima kartu kredit milik Marsha. Wanita itu langsung tersenyum cerah.
"Itu kartu kredit milikku. Mulai sekarang pakailah. Tanpa limit."
Marsha memang merasa bersalah karena telah membuat kekasihnya itu kecewa.
"Benarkah?"
Wina kini mengerjapkan mata di depannya. Lalu langsung melangkah mau dan memeluknya. Hal itu membuat Marsha refleks menyandarkan kepalanya yang pusing perut Wina. Karena wanita itu berdiri di depannya.
"Terimakasih ya. Kamu baik deh. Kamu mau makan apa? Aku pesanin sekarang?"
Wina kini menunduk. Kedua tangannya melingkar di bahu Marsha. Dan Marsha merangkul pinggang Wina dengan erat.
"Aku ingin kamu yang Masakin buatku. Bisakah?"
Wina tersenyum manis saat mendengar ucapannya. Tapi wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Ah maafkan aku. Aku tidak bisa memasak. Kan di rumah sudah ada bibik yang masak. Kamu aku pesankan tomyam aja ya. Biar kamu lebih seger gitu. Habis itu pulang dan istirahat ya?"
Marsha memberengut. Padahal dia ingin bermanja-manja dengan Wina saat ini.
"Kamu bisa ke rumahku sore ini sehabis shiftmu habis?"
Wina mengernyitkan keningnya. Tapi kemudian menggeleng lagi.
"Maaf ya. Aku sudah janji sama sepupuku mau belanja baju. Tapi aku pasti akan meneleponmu. Buat istirahat saja ya?"
Wina menunduk dan mengecup pipi Marsha untuk sesaat. Lalu melepaskan pelukannya dan menjauh.
"Aku ada visit ke bangsal habis ini. Aku pamit ya sayang. Sampai bertemu besok."
Marsha hanya menganggukkan kepalanya. Lalu mendesah. Wina memang sangat sibuk, dan tentu saja dia tidak boleh merengek.
Pening di kepalanya mulai menderanya lagi. Dia tadi sudah periksa ke dokter Rio. Dokter umum di rumah sakit ini. Dan tinggal menunggu obat yang sedang di racik.
Marsha menyandarkan kepala di kursi. Dan memejamkan matanya. Untuk mengurangi rasa pening di kepalanya.
Tapi belum ada 5 menit ketukan di pintu mulai membuatnya membuka mata lagi.
"Maaf."
Suara itu membuat Marsha menegakkan tubuhnya. Di ambang pintu ada Melani yang tampak menatapnya dengan canggung.
"Owh ya."
Melani melangkah masuk ke dalam ruangan dan menunjukkan obat yang di bawanya.
"Aku bertemu Dokter Rio di koridor. Dan dia menitipkan ini kepadaku. Katanya Pak Marsha sakit ya?"
Marsha tentu saja langsung mengangguk dan tersenyum.
"Iya. Agak flu. Makasih ya."
Melani mengangguk. Lalu menatapnya lekat.
"Kalau sedang flu begitu minum s**u hangat dan makan sayur Sop. Di jamin habis itu buat tidur. Pasti langsung sehat."
Marsha tersenyum kembali. Laku bersedekap.
"Maunya sih begitu. Tapi sayang gak ada yang buatin sop-nya. Lagipula ini mau pulang. Kepala rasanya mau pecah."
Tentu saja Melani langsung mencondongkan tubuhnya ke arah depan. Tangannya bersandar di meja kerja Marsha.
"Bisa bawa mobil sendiri gak? Kalau pusing nanti takut nabrak gimana? Ehm aku antar saja gimana?"
Marsha terkejut mendengar ucapan Melani. Wanita di depannya ini sedang menawarkan bantuan?
"Mau nganterin aku pulang?"
Melani mengangguk dengan serius. "Shiftku sudah selesai pagi ini. Jadi sekarang aku mau pulang. Rumahnya sepertinya searah bagaimana?"
"Hatsyi.."
Marsha kembali bersin dan kepalanya terasa berdenyut lagi. Jadi dia langsung mengangguk kan kepalanya. Sangat setuju dengan penawaran dari Melani itu.
*****
"Di sini rumahnya?"
Marsha mengangguk saat Melani menghentikan mobilnya. Lalu menatap rumah Marsha. Sebenarnya bukan rumah keluarganya yang selama ini di tempati Marsha. Ini rumah Marsha sendiri, tapi jarang dia tempati.
Karena lokasi ini lebih dekat dengan rumah sakit. Maka Marsha kadang pulang ke sini kalau pulang larut malam.
"Ini rumah milikku. Yang lebih dekat dari rumah sakit. Kasian kamu kalau harus nganter ke rumah keluargaku."
Melani menganggukkan kepalanya. Saat Marsha membuka pintu mobil, Melani menahannya.
"Eh tunggu, di rumah ada bahan makanan gak? Maksudnya sayur dan lainnya? Aku masakin sayur Sop mau?"
Tentu saja Marsha terkejut dengan pertanyaan Melani lagi. Dia langsung berbalik dan melihat Melani tersenyum tulus saat ini.
"Anggap saja ini ucapan terimakasihku karena kamu mau membayar biaya operasi pasien-pasienku."
Marsha akhirnya tersenyum.
"Aku gak mau dapat imbalan. Tapi kalau cuma sayur sop, baiklah."
Melani kembali tersenyum lalu mengikuti Marsha turun dari mobil.
Wanita itu melangkah di belakang Marsha saat dia melangkah ke teras rumahnya. Mengeluarkan kunci dan mulai membuka pintunya.
"Maaf sedikit kotor. Soalnya aku tidak sering di sini "
Marsha mempersilakan Melani untuk masuk. Wanita itu melepaskan stilettonya dan kini betelanjang kaki.
"Ok. Dimana dapurnya?"
Marsha langsung menunjuk ruangan yang ada di sebelah ruang tamu. Dia memang menata ruangannya seperti itu. Ruang tamu yang bersebelahan langsung dengan dapur.
"Baiklah. Kamu minum obat dulu dan istirahatlah. 20 menit lagi aku akan datang."
Marsha mengamati Melani melangkah menuju dapurnya. Wanita itu sepertinya tidak canggung untuk memasak. Padahal penampilannya jauh dari orang rumahan.
Marsha akhirnya melangkah ke arah sofa. Mengambil remot dan menyalakan televisi. Dia memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lemah.
******
"Hei,, Ical. Wake up."
Aroma strawberry itu menguar di sekitarnya. Marsha mengerjapkan matanya. Perlahan dilihatnya Melani sudah ada di depannya.
Tapi sosoknya sangat berbeda. Wanita itu mengikat rambutnya dengan sembarangan dan sekarang Marsha terkejut melihat apa yang dipakai wanita itu.
"Kamu.."
Melani menunduk dan kini menatap apa yang dikenakannya.
"Owh maaf. Tadi bajuku basah karena terkena air di kamar mandi. Jadi aku pakai saja kemejamu ini. Di kabinet yang ada di kamar mandi ada beberapa bajumu kan? Jadi maaf ya tidak meminta ijin habisnya tadi panik."
Marsha mengerjapkan matanya. Menelusuri tubuh Melani yang hanya terbalut kemeja putih yang di pakai sampai sebatas lutut itu. Marsha kini menegakkan tubuhnya dan sedikit tidak nyaman.
"Aku sudah membuatkanmu sop. Dan satu gelas s**u hangat. Dimakan dan diminum ya. Aku mau pulang, gerah ini."
Melani sudah akan beranjak dari depannya saat Marsha tiba-tiba menarik tangan wanita itu. Membuat Melani berhenti dan menoleh kepadanya.
"Kita makan bersama ya? Atau temani aku makan saja. Please."
Melani menatapnya dengan ragu. Tapi kemudian mengangguk.
"Ok. Tapi sebentar saja ya. Aku sudah ada janji dengan Kevin."
Marsha langsung muram mendengar nama Kevin di sebut. Akhirnya wanita itu duduk di sebelahnya. Dan kini mulai mengambil mangkok berisi sop buatannya.
" nih makan yang banyak ya."
Melani memberikan mangkok itu kepada Marsha. Dan Marsha menerimanya. Lalu menyiapkan. Sop itu ke dalam mulutnya.
"Gimana?"
Marsha menoleh ke arah Melani yang menunggu jawabannya.
"Wow. Kamu pintar masak ya?"
Melani tersenyum senang. Dia bahkan mengangkat bahunya.
"Makanya Kevin mencintaiku. Karena aku pinter masak."
Ucapan sombong itu malah membuat Marsha sedikit tidak nyaman. Kenapa nama Kevin selalu di sebut?