Bab 12. Harta Gono-gini

1070 Words
"Maafkan aku ya, Mas. Karena kehadiran aku pernikahan kamu dan mbak Syifa hancur. Padahal aku sudah menerima menjadi istri kedua dan berharap kita bisa rukun mengurus anak ini bersama," ucap Sherly dengan wajah sedih mengusap perutnya yang belum buncit. "Kamu tidak perlu minta maaf, Sherly. Memang perempuan itu saja yang tidak tahu diri, sudah mandul harusnya dia terima saja pernikahan Ryan dengan kamu. Dia tidak mau, ya sudah bercerai saja!" ucap Dina masih dengan nada kesal. "Tapi kalau Mas Ryan harus kehilangan rumah dan pekerjaannya jika bercerai dengan mbak Syifa, itu semua gara-gara aku," ucap Sherly sambil menunduk. "Kamu nggak usah pikirin, pokoknya mama aku cari pengacara terbaik agar toko furniture bisa jadi milik Ryan," ucap Dina. Ryan membawa Sherly ke kamar yang dulu ia tempati sebelum menikah dengan Syifa dan pindah dari rumah tersebut. Kamar itu kecil dan tidak bisa menampung banyak barang, Sherly menghela nafas karena harus tidur di kamar kecil lagi. "Maaf ya, sementara kita tidur di sini dulu," ucap Ryan. "Nggak apa-apa, Mas. Kamar ini sama seperti kontrakan," ucap Sherly. "Nanti kalau aku cerai dengan Syifa dan berhasil mendapatkan harta gono gini, aku akan membeli rumah yang besar untuk kita tempati bersama anak kita," ucap Ryan. Sherly tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia memeluk Ryan dengan sangat senang karena sebentar lagi Ryan akan jadi miliknya tanpa harus berbagi dengan wanita lain. Di tempat kerjanya dulu yang bersebelahan dengan toko furniture milik Syifa, ada beberapa karyawan resto yang juga mengincar Ryan, tetapi Ryan hanya tertarik pada Sherly dan Sherly sangat senang saat bisa menjalin hubungan dengan lelaki yang ia nilai tampan dan kaya tersebut meskipun lelaki itu sudah memiliki istri. Sejujurnya Sherly cukup terkejut saat Ryan mengatakan dengan jujur padanya jika toko furniture dan rumah yang ia tempati milik sang istri, tetapi karena ada bayi dalam perut Sherly membuat wanita itu terpaksa menuruti kata Ryan untuk mau berbagi cinta dengan istri pertamanya. Ketika kebohongan Ryan di ketahui oleh Syifa dan Syifa meminta cerai, Sherly begitu khawatir Ryan tidak bisa memberinya uang dan membiayai hidupnya dengan layak. Namun, Sherly sedikit tenang saat sang mertua mengatakan akan mencari pengacara terbaik untuk perceraian dan mengusahakan toko furniture menjadi milik Ryan. Hari berganti, Dina sudah mencari pengacara yang akan mendampingi Ryan di sidang cerai. Wanita paruh baya itu mengajak Ryan untuk datang ke rumah Syifa untuk mengatakan itu semua. "Aku setuju bercerai denganmu, asal toko furniture itu jadi milikku," ucap Ryan saat sudah berada di rumah Syifa. "Toko furniture itu peninggalan kedua orang tuaku, jadi aku tak akan memberikannya padamu," jawab Syifa dengan kesal. "Jika kamu tidak bersedia memberikannya, maka aku akan menggugatnya sebagai harta gono-gini," ucap Ryan. "Harta gono-gini? Apa kamu tahu harta gono-gini itu adalah harta yang berhasil dikumpulkan selama berumah tangga sehingga menjadi hak berdua suami dan istri. Lalu harta mana yang kamu maksud itu, sedangkan rumah dan toko furniture itu adalah peninggalan orang tuaku!" ucap Syifa. "Tapi sepeninggal kedua orang tuamu, Ryan lah yang mengelola toko itu. Jadi harusnya Ryan berhak memiliki toko itu!" ucap Dina. Sebelah bibir Syifa terangkat, wanita itu tersenyum getir dan menggelengkan kepala mendengar ucapan wanita yang masih jadi mertuanya. Ia kini baru menyadari jika selama ini Ryan mau menerimanya bukan karena ketulusan, tapi karena harta peninggalan kedua orang tuanya. "Ucapkan talak untukku sekarang juga, Mas!" ucap Syifa semakin mantap ingin berpisah dari Ryan. "Aku tidak akan melakukannya, jika kamu tidak menyetujui permintaanku!" ucap Ryan. "Baiklah, jika kamu tidak mau mengucapkan talak. Aku yang akan mengajukan khulu ke pengadilan agama!" ucap Syifa. Syifa lagi-lagi mengusir suami dan mertuanya dari rumah itu, tentu saja hal itu membuat Dina begitu kesal dan terus mengumpat mengatakan sumpah serapah terhadap Syifa. Hal itu menjadi perhatian para tetangga, sifat buruk Dina membuat para tetangga tidak menyukainya dan kabar tentang Syifa yang akan bercerai dari Ryan pun dengan cepat menyebar di kampung. "Lah iya, Syifa udah bener mending cerai dari Ryan. Perempuan secantik dan sebaik Syifa udah janda pun banyak yang mau," ucap tetangga. Athar yang sedang berjalan mendengar ucapan tetangga dan melihat Ryan serta Dina berjalan menjauh dari rumah Syifa pun segera berlari ke rumah wanita cantik itu. Athar takut Ryan dan mama nya melakukan sesuatu yang buruk pada Syifa, saat sampai di depan pintu Athar melihat Syifa duduk di sofa ruang tamu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Assalamualaikum, Syifa. Apa yang di lakukan Ryan dan mama nya padamu?" tanya Athar. "Waalaikumsalam, Athar," Syifa menurunkan tangannya tak lagi menutupi wajah. Athar bergegas duduk di sebelah Syifa untuk memastikan keadaan wanita cantik tersebut, Syifa menggelengkan kepala karena Ryan dan sang mama tidak melakukan apapun padanya. Wanita cantik itu pun menceritakan apa maksud kedatangan Ryan dan sang mama ke rumahnya. Athar mengepalkan tangan dan mengeratkan giginya setelah mendengar Syifa bercerita sambil meneteskan air mata. Athar tak rela satu-satunya orang yang peduli padanya sejak kecil di sakiti dan di manfaatkan oleh lelaki tersebut. "Bantu aku mengurus perceraian ini, Athar. Dia akan menyewa pengacara agar mendapat harta gono-gini, aku tak sudi memberikan toko furniture itu padanya," ucap Syifa. "Aku akan membantu dan menyiapkan pengacara untukmu, dia sudah sangat keterlaluan, Syifa. Kamu harus kuat dan harus lepas dari lelaki toxic itu dan satu lagi apakah kamu tidak ingin balas dendam sebelum bercerai dengannya?" tanya Athar. "Balas dendam?" tanya Syifa. "Ya, kamu sudah memberikan semua milikmu padanya, tapi dia mengkhianati kamu, menyalahgunakan kepercayaan yang kamu beri untuknya, dan kini menginginkan hartamu," ucap Athar. "Kamu benar, Athar. Sekarang aku sadar dia tidak pernah mencintai ku, dia hanya menginginkan warisan dari orang tuaku. Aku tidak mau sakit sendiri, mereka harus merasakan sakit seperti yang aku rasakan sebelum aku dan Ryan resmi bercerai," ucap Syifa. "Ini, aku mendapatkan info tambahan tentang Sherly," ucap Athar memperlihatkan layar ponselnya kepada Syifa. Syifa melihat ponsel sahabatnya, ia terperangah melihat hal tersebut. Seketika ada suatu ide yang terlintas di kepalanya dan langsung ia catat dalam sebuah buku, hal itu membuat Athar mengerutkan keningnya. "Apa yang kamu tulis?" tanya Athar. "Aku membuat perjanjian sebelum cerai. Dia menginginkan toko furniture, aku akan memberikannya jika dia setuju dengan perjanjian ini," ucap Syifa. "Kamu yakin akan memberikan toko furniture peninggalan orang tuamu?" tanya Athar. "Iya, tapi hanya toko bukan seluruh asetnya," ucap Syifa. Athar tersenyum mulai paham jika sahabatnya itu hanya akan memberikan toko tempat jualannya saja, entah apa yang akan di lakukan Syifa dengan aset dan barang-barang yang ada di toko itu yang jelas Syifa tidak akan memberikannya pada Ryan. "Kamu cerdas, tapi aku penasaran apa isi perjanjian sebelum cerai itu?" tanya Athar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD