Bab 16. Dibuat Sibuk

1024 Words
"Tidak ada, ayo kita renang," jawab Ryan. Lelaki itu berpura-pura tidak memikirkan apa-apa, padahal ia baru saja teringat dengan istri mudanya yang kerap memakai baju seksi memamerkan lekuk tubuhnya di depan semua orang. Hal itu pula yang membuat Ryan awalnya tergoda dengan Sherly, hingga akhirnya mereka menjalin perselingkuhan di belakang Syifa. Kini Ryan menatap tubuh mulus sang istri yang hanya di balut bikini, begitu seksi dan menggoda. Pemandangan yang tidak pernah ia lihat dari sang istri yang selama ini menutup auratnya. "Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini?" tanya Ryan menarik tangan Syifa hingga kini tubuh mereka sangat dekat. "Aku hanya ingin memberikan kenangan terindah di sisa waktu kita, Mas," ucap Syifa seraya tersenyum. "Kenapa tidak sejak dulu kamu seperti ini, jika sejak dulu kamu seperti ini mungkin aku tidak akan tergoda wanita lain," ucap Ryan. "Kamu tidak pernah mengajak aku liburan, kalau di rumah kan gak mungkin aku pakai baju seksi. Tubuh seksi ku hanya boleh di pandang oleh kamu dalam moment spesial, Mas," ucap Syifa. Ryan kini menyadari kesalahannya yang sibuk bekerja dan bermain dengan wanita lain, sedangkan jika pulang ke rumah hanya untuk makan dan beristirahat. Ia seolah lupa jika di rumah ada istrinya yang tidak kekurangan satu apapun, hanya restu sang mama yang membuat Ryan memandang Syifa sebagai wanita yang penuh kekurangan. Setiap hari Dina selalu menjelek-jelekkan Syifa di depan Ryan, wanita cantik itu tidak pernah ada baiknya di mata Dina sehingga Ryan semakin hari semakin lelah mendengar pengaduan Dina tentang Syifa apalagi jika membahas tentang Syifa yang belum juga hamil. "Aku gak tahu kalau kamu bisa renang," ucap Ryan saat melihat sang istri meliuk dengan indah di dalam air. "Waktu kecil ibu dan ayah sering ajak aku liburan ke water park, aku dan Athar belajar renang bersama," ucap Syifa. "Kamu menyebut namanya lagi," ucap Ryan kesal karena Syifa menyebut nama Athar. "Oh maaf, Mas. Aku lupa, kamu bisa renang gak?" tanya Syifa mengalihkan pembicaraan. "Bisa dong," ucap Ryan. "Gimana kalau kita lomba renang, dari ujung sini ke ujung sana lalu kembali ke sini," ucap Syifa. "Hadiahnya apa kalau aku menang?" tanya Ryan. "Terserah kamu deh mah minta apa," ucap Syifa. "Aku mau servis kamu 3 ronde," ucap Ryan dengan kerlingan mata genit nya. "Siap," ucap Syifa membalasnya dengan senyum. Mereka pun mulai berenang, Ryan begitu semangat karena ingin memenangkan pertandingan itu. Syifa sengaja menciptakan suasana yang membuat Ryan senang dan ia pun memperlambat gerakannya hingga Ryan menang dan merasa sangat senang. "Hah ... Kamu kok renangnya cepat banget, Mas!" ucap Syifa setelah sampai di ujung kolam. "Hahaha ... Lihatlah stamina ku, ingat 3 ronde," ucap Ryan begitu senang. Syifa menganggukan kepala lalu Ryan mengangkat tubuh Syifa ala bridal style, mereka memasuki kamar dan melakukan aktivitas panas seusia keinginan Ryan. Setelah menyelesaikan aktivitas itu mereka mandi dan memanggang daging serta jagung, menikmati hari hingga malam berdua tanpa gangguan dari siapapun, Syifa memperlakukan Ryan dengan sangat baik membuat lelaki itu benar-benar senang dan kembali mengingat saat awal ia mengejar cinta Syifa dulu. Di sisi lain, Dina sudah menunggu kepulangan Ryan dari sore hingga malam. Namun, anaknya tak juga menampakkan batang hidungnya. Wanita paruh baya itu sangat kesal karena sudah lama menunggu. "Mereka pergi kemana sih, gak ada yang tahu, gak bisa di hubungi pula. Apa mereka gak pulang ya?" ucap Dina. Wanita paruh baya itu tidak bisa masuk kedalam rumah Syifa karena di kunci, ia hanya menunggu di teras dan menjadi bahan gunjingan para tetangga. "Kayanya Bu Dina udah gak di izinin masuk rumah Syifa ya," ucap tetangga. "Ke toko nya juga udah gak di izinin masuk, lho. Tadi kebetulan aku lewat terus melihat Bu Dina sama istri barunya Ryan di jaga dua orang lelaki saat mau masuk toko," timpal tetangga lain. "Sukurin, lagian udah punya menantu cantik, baik, dan kaya, tapi gak bersyukur. Lihat aja nanti kalau Ryan udah cerai dari Syifa apa yang bisa mereka sombong kan, selama ini yang mereka sombong kan harta punya Syifa," lanjut tetangga lain. Hari semakin malam, Dina semakin lelah menunggu Ryan dan Syifa. Akhirnya wanita paruh baya itu pun melangkahkan kaki kembali ke rumahnya tanpa mendapat hasil apapun, sesampainya di rumah ia langsung di sambut oleh pertanyaan sang menantu yang semakin membuatnya kesal. "Gimana udah ketemu mas Ryan belum, Mah? Di kasih uang buat pasang AC gak?" tanya Sherly. "Ryan dan Syifa gak pulang-pulang, gak tahu mereka kemana. Mama cape nunggu mereka di luar sampe digigit nyamuk!" jawab Dina kesal. "Mereka gak pulang?" tanya Sherly. "Ya, gak tahu kemana. Kayanya Syifa sengaja bawa Ryan pergi jauh, mana uang di ATM tinggal sedikit," ucap Dina. Sherly kesal karena membayangkan sang suami sedang asik liburan dengan istri pertamanya, tetapi ia di rumah malah di biarkan tidur di kamar kecil dan sumpek tanpa ac. Dina masuk ke kamarnya begitupun Sherly, setelah berada di dalam kamar Sherly langsung merebahkan tubuhnya di kasur kecil milik Ryan yang hanya bisa di tempati satu orang. Ponselnya tiba-tiba berdering dan Sherly langsung mengangkat panggilan itu. "Hallo," ucap Sherly. "Hallo, kamu lagi apa, Sayang?" "Lagi bt, lagi kegerahan karena harus tidur di kamar yang sumpek dan panas ini. Ngapain kamu tanya-tanya?" ucap Sherly kesal. "Tidur dimana? Bukannya kamu sudah di bawa pindah sama Ryan ke rumah bagus itu?" "Cuma beberapa hari, ternyata rumah dan toko furniture itu milik istrinya. Pas istrinya tahu aku selingkuhan Ryan dia usir kita dan minta cerai dari Ryan," ucap Sherly. "Kamu salah cari mangsa dong!" "Iya, makanya aku kesal. Satu tahun dia biayain hidup aku ternyata pakai uang istrinya dan sekarang harus nunggu harta gono-gini dulu," ucap Sherly. Sherly terus berbicara dengan orang itu di sambungan telepon, ia mengeluarkan segala keluh kesah dan rasa kesalnya. Di kamar lain, Dina merasa haus dan keluar dari kamar menuju dapur untuk meminum air dingin. Saat melewati kamar sang menantu ia pun samar-samar mendengar Sherly seperti sedang berbincang dengan seseorang, Dina mengerutkan keningnya, tidak mungkin Sherly berbicara dengan Ryan sebab nomor ponsel Ryan saja tidak bisa di hubungi oleh mereka berdua sejak kemarin. "Sherly, kamu sedang bicara dengan siapa?" tanya Dina penasaran dan tiba-tiba membuka pintu kamar Sherly tanpa mengetuk. "Ya ampun, Mah. Bikin kaget aja," ucap Sherly langsung mematikan teleponnya. "Sedang teleponan sama siapa kamu? Tidak mungkin sama Ryan kan?" tanya Dina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD