03 VS

1091 Words
Marsha mengernyitkan keningnya saat mengingat kejadian semalam. Bagaimana Dokter Melani dengan beraninya mencium pipinya. Sungguh, wanita itu membuat Marsha menggelengkan kepalanya. Di hadapannya sekarang ada satu keranjang penuh buah strawberi. Oleh-oleh dari mamanya. Pagi ini, hari Minggu. Untuk staf rumah sakit tentu saja libur. Jadi Marsha sejak tadi pagi hanya santai di rumahnya. "Ical, kenapa itu buah strawberi hanya di tatap begitu. Biasanya juga langsung kamu habisin tuh buah." Pertanyaan sang Mama membuat Marsha langsung menggeleng dan menjauhkan buah itu. Entah kenapa melihat satu keranjang penuh buah strawberry mengingatkannya dengan Melani. Wanita itu beraroma manis seperti strawbery. "Kenapa aku mual ya mah liat buah strawberry satu keranjang penuh gitu?" Tentu saja sang Mama langsung membelalakkan matanya mendengar ucapannya. "Hamil kamu?" Dan Marsha langsung memutar bola matanya. Kadang mamanya ini tingkat bercandanya suka absurd. "Marsha cowok mah. Ingat." Marsha kini menyingkirkan lebih jauh keranjang berisi buah strawberi itu. Dia sedang duduk malas di sofa yang ada di ruang keluarga. Dan mamanya duduk di sebelahnya. "Lha kamu aneh. Liat strawberi jadi mual. Kayak Mahmud lagi ngidam cal."   "Mahmud apaan?" Marsha kini menoleh ke arah sang Mama yang mengambil satu buah strawberi dan menggigitnya. Tapi sang Mama langsung merinding begitu merasakan rasa asam itu. "Ihh asem ini. Mahmud itu mamah muda. Ah kamu itu." Marsha hanya menggelengkan kepalanya. Dia makin tidak suka melihat strawbery itu. Semalam memang setelah membenarkan ban bocor mobil Melani. Wanita itu berterimakasih dengan mengecup pipinya. Sungguh, wanita jaman sekarang. Membuatnya pusing. "Dari semalam mabuk aroma itu deh mah jadi aku mual sekarang." Sang Mama langsung bergeser lebih dekat kepadanya. "Wah emang ada setannya ya di kamar kamu? Tapi kata papa sih emang ada tuh kamar kamu." "Ih Mama apaan sih? Apa hubungan aroma strawberi sama setan?" Sang Mama langsung tersenyum ke arahnya. "Ada dong cal. Kali aja itu setannya cewek tuh terus godain kamu pakai wangi strawbery gitu Cal." Nah kan mamanya mulai absurd lagi. Marsha langsung beranjak berdiri. Makin mual dengan buah merah itu. "Loh mau kemana kamu?" Marsha mengambil kunci mobil yang ada di atas meja kaca di depannya. "Mau cari udara segar mah. Week end ini loh." Sang Mama langsung mencibir. "Tumben anak Mama normal ya. Iya kamu udah tua Cal, buruan cari cewek gih. Nikahin terus bikinin mama selusin cucu ya."   Tuh kan mamanya membuat Marsha hanya menggelengkan kepalanya lagi. ***** Sudah lama tidak menetap di sini, membuat Marsha tidak mempunyai sahabat atau teman yang bisa diajaknya pergi. Kecuali Adrian. Tapi pria itu sekarang sudah di sibukkan dengan perusahaan keluarga. Marsha akhirnya membelokkan mobilnya memasuki kompleks perumahan Dokter Wina. Entah kenapa dia ingin bertemu dengan dokter itu. Marsha menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya mewah milik Dokter Wina. Dia berdoa semoga dokter Wina ada di rumah. Setelah keluar dari mobil, Marsha memencet bel yang ada di depan pintu. Menunggu. Suara langkah kaki terdengar. Membuat Marsha kini menegakkan tubuhnya. "owh Marsha?" Pucuk di cinta ulam tiba. Dokter Wina yang menyambutnya di ambang pintu. Tentu saja wanita itu makin terlihat manis dengan baju santainya. "Maaf mengganggu. Aku merasa bosan di rumah. Jadi boleh kan aku maen ke sini?" Dokter Wina langsung tersenyum cerah dan mengangguk. "Boleh sekali. Aku juga sedang libur hari ini. Ehm tapi bisakah kita pergi dari rumah? Aku bosan di rumah." Tentu saja Marsha langsung menganggukkan kepalanya. Kemana saja akan dia turuti asal bisa dekat dengan Wina. *****   "Nyaman?" Marsha menoleh ke arah Dokter Wina yang sudah duduk di sebelahnya. Tepatnya di dalam mobil miliknya. Wanita itu tersenyum manis lagi. "Ehm iya. Kita mau kemana?" Marsha menoleh sebentar ke arah Dokter Wina. "Mau nonton atau apa gitu?" Tapi dia bisa melihat Dokter Wina menggelengkan kepalanya. "Terlalu anak kecil kalau nonton. Kita kan udah gede dan ehm sepertinya makan di restonya Ritz Carlton saja gimana? Aku belum makan siang." Untuk sejenak Marsha mengerutkan keningnya. Tapi kemudian mengangguk. "Baiklah kita ke sana." Dokter Wina menyunggingkan senyum manisnya lagi. Dua lesung pipinya langsung terlihat saat ini. "Ehm sha, ini mobil kamu ya?" Marsha mengangguk seketika. "Iya mobilku saat pertama kali dapat honor dari kerja magangku. Dulu jaman kuliah. Meski ini termasuk mobil murah dan kuno, tapi aku suka." "Owh." Marsha langsung mengalihkan tatapannya lagi ke arah Dokter Wina. "Kenapa memang?" Dan Dokter Wina mengibaskan tangannya. "Tidak apa-apa. Hanya saja ehm untuk pria sekelas kamu. Maksudku putra pemilik rumah sakit terkenal, sepertinya kok tidak cocok gitu." Marsha kembali mengernyitkan keningnya. "Tidak cocok gimana? aku terlalu tampan gitu untuk naik mobil ini?" Dan tawa renyah Dokter Wina membuat Marsha ikut tertawa.   "Bukan. Maksudku kamu kok mau naik mobil begini." "Loh mobilku kan bagus. Meski iya termasuk mobil banyak orang sih. Hanya saja aku menghargai hasil kerjaku dulu." Ada keheningan yang lama setelah Marsha mengucapkan itu. "Maaf kalau kamu tidak nyaman. Ac-nya kurang dingin ya?" Marsha langsung mengalihkan tatapannya ke arah Dokter Wina lagi. Tapi wanita itu tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya lagi. ***** "Sudah sering makan di sini?" Saat akhirnya mereka sudah sampai di restoran yang dimaksud. Tentu saja Marsha terkejut karena Dokter Wina langsung bisa mendapatkan tempat di restoran itu. Sepertinya Dokter Wina pelanggan di sini. "Ehm hampir tiap minggu, dua sampai tiga kali deh. Aku suka masakannya. Enak kan?" Jawaban Dokter Wina membuat Marsha tersenyum "Wow. Kamu seleranya tinggi juga ya?" Marsha mengiris steaknya dan kini menatap Dokter Wina lagi. "Bagiku ini memang sudah gaya hidup sejak dulu. Aku selalu dimanja Mama dan papa. Jadi yah mungkin udah kebiasaan ya." Dokter Wina tersenyum manis lagi. Tapi sepertinya ada yang mengganjal di dalam lubuk hatinya. Tapi entah apa itu. "Ah halo Pak Marshall yang ganteng. Kita berjodoh ternyata." Marsha terkejut dengan sebuah suara yang menyapanya. Dan dia menoleh ke arah sampingnya. Dokter Melani sudah berdiri dengan anggunnya.   "Lagi kencan sama tuan putri?" Marsha menghela nafasnya saat mendengar sindiran lagi dari Dokter Melani. Wanita itu langsung membungkuk di sebelahnya. Dan otomatis Marsha menjauh. Aroma manis itu kembali memerangkapnya. "Sudah bawa kartu kredit yang banyak kan?" Tentu saja mendengar bisikan itu membuat Marsha langsung menatap Melani. Tapi wanita itu sudah menegakkan tubuhnya lagi. "Well. Dokter Wina yang cantik. Selamat menikmati kencan Anda. Saya permisi dulu." Marsha melihat Dokter Wina hanya tersenyum tipis. Dan menatap Dokter Melani yang kini melenggang menjauh dengan anggunnya. Wanita itu sudah merusak moodnya. "Dia cantik ya?" Pertanyaan Dokter Wina membuat Marsha kini menoleh kembali kepada teman kencannya itu. Marsha tersenyum. "Masih cantik kamu." Tentu saja ucapannya membuat Dokter Wina merona. Dan itu memang menambah kecantikannya. "Enggak ah. Di rumah sakit banyak yang mengidolakan dokter Melani. Dia memang cantik, dan sangat cerdas. Hanya saja aku tidak suka sikapnya. Terlalu menindas." Marsha mengangguk setuju. "Benar. Aku juga tidak suka."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD