Bab 9. Informasi Valid

1074 Words
"Athar, nanti aku hubungi lagi," ucap Syifa lalu mematikan sambungan teleponnya. Ryan berjalan kedalam kamar itu dan menghampiri Syifa yang sedang meletakan ponselnya diatas nakas. Syifa mengerutkan keningnya melihat sang suami masuk ke kamarnya, padahal ia malam ini harusnya tidur di kamar Sherly. "Ada apa, Mas?" tanya Syifa. "Siapa yang menelpon mu malam-malam begini, apa itu Athar?" tanya Ryan. "Iya, itu Athar." "Aku sudah bilang padamu, aku tidak suka melihat kamu teleponan sama lelaki itu," ucap Ryan. Syifa menghela nafas, memang selama ini Ryan cemburu kepada Athar dan Syifa pun berusaha untuk menjaga jarak dengan Athar dengan tidak mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya itu. Namun, mereka tetap berkomunikasi melalui pesan singkat. "Ya aku juga sudah bilang sama kamu, kalau aku tidak suka melihat kamu dekat dengan wanita lain. Namun, kamu tidak hanya dekat, tetapi menikahi wanita lain," ucap Syifa dengan nada datar, tapi sukses membuat mulut Ryan terbungkam. "Kamu mau membalas?" tanya Ryan. "Tidak, kan kamu tahu dari dulu Athar adalah sahabatku," ucap Syifa. "Dia sudah lama tidak kembali ke kampung ini, lalu untuk apa sekarang dia kembali kesini dan menemui mu?" tanya Ryan. "Kamu tahu dari mana kalau Athar ada di sini dan menemui ku, Mas?" Syifa balik bertanya. "Sherly yang bilang tadi, katanya kemarin ada lelaki yang menemui mu," ucap Ryan. Syifa tersenyum kecut mendengar jawaban sang suami, ia tak menyangka jika wanita yang menjadi madunya itu mengadu tentang kehadiran Athar. Sementara Ryan masih memandang Syifa penuh cemburu, ia tak suka istrinya di dekati lelaki lain, meskipun itu sahabat kecil istrinya. Syifa tak ingin menanggapi pertanyaan Ryan, ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan mulai memejamkan matanya. Sementara Ryan sangat egois merasa kesal melihat sang istri tampak tak menanggapi kekesalannya. "Bukannya malam ini kamu tidur di kamar Sherly, Mas?" tanya Syifa. "Kamu belum menjawab pertanyaanku, Syifa," ucap Ryan. "Pertanyaan yang mana?" Syifa balik bertanya. "Untuk apa Athar kembali ke kampung ini dan menemui mu?" tanya Ryan. "Dia hanya sedang liburan, mungkin rindu ayahnya. Minggu depan juga sudah kembali kerja di kota lagi, dia sahabatku wajar kan saat pulang kesini dia menemui ku," ucap Syifa. "Kamu tidak sedang ingin membalas ku dengan cara berselingkuh kan?!" ucap Ryan. "Astagfirullah, Mas. Kalau aku mau tak perlu aku meminta Athar pulang kampung. Sejak dulu banyak lelaki yang menggodaku, tapi aku tetap setia padamu. Namun, ternyata kesetiaanku kamu balas dengan cara seperti ini," ucap Syifa. "Kamu kan tahu aku menikahi Sherly karena terpaksa, harus berapa kali aku mengatakan ini padamu Syifa," ucap Ryan. "Sudah lah, Mas. Aku lelah membahas hal ini dengan kamu, aku ngantuk ingin tidur, kalau kamu mau tidur di sini silahkan, kalau mau tidur di kamar Sherly tolong tutup pintu kamar ini," ucap Syifa lalu memejamkan matanya. Ryan menghela nafas menatap Syifa yang mulai berubah, sejak ia membawa Sherly ke rumah itu Syifa yang tak pernah marah apalagi membentaknya kini berani melakukan hal itu. Bahkan wanita yang selalu berkata dengan lembut dan senyum yang manis kini berubah dengan kata tajam tanpa senyuman. Lelaki itu keluar dari kamar dan menutup pintu, ia kembali ke kamar Sherly karena memang giliran tidur di kamar istri keduanya itu. Sementara, Syifa diam-diam mengusap air matanya di bawah selimut, di depan Ryan ia bisa berpura-pura tegar. Namun, saat sendiri ia kembali menangis menahan rasa sakit di dadanya. Athar menelponnya untuk mengabari jika orang suruhannya sudah mendapat informasi tentang Sherly meski informasi itu belum lengkap, ternyata Sherly mantan karyawan restoran yang berada di sebelah toko furniture milik Syifa yang di kelola Ryan. Kecurigaan Syifa semakin kuat jika Ryan berbohong padanya tentang pernikahan yang terjadi karena keterpaksaan. "Awas saja kalau kamu bohong, Mas." Syifa mencoba tidur meski sulit untuk terlelap. Di sepertiga malam wanita cantik itu terbangun dan salat tahajud, ia kembali mengadukan rasa sakit hatinya pada sang khalik dan meminta petunjuk untuk kehidupannya. Keesokan harinya, Ryan ke toko furniture seperti biasa dan Athar datang ke rumah Syifa untuk memberikan informasi yang telah di dapatkan oleh orang bayarannya. "Kok cepet banget sih?" tanya Syifa kini duduk di depan Athar di ruang tamu. "Kalau ada uang semua urusan lancar," ucap Athar sambil tertawa. "Bener juga, berapa kamu bayar mereka?" tanya Syifa. "Rahasia, udah jangan pikirkan biayanya. Ini kamu baca dulu, tapi janji apapun fakta yang kamu ketahui, kamu harus tetap jadi Syifa yang kuat dan tegar," ucap Athar. Syifa menganggukkan kepala lalu mulai menerima berkas yang di berikan Athar, tangannya bergetar membuka lembaran di hadapannya. Matanya memerah dan akhirnya air mata mulai menganak sungai di pipinya. "Bodoh, bagiamana aku tak tahu suamiku sudah berselingkuh selama satu tahun?" ucap Syifa seraya menghapus air matanya. "Cinta, baik, dan bodoh itu memang beda tipis. Kamu sudah aku peringatkan berkali-kali tentang Ryan sebelum kamu menikah, tapi kamu tetap membelanya dan mengatakan dia berbeda dari lelaki lain, itu sebabnya aku kecewa dengan keputusanmu dan tak ingin kembali kesini," ucap Athar. Syifa menangis mendengar ucapan Athar, dulu memang sahabatnya itu pernah mengingatkan tentang Ryan yang sering terlihat bergonta-ganti pacar. Namun, Ryan meyakinkan Syifa jika bergonta-ganti pacar karena ingin mencari yang terbaik dan setelah menikah ia akan berubah, akan setia pada istrinya. Hal itu membuat Syifa luluh dan akhirnya mau menikah dengan Ryan, apalagi Ryan mau menerima saat mengetahui Syifa hanyalah anak angkat. "Berhenti menangis, Syifa. Kamu sudah janji akan tetap jadi Syifa yang kuat dan tegar apapun fakta yang kamu dapatkan!" ucap Athar. Dari kejauhan Sherly terus memperhatikan Syifa dan Athar, sesaat wanita itu terpesona dengan ketampanan Athar. Namun, saat menguping pembicaraan antara Athar dan Syifa akhirnya Sherly merasa resah. Ia takut Syifa tidak mau menerima bahkan mengusirnya dari rumah itu setelah mendapat informasi valid tentang ia dan Ryan yang sudah berselingkuh sebelum akhirnya menikah. "Gawat, Mbak Syifa sudah tahu kalau aku dan Mas Ryan menikah bukan karena keterpaksaan. Gimana kalau aku di usir dari rumah ini?" gumam Sherly. Sherly berjalan cepat ke kamarnya lalu menghubungi Ryan, mengetahui hal itu Ryan yang sedang berada di toko furniture pun bergegas pulang. Sesampainya di rumah ia sangat emosi melihat Athar yang masih berada di ruang tamu sedang berbicara dengan Syifa. "Apa yang kau lakukan di sini? Pergi dan jangan pernah dekati istriku!" ucap Ryan. "Ini rumahku, kamu tidak berhak mengusir Athar," ucap Syifa berdiri dan menatap Ryan dengan tatapan nanar. Ryan tertegun mendengar ucapan Syifa, sementara Athar tersenyum tipis merasa puas melihat wajah Ryan yang memerah menahan kesalnya. Nafas Syifa kembang kempis saat menatap wajah Ryan dan mengingat fakta yang baru saja ia ketahui tentang Ryan dan Sherly, wanita cantik itu lantas melakukan hal yang membuat Athar, Ryan, dan Sherly terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD