Bab 8. Mertua Pelit

1081 Words
"Siapa yang cari aku?" tanya Syifa. Wanita cantik itu menghapus air mata lalu berjalan keluar rumah untuk melihat siapa yang datang mencarinya, ternyata tetangga yang datang mencari Syifa. "Bu Murni, ada apa?" tanya Syifa. "Mbak Syifa maaf kalau saya mengganggu. Saya mau pinjam uang, anak saya sakit suami saya belum gajian," ucap Bu Murni tetangga Syifa. "Anak ibu sakit apa?" tanya Syifa. "Demam sudah 3 hari nggak turun-turun, Saya mau bawa ke dokter takut semakin parah demamnya," ucap Bu Murni. "Ya ampun tunggu sebentar, Bu." Syifa berjalan cepat ke kamarnya untuk mengambil uang, lalu kembali lagi keluar untuk memberikan uang tersebut kepada Bu Murni, hal itu diperhatikan oleh Dina yang sedang berada di meja makan. "Segini cukup, Bu?" Tanya Syifa seraya menyodorkan dua lembar uang pecahan seratus ribu. "Mudah-mudahan cukup, Mbak Syifa. Nanti kalau suami saya gajian saya langsung ganti uangnya ya," ucap Bu Murni. "Sama-sama, Bu. Nggak usah dipikirkan kapan mengganti uangnya, yang penting sekarang pikirkan kesehatan anak Ibu dulu ya!" ucap Syifa. "Terima kasih banyak, Mbak Syifa. Semoga Allah membalas kebaikan Mbak, Saya permisi akan segera membawa anak saya ke dokter. Assalamualaikum," ucap Bu Murni. "Waalaikumsalam, semoga cepat sembuh anaknya, Bu," ucap Syifa. Bu Murni berlari menuju rumahnya yang tak jauh dari rumah Syifa, sementara Syifa berjalan ingin masuk kembali ke kamarnya. Namun, sang mertua mengucapkan kata-kata yang membuat Syifa kembali meradang. "Jadi orang jangan sok baik, kasih pinjem uang ke sembarangan ke orang. Belum tentu orang itu bisa mengganti uang yang kamu pinjamkan, lebih baik kamu kasih Aku uangnya," ucap Dina. "Astaghfirullahaladzim, Mah. Apa Mama nggak lihat tadi wajah Bu Murni yang sedih dan kebingungan, sebagai tetangga wajar kalau kita membantunya," ucap Syifa. "Dari sekian banyaknya tetangga Kenapa dia datang dan minta tolongnya ke sini? Pasti karena kamu yang sejak dulu sok baik sama orang-orang. Suaminya Murni itu kerjanya serabutan, sayang banget kalau uang yang kamu pinjamkan nggak bisa diganti sama dia!" ucap Dina. "Kalau memang Bu Murni nggak mampu bayar hutang karena keadaannya, aku akan ikhlaskan hitung-hitung sebagai sedekah," ucap Syifa. "Enak banget kamu ngomong begitu, anak aku yang capek banting tulang cari uang, kamu yang habis-habisin pakai belaga sedekah segala!" ucap Dina seraya berdecak pinggang. "Bersedekah tidak akan membuat uang habis dan tidak akan membuat seseorang miskin," ucap Syifa. "Kamu itu ya, makin berani aja ngejawab!" ucap Dina semakin kesal. Syifa tak ingin meladeni sang mertua, ia kembali masuk kedalam kamar dan lalu mengambil wudhu dan membaca ayat suci Al-Quran. Wanita cantik itu pikir lebih baik menghabiskan waktu untuk membaca Alquran dari pada berdebat dengan mertuanya. Hari berganti sore, Ryan pulang dari toko furniture, seperti biasa Syifa menyiapkan baju ganti dan memasak untuk sang suami. Dina belum pulang ke rumahnya, ia ikut makan bersama dan membicarakan hal-hal yang membuat Syifa kembali kesal. "Ryan, sekarang kamu punya istri dua. Uang belanja bagi dua, Syifa jangan di kasih terlalu banyak keenakan sok baik sama orang!" ucap Dina. "Mas Ryan ingat kamu harus adil," ucap Syifa tak mau kalah. "Iya uang belanja pasti aku bagi dua, Mah. Aku juga akan adil, Syifa," ucap Ryan menengahi ucapan ibu dan istrinya. "Huh, kamu nggak tau aja untuk apa uang itu Syifa pergunakan di belakang kamu!" ucap Dina. "Memangnya untuk apa?" tanya Ryan. "Syifa itu sok baik, kasih pinjam uang cuma-cuma ke tetangga kamu. Kalau gak di ganti gimana coba, kan lebih baik uangnya untuk Mamah," ucap Dina. "Memangnya salah kalau membantu tetangga yang membutuhkan, Mas. Jika dia tidak mampu bayar anggap aja sedekah, kamu ingat ceramah ustadz kan kalau kita rajin sedekah rejeki pun akan lancar!" ucap Syifa. "Lihat Ryan, istrimu ini semakin hari semakin berani menjawab ucapan Mama," ucap Dina. "Aku sudah lelah terus mengalah, tapi tetap di sakiti pada akhirnya!" ucap Syifa seraya menggebrak meja. Wanita cantik itu berjalan ke kamarnya muak dengan apa yang di lakukan sang mertua, Ryan menghela nafas meminta sang mama untuk berhenti bicara yang bisa membuat Syifa emosi. "Mah, jangan seperti itu. Syifa masih dalam keadaan emosi, ia sedang mencoba menerima pernikahan aku dengan Sherly. Jangan buat dia marah nanti berimbas pada pernikahan aku dan Sherly," ucap Ryan. "Huh ... Kalau bulan karena Sherly mama malas ke rumah ini, Syifa semakin hari semakin membangkang," ucap Dina. Wanita paruh baya itupun pulang ke rumahnya, sementara Ryan mendatangi Syifa di kamarnya karena semua barang keperluan Ryan masih ada di kamar itu. "Syifa, aku minta maaf atas sikap Mama ke kamu ya," ucap Ryan. "Mama kamu tidak pernah berubah dari dulu seperti itu, Aku capek Mas berdebat sama dia," ucap Syifa. "Maka dari itu jangan diajak berdebat, diam saja jika Mama sedang berbicara," ucap Ryan. Syifa menghela nafas, percuma mengeluh kepada Ryan karena lelaki itu tidak akan pernah membelanya. Sejak dulu Ryan meminta Syifa untuk diam dan tak menjawab apapun ucapan sang mama, ia juga tidak menasehati sang Mama agar tidak menyakiti hati istrinya. "Aku di kamar Sherly malam ini," ucap Ryan. Syifa menganggukkan kepalanya, rela tak rela ia harus siap menerima hal itu. Setiap malam Ryan bergantian tidur di kamar istri pertama dan istri keduanya, Ryan pun berjalan ke kamar yang di tempati Sherly. Lelaki itu tersenyum begitu membuka pintu melihat sang istri muda sudah menyambutnya dengan baju tidur yang tipis dan parfum menggoda. "Sini, Mas. Duduk aku pijit punggungnya," ucap Sherly. "Gimana aku gak tergila-gila sama kamu, kamu selalu menyambut ku dengan cara yang manis seperti ini," ucap Ryan. Sherly tersenyum dan mulai memijat punggung Ryan, wanita itu lantas menceritakan jika Syifa dan mertuanya bertengkar siang tadi dan wanita itu pun bertanya tentang kebenaran Syifa yang hanya seorang anak angkat. "Jadi Mbak Syifa itu anak angkat Mas?" tanya Sherly. "Iya, aku juga kaget waktu tahu hal itu. Jadi pas nikah pakai wali hakim dan akadnya Syifa Nur Laila binti Fulan Al-Andunusi," ucap Ryan. "Ya ampun, kok kamu masih mau nikah sama dia kan orang tuanya gak jelas. Gimana kalau dia anak haram yang di buang orang tua kandungnya?" tanya Sherly. "Dulu aku bucin sama Syifa, gak mikir sampai sana. Yang penting bisa sah menikah dengan Syifa," jawab Ryan. "Oh iya, tempo hari aku lihat ada lelaki yang datang dan berbicara dengan Mbak Syifa. Dia siapa ya, Mas?" tanya Sherly. "Lelaki? Ciri-cirinya seperti apa?" tanya Ryan. "Lelaki itu tampan, pake kemeja dan dasi seperti orang kantoran, terus bawa mobil plat kota," ucap Sherly. "Atharazka," ucap Ryan seraya mengepalkan tangannya lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Sherly. Lelaki itu masuk ke kamar yang di tempati Syifa tanpa mengetuk dan menatap tajam Syifa yang sedang fokus menjawab telepon. "Siapa yang menelpon mu malam-malam, Syifa? Apa itu Atharazka?" tanya Ryan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD