02 SUKA

1399 Words
"Marshall Danendra Akbar." Marsha langsung menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Dia tersenyum ke arah pria yang melangkah ke arahnya. Adrian. Sahabatnya itu tampak menyeringai saat melihatnya berada di rumah sakit milik papanya ini. "Wow wow...kamu beneran mau menetap di sini?" Adrian duduk di sebelah Marsha yang baru saja melangkah melewati taman dan akan menuju mobilnya. "Kamu kan tahu cepat atau lambat aku akan bekerja di sini. Untung saja aku terlepas dari menjadi dokter. Tapi papa tetap memintaku berkutat di sini. Yah gak papa aku udah mulai terbiasa bau obat."   Adrian terkekeh dan menepuk bahunya. Lalu Marsha menatap sekitarnya. "Kamu ngapain ke sini?" Adrian menunjuk obat yang di bawanya. "Chek up bulanan. Aku kan orang yang menjaga kesehatan." Marsha mengerutkan keningnya. Tapi kemudian tersenyum. "Apa kabar Bintang?" Kali ini dia melihat wajah Adrian menjadi muram. Pria itu kini bersedekap dan bersandar di mobilnya. "Bintang menetap di Yogya. Kayaknya si Rio itu memang membuktikan kalau dia layak untuk Bintang. Tapi entahlah.." Adrian mengangkat bahunya. Lalu menatapnya. "Aku masih belum bisa menerima si Rio itu. Walaupun Bintang mencintainya. " Marsha tersenyum kecut. Dia juga belum rela, tapi bagaimanapun Bintang bahagia dengan Rio. Itulah yang menjadi dirinya mundur secara teratur. "Kita doakan saja yang terbaik buat Bintang." Kali ini Marsha melihat Adrian tersenyum. "Tumben bijaksana. Pasti udah ketemu dokter cantik deh di sini." Marsha kali ini tertawa. Dia jadi teringat tadi saat makan siang dengan Dokter Melani. Wanita itu benar-benar tidak mempunyai malu. Dengan mengatakan dialah yang berhak bersanding dengannya. Tipe-tipe cewek yang langsung menyerang. "Owh iya nama kamu di sini Marsha juga? Gak Danendra gitu? Ntar di kira cewek loh?" Marsha tersenyum. Lalu menunjuk name tag yang ada di kemejanya.   "Aku suka nama ini. Kenangan dari Bintang. Dia yang pertama manggil aku Kak Marsha bukan Marshall. Dan aku suka. Biarlah semua menganggap ku wanita ..." Adrian kembali tertawa dan menepuk bahunya. "Ya sudah aku pulang dulu ya? Kapan-kapan kita ngopi. Aku udah mulai sibuk nih di kantor papa. Bosan." Marsha mengacungkan kedua jempolnya. "Kapten kamu harusnya terbang lagi." Ucapannya membuat Adrian menggeleng. Dan melangkah mundur. "Aku hanya boleh terbang di hati Pelangi." Dan tawa Marsha membuat Adrian menyeringai lalu melambaikan tangannya saat menjauh darinya. Marsha menggelengkan kepalanya. Selalu begitu. Dia dan Adrian itu sudah sangat dekat sejak dulu. "Owh jadi namanya Marshall" Celetukan itu membuat Marsha menengok ke arah kanannya. Dan mendapati Dokter Melani berdiri dengan cantiknya di sampingnya. Kembali aroma manis itu membuat Marsha mengernyitkan keningnya. "Owh. Iya. Namaku Marshall. Tapi yah lebih suka di panggil Marsha." Dokter Melani menganggukkan kepalanya. Lalu mengulurkan tangan untuk membenarkan Kerah bajunya. Membuat Marsha melangkah mundur. "Nah kalau begitu kan cakep." Dokter Melani mengulas senyumnya. Membuat Marsha ingin segera pergi dari Melani karena aroma manis yang menguar dari tubuh wanita di depannya ini. "Maaf. Aku harus segera pulang. Selamat sore."   Marsha segera membuka pintu mobilnya. Membuat Dokter Melani menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Setelah sampai di dalam mobil akhirnya dia bisa bernafas lega. Saat melihat Dokter Melani melangkah pergi meninggalkannya. Dengan langkah yang sepertinya menggoda ditujukan untuknya. "Astaga!" Marsha mengusap wajahnya. Dan mulai menyalakan mobil untuk meninggalkan. Area parkir rumah sakit. Tapi baru sampai di lobbi dia melihat Dokter Wina berdiri dengan melihat jam yang melingkar di tangannya. Tentu saja Marsha tersenyum. Menepikan mobilnya. Dan langsung keluar dari dalam mobil. "Dokter Wina?" Wanita yang dipanggilnya tampak terkejut. Tapi kemudian tersenyum saat melihat dirinya. "Menunggu jemputan?" Dokter Wina mengangguk. "Iya mobil saya ada di bengkel jadi nunggu supir papa jemput." Marsha tersenyum. Ini kesempatan dia untuk lebih mengenal Dokter Wina. "Kalau boleh saya antar pulang. Hari juga sudah mau malam. Bagaimana?" Dokter Wina tampak ragu. Tapi kemudian mengangguk setuju. "Kalau tidak merepotkan.." Marsha langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak untuk Anda..silakan masuk." Marsha langsung membuka pintu mobilnya untuk mempersilakan Dokter Wina masuk ke dalam mobil. ******   "Pak Marsha.." "Marsha saja biar lebih enak. Dan aku boleh panggil kamu Wina saja?" Dokter Wina tampak tersipu dengan ucapannya itu. Tapi memang Marsha ingin lebih dekat dengan Dokter Wina. Sejak pertama kali bertemu, wanita yang duduk di sebelahnya ini mengingatkan dia dengan Bintang. "Baik. Tapi kalau di rumah sakit saya tetap panggil Pak." Marsha tersenyum dan mengangguk. "Ok deal. Wina rumahmu di sini?" Marsha menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang sangat besar itu. Wina sepertinya dari keluarga kaya. Dokter Wina menganggukkan kepalanya. "Terimakasih ya. Sudah mau repot-repot mengantar saya. Mau mampir dulu?" Marsha mengamati rumah itu lalu menatap Wina yang kini tampak lebih manis kalau tidak dengan snellinya. "Kamu lelah kan? Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu. Jadi lain kali saja ya?" "Owh." ada kekecewaan di wajah Dokter Wina. Tapi kemudian wanita itu mengangguk dan membuka pintu mobil. "Sekali lagi terimakasih ya?" Marsha mengangguk dan tersenyum. "Kembali kasih. Istirahatlah. Tidur yang nyenyak ya?" Dokter Wina tersenyum dan melambaikan tangannya saat sudah sampai di luar.   Marsha mengacungkan jempolnya dan mulai melakukan mobilnya menjauh dari rumah Dokter Wina. Targetnya sudah pasti. Dokter Wina yang cantik dan lemah lembut itu bisa menjadi pelipur lara hatinya yang sedang mencoba untuk sembuh. Sejak mengetahui Bintang sudah menikah, sebenarnya dia patah hati. Tapi hidup harus tetap berjalan. Dan dia tahu apa yang harus di lakukannya. Berusaha move on dari masa lalu. Marsha terkejut saat di sisi kanannya saat dia keluar dari komplek perumahan Dokter Wina dia melihat sosok ramping dengan baju seksinya berdiri di depan mobilnya. "Dokter Melani?" Marsha langsung menepikan mobilnya. Senja sudah menyambutnya saat dia keluar dari dalam mobil. Dan mendekati wanita yang kini sedang menatap mobilnya itu. "Hai..ada apa?" Dokter Melani langsung menoleh ke arahnya. Senyum licik tersungging dari bibir wanita itu "Yang baru saja mengantar tuan putri pasti." Sindiran Dokter Melani membuat Marsha menggelengkan kepalanya. "Mobil kamu mogok?" Dokter Melani kembali mengibaskan rambutnya yang panjang itu. Kini tanpa snelli Dokter itu terlihat mengenakan blouse warna putih dengan rok span dia atas lutut. Dan stiletto berwarna merah di kakinya. Marsha sendiri membayangkan wanita itu kakinya sakit pasti kalau harus melangkah ke sana ke sini dengan sepatu bertumit tinggi begitu. Sungguh wanita di depannya ini tidak efisien. "Yah bannya bocor. Dan aku tidak bisa menggantinya."   Marsha hanya menatap mobil itu dengan malas. Dia tidak mau menjadi pahlawan kesiangan Dokter Melani. "Kalau begitu panggil bengkel langganan kamu." Dokter Melani menggeleng. Marsha mengamati Dokter Melani yang kini melangkah mendekatinya. "Kamu kan pria. Bisa kan mengganti ban mobilku?" Marsha tentu saja melangkah mundur. Dia tidak mau dan tidak suka dengan kedekatan ini. "Hari sudah malam dan aku tidak mau repot-repot mengotori tanganku. Jadi maaf." Marsha melangkah mundur lagi. Ingin segera melarikan diri dari Dokter Melani. Dia terlalu bodoh tadi menghentikan mobilnya. Dokter Melani menatapnya dengan kesal. Lalu mengangkat bahunya. "Baiklah aku yang akan menggantinya sendiri." Marsha menyipitkan matanya saat melihat Dokter Melani melangkah ke bagian belakang mobilnya. Tiba-tiba dering ponselnya berbunyi. Dia merogoh saku celananya. Dan mendapati nama Dokter Wina tertera di layar ponselnya. Dia memang sudah bertukar nomor ponsel dengan Dokter cantik itu. "Halo." Marsha menjawab panggilan dokter Wina. Dia bersandar di kap mobilnya. Dan mengamati Dokter Melani sedang berusaha menurunkan ban cadangan. "Pak..eh Marsha sudah sampai rumah ya?" Marsha tersenyum mendengar suara Wina yang manis dan lembut itu. "Kenapa? Sudah kangen sama aku?" Dan Marsha mendengar Dokter Wina tersenyum malu di ujung sana. "Iya... Kangen. Eh enggak maksud saya...ah maaf maaf." Marsha tentu saja tertawa mendengar nada gugup dari Dokter Wina. "Ya sudah ya Marsha... Selamat malam." Belum menjawab telepon sudah di putus. Hal itu membuat Marsha menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap ponselnya. "Aduh." Tapi Marsha akhirnya menatap Dokter Melani yang kini tengah mencoba mendongkrak ban mobil itu sendiri. Dengan rok span yang tertarik lebih ke atas dan memperlihatkan kakinya yang jenjang itu. Membuat Marsha berdecak kesal. "Sini." Akhirnya Marsha menggulung lengan kemejanya. Dan mendekati Dokter Melani yang kini tampak kesulitan itu. "Kamu hanya akan menggoda setiap pria yang lewat dengan baju seperti itu. Pantas pemerkosaan marak saat ini karena wanitanya sendiri juga tidak bisa menjaga diri." Marsha mengucapkan itu dengan kesal dan kini mengambil alih pekerjaan Dokter Melani itu. "Kamu juga suka kan? Melihat p****t seksi dan juga kakiku?" Ucapan Dokter Melani itu membuat Marsha menggelengkan kepalanya. Wanita macam apa yang ada di sebelahnya ini. Terlalu percaya diri meski memang terbukti dia memiliki semuanya yang di banggakan. "Untung saja aku orang baik." Jawabnya lalu mendongkrak mobil itu. Mengganti ban mobil milik Dokter Melani. Harusnya dia tidak terjebak di sini. Harusnya tadi dia berada di rumahnya Dokter Wina dan berbicara hangat dengan wanita cantik dan lemah lembut itu. Bukannya ada di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD