Bab 11. Hancur Tak Tersisa

1034 Words
"Syifa aku tahu aku salah, aku minta maaf, aku tidak mau bercerai denganmu," ucap Ryan. Ryan menyadari meskipun sudah memiliki istri muda, tetapi rasa cinta terhadap Syifa tidak hilang sepenuhnya. Wanita cantik dan baik itu masih memiliki posisi khusus di hati Ryan, apalagi lelaki itu sadar satu-satunya tempat ia menghasilkan uang adalah toko furniture milik Syifa jadi ia tak ingin bercerai dengan wanita cantik tersebut. "Syifa, aku mohon maafkan aku. Aku mencintaimu, aku tak ingin bercerai darimu," ucap Ryan berusaha meraih tangan Syifa meminta belas kasih dari istrinya tersebut. Syifa menghempas tangan Ryan dengan kencang, hatinya benar-benar sakit menerima kebohongan dari sang suami. Meskipun Ryan meminta maaf dan berlutut di hadapannya hal itu tidak membuat Syifa ingin merubah keputusannya. "Kata cinta dan maaf yang kamu ucapkan hanya sebuah kepalsuan, Mas. Aku tidak butuh itu, yang aku butuh saat ini adalah kata talak darimu!" ucap Syifa. "Aku tidak akan mengucapkan kata itu, Syifa. Beri aku kesempatan kedua, Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan asalkan kita tidak pernah bercerai," ucap Ryan. "Kamu yakin, Mas? Jika aku ingin kamu meninggalkan Sherly, apa kamu akan melakukan hal itu?" tanya Syifa dengan senyum penuh luka. Sherly sangat terkejut mendengar ucapan Syifa, tentu saja wanita seksi itu tidak ingin ditinggalkan oleh Ryan karena dia sedang mengandung saat ini. Sejak tadi ia diam tak mengatakan apa-apa saat Ryan mengemis kepada Syifa agar mereka tak bercerai, meskipun ada rasa sakit di hati melihat lelaki yang sudah berstatus suaminya terlihat begitu mencintai istri pertamanya dan tak ingin kehilangannya. "Mbak Syifa, tolong jangan meminta hal yang sangat kejam. Mas Ryan tidak boleh meninggalkan aku karena ada anaknya di dalam perutku," ucap Sherly. "Hahahaha ... Aku yakin kamu tidak pernah bersungguh-sungguh dengan ucapanmu, Mas Ryan. Kamu hanya bisa berjanji, tetapi tidak pernah bisa menepati. Pergi dari rumahku sekarang juga bawa serta gundikmu, Aku tak mau melihat wajah kalian!" ucap Syifa mengacungkan telunjuknya ke arah pintu. "Tidak Syifa, Aku tidak mau pergi meninggalkan rumah ini, Aku tidak mau pergi meninggalkan kamu, dan aku tidak mau bercerai dengan kamu," ucap Ryan masih mengemis pada Syifa. Lelaki itu melupakan harga dirinya, ia takut jika bercerai dengan Syifa maka ia tidak akan punya apa-apa lagi. Hal itu membuat Athar sangat geram, ingin rasanya ia memukul Ryan. Namun, ia yakin jika melakukan hal itu Syifa akan marah padanya. Ryan terus mencoba meraih tangan Syifa dan berlutut di hadapan Syifa untuk merayu wanita cantik itu kembali, tetapi Syifa yang sudah terlanjur kecewa lagi-lagi menghempaskan tangan Ryan dengan sekuat tenaga. Ryan yang sedang berlutut di hadapan Syifa akhirnya terhuyung hingga duduk di lantai, sebelah tangannya terkena pecahan beling dari gelas yang Syifa lempar tadi. Sherly yang melihat d4r4h keluar dari tangan sang suami, segera menghampiri suaminya itu dan mencoba membangunkannya. Di saat seperti itu tiba-tiba Dina datang, ia begitu murka melihat anak lelaki satu-satunya terluka karena Syifa. "Dasar perempuan mandul, tidak tahu diri. Harusnya kamu bersyukur anakku mau dengan kamu, dia dengan rendah hati meminta maaf dan tidak ingin bercerai dengan kamu. Namun, kamu membuatnya terluka seperti itu!" ucap Dina. "Luka di tangan yang Mas Ryan alami tidak ada apa-apanya dengan luka yang ada di hati aku, satu tahun dia berselingkuh di belakangku dan memakai uang dari toko ku untuk menghidupi gundiknya!" jawab Syifa dengan nada tinggi. "Harusnya kamu intropeksi diri, Ryan seperti itu karena kamu tidak bisa memberinya anak. Wanita mandul seperti Kamu harusnya terima jika suamimu memiliki wanita lain yang bisa memberi anak untuknya!" ucap Dina. Semakin perih luka hati Syifa seakan disiram air garam oleh sang mertua, ia sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Wanita cantik itu meraih kembali gelas yang ada diatas meja dan di lempar ke lantai hingga hancur tak tersisa. "Pergi dari rumah ku sekarang juga! Aku tak mau melihat wajah kalian!" teriak Syifa. "Ayo Ryan pergi dari rumah ini, jangan biarkan harga dirimu di injak-injak perempuan mandul ini," ucap Dina. Nafas Dina kembang kempis, ia membawa sang anak keluar dari rumah itu. Ryan nampak tak rela meninggalkan rumah tersebut, ia terus menatap Syifa tak memperdulikan luka di tangannya, sementara Sherly tanpa mengucapkan sepatah katapun mengekori mertua serta suaminya. Saat ketiga orang itu sudah keluar tubuh Syifa pun luruh ke lantai, Athar dengan sigap menangkap tubuh wanita cantik itu hingga tidak sampai terkena pecahan beling di lantai. "Syifa, kau baik-baik saja?" tanya Athar. "Aku seperti pecahan beling itu, Athar. Hancur Tak Tersisa, aku hanya wanita mandul yang tak berharga, tak pantas untuk dicinta, Athar," ucap Syifa dengan isak tangisnya. "Jangan berpikir seperti itu, belum tentu kamu mandul usia pernikahanmu baru 2 tahun, mereka saja yang tidak sabaran dan tidak tahu diri. Kamu sangat berharga dan kamu sangat pantas untuk dicinta, Syifa. Kamu hanya salah mendapatkan suami, Ryan itu lelaki bodoh yang membuang berlian hanya untuk memungut bongkahan beling," ucap Athar. Syifa tak mengucapkan apa-apa lagi, ia terus menangis meluapkan rasa sakit di hatinya atas penghianatan yang dilakukan sang suami, serta hinaan yang selalu dilontarkan oleh sang mertua. Athar masih berada di samping Syifa dan mendampingi wanita cantik itu sampai ia merasa tenang, Syifa sudah benar-benar yakin ingin bercerai dengan Ryan. "Jika dia tidak mau menjatuhkan talak kepadaku, maka aku yang akan menggugatnya di pengadilan agama," ucap Syifa. "Aku akan siapkan pengacara untukmu, di dalam berkas ini ada bukti perselingkuhan Ryan dan Sherly. Hal itu akan membuat proses perceraian mu lebih cepat," ucap Athar. "Terima kasih banyak, Athar. Jika tidak ada kamu, mungkin Ryan dan Sherly akan terus membohongiku," ucap Syifa. "Firasatku tidak salah, malam itu aku bermimpi kamu menangis di sudut ruangan, ternyata masalah ini yang kamu hadapi. Sekarang semua sudah terungkap, kuatlah untuk menghadapi semuanya," ucap Athar. Di sisi lain, Dina sedang mengobati tangan Ryan yang terkena pecahan beling. Wanita paruh baya itu terus mengumpat mengingat apa yang dilakukan Syifa pada anaknya tadi. "Mah, kalau aku bercerai dengan Syifa Aku mau kerja apa dan mau tinggal di mana? Kan Mama tahu toko furniture dan rumah itu milik Syifa," ucap Ryan. "Kamu bisa tinggal di rumah ini bersama Mama dan Sherly, untuk pekerjaan kamu kan bisa minta harta gono gini saat bercerai dengan Syifa. Selama ini toko furniture itu kamu yang mengelola, kita bayar pengacara agar toko furniture itu jatuh ke tangan kamu!" ucap Dina. "Mama yakin aku akan mendapatkan toko furniture itu?" tanya Ryan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD