Bab 6

1294 Words
Rizky melihat kembali ke arah dinding yang baru dia sentuh. Apa yang baru saja dia saksikan? Resonansi? “Dari semua hal yang terjadi di sini, apa yang barusan aku lihat itu?” gumam Rizky tidak percaya. Dia kembali menyentuh dinding itu, dan resonansi itu kembali terjadi. Dia melihat sebuah balai, sebelum seluruh ruangan itu kembali menjadi ruangan penuh api hitam miliknya lagi. Apa ini maksudnya? Kenapa ada ruangan balai sebagai resonansi di tempat seperti ini? Apa yang sebenarnya dia saksikan? “Kenapa ada hal seperti ini? Apa maksudnya?” Rizky memperhatikan ke sekeliling ruangan itu. Apa yang sebenarnya terjadi kala dia melihat resonansi itu? Dia lalu mendengar sebuah suara keras. “Ikuti arahan saya!” “Bekerja itu jangan t***l!” “Kok kerja gak becus gitu!?” Terdengar suara tangan memukul wajah. “Kerja yang benar t***l!” “Suara apa itu?” gumam Rizky kebingungan. Bagaimana bisa ada suara-suara seperti itu di tempat seperti ini? Jelas sekali yang baru saja dia dengar adalah suara manusia. Tetapi, selama dia di sini, hanya monster yang bisa melakukan percakapan selayaknya manusia, dan tidak ada satu manusia pun selain dirinya. “Bos, ini enaknya di apakan? Dia gak becus kerjanya!” “Aku saja yang turun tangan kali ini mumpung aku belum sibuk. Pecat dia!” “Tapi bos-” “Ada masalah kalau aku menyupir truknya?” Suara itu kali ini sangat menantang orang yang mencoba membantah, dan tidak ada balasan. Rizky mengepalkan tangannya. Siapapun orang yang ada dalam percakapan itu, dia akan cari tahu. Dia tidak terima dengan perlakuan yang dia dengar. Dia tidak mengerti detail masalahnya, tapi jelas apa yang dia dengar ini jauh dari kata nyaman untuk di dengar. Suara-suara kasar, jahat, dan penuh dengan sikap judgmental manusia. Dia mengepalkan erat tangannya. “Aku harus bergerak lagi,” komentar Rizky. Rizky mengumpulkan semua barang yang bisa dia koleksi dari hasil bertarungnya. Satu yang mengganggu, tetapi baru terpintas dengan benar di benaknya adalah bagaimana bisa barang-barang yang dijatuhkan oleh monster seperti uang dan handsaplast bisa tidak hancur oleh apinya, meski tentunya menghitam sampai dikibaskan. Dia juga mengambil kembali pedangnya yang dia lempar saat pertempuran. Setelah selesai mengumpulkan semua barang, dia pun berjalan ke ruangan berikutnya, yang membawanya pada percabangan koridor lurus dan belok kanan. Suatu hal yang baru pertama kali dia lihat di dunia ini, percabangan di koridor. “Biasanya searah, sekarang mulai berkoridor. Sepertinya akan memakan waktu,” gumam Rizky seraya mempertimbangkan jalan yang akan dia ambil. Dia akhirnya memutuskan untuk belok ke kanan. “Aku harap ini sebuah diversion dari jalur utama,” komentar Rizky sambil berjalan. Dia melihat ke depan, dan dari ujung netranya, ada bayangan seekor burung elang di ujung jalan. Sepertinya, elang itu menjaga sebuah benda, karena matanya tampak sangat tajam menyorot ke sekitarnya. Kala Rizky semakin mendekat, elang itu mengepakkan sayapnya, mengancam. Rizky mundur selangkah melihat sikap elang itu. “Wah wah, sepertinya aku tidak bisa sembarangan ya,” komentar Rizky. Dia menyipitkan matanya, berkonsentrasi. Rizky menilai, mungkin dia bisa menyelesaikan pertempuran ini secepat dia memulainya, tetapi dia tahu elang ini kemungkinan sangat cepat, dan serangan gegabah bisa berbahaya. “Katára spathí.” Dia menyadari penuh kala bertarung di aula, bahwasanya kemampuan enhancement dari sihirnya pada pedang miliknya memiliki dua variasi tergantung intent yang dia inginkan. Kala dia pertama memakai sihir enhancement, dia menggunakannya untuk menghabisi Sam dan tiga ksatria, dalam satu serangan kuat dan efek dari pedangnya pudar dengan cepat. Akan tetapi, kala dia hanya memiliki intent untuk menyapu bersih situasi, efek dari enhancement melemah tetapi justru bisa dipakai berulang kali tanpa disebutkan berulang kali. Kekuatan miliknya bergantung pada keinginannya, itu yang akhirnya dia simpulkan. Itu, atau kekuatan dia masih jauh dari kendali stabil yang semestinya. Hanya saja, bukan waktu untuk memikirkan hal itu. Apa mungkin dia lebih baik pakai pedang dari ksatria pertama yang dia ambil pedangnya? Rizky mengganti pedangnya, dan elang itu terus diam mengamati. Sepertinya, dia hanya berfokus pada menjaga, dan jika terlalu dekat, maka elang itu baru akan menjadi sangat agresif. Rizky berpikir, apa mungkin dia bisa membenamkan sihir, sementara elang itu mengamatinya dengan lekat. Hanya saja, dia tidak tahu, apakah benda yang dijaga oleh elang itu benar-benar berguna, atau hanya akan memenuhi penyimpanan khusus miliknya? Setidaknya, pedang si ksatria bisa berguna kalau melawan elang ini. “Kita coba saja kalau begitu ya?” komentar Rizky seraya mengambil posisi bersiap. Dia tidak akan memulai serangan pertama dengan gegabah. Dia sebisa mungkin ingin pertarungan ini selesai dalam satu serangan. “Katára spathí.” Elang itu tidak merespons, hanya menatapnya lekat. Sepertinya, dia menunggu serangan langsung dari Rizky. Rizky menancapkan pedang itu ke tanah. “Ignesco. Revocamen.” “Ignesco. Katára spathí: Kápste.” Tidak ada respons. Elang itu terus mengamati. “Ignesco. Aku titahkan api membara sampai hari pengadilan, Mávri Fotiá.” “Ignesco. Aku titahkan api membara sampai hari pengadilan, Mávri Fotiá.” “Ignesco. Aku titahkan api membara sampai hari pengadilan, Mávri Fotiá.” “Ignesco. Aku titahkan api membara sampai hari pengadilan, Mávri Fotiá.” Empat kali dia merapalkan mantra itu, ditujukan pada empat titik yang berbeda. Monster di depannya tidak juga menunjukkan agresi. Apa mungkin, jika dia bisa menghilang, dia bisa mencuri benda yang dijaga tanpa bertarung? Karena ini koridor lurus dan buntu di benda yang dijaga si monster, jika monster itu menghindar ke arah berlawanan, maka jelas dia ke arah Rizky datang. Dengan rentetan perangkap, seharusnya dia bisa mengenai elang itu. “Baiklah, mari kita mulai. Lindungilah tuanmu dalam selimut yang menyala, Pyrkagiá.” Api menyelimuti tubuh Rizky, memberikan perlindungan tambahan dari kemungkinan serangan balik dari sang elang. Jika semuanya sesuai harapan, maka elang itu akan masuk ke perangkap yang jelas menanti di depannya. “Berlarilah bersamaku, Mávros ánemos: Kápste.” Rizky pun mengambil posisi bersiap dan langsung bergerak cepat. “Bocah bodoh!” ejek sang elang tepat kala Rizky mulai bergerak. Rizky terkejut tapi tidak bergeming dan mulai menyerang. Tebasan pertamanya meleset, dihindari oleh sang elang yang terbang kecil membelakanginya, masuk ke rantai perangkap Rizky. Rizky yang melihat ke belakang dan menyaksikan peluang, segera mengaktifkan rantai jebakannya. “Kena. Ignesco. Ignesco.” Dua buah ledakan di sisi kiri dan kanan koridor mengejutkan sang elang dan dia semakin menjauh dari Rizky, membawanya ke posisi ledakan ketiga. “Apa yang-” “ Ignesco.” Ledakan ketiga terjadi, membuat sang elang kembali mundur menuju ke posisi ke empat yang agak berjarak dengan posisi ketiga. Rizky melemparkan pedangnya dengan niat membunuh yang tajam, dan berteriak. “Katára spathí.” Pedang itu diselimuti aura hitam yang haus akan darah. Api hitam lebih tepatnya. Elang itu bersiap untuk menghindari dengan mudah, tapi Rizky langsung mengaktifkan jebakan ke-empat. “ Ignesco.” Elang itu kembali dalam garis lurus pedang itu. Rizky tersenyum kala akhirnya elang itu mendarat di posisi jebakan terakhir. “ Ignesco.” Api hitam kali ini benar-benar menelannya. Ledakan dari Katára spathí: Kápste yang dia tanamkan paling awal sekarang menelan hidup-hidup elang itu, membuatnya kesulitan untuk bahkan bergerak. Pada akhirnya, pedang milik Rizky menancap di kepala elang itu, diikuti dengan teriakan terakhir elang itu sebelum dia musnah ditelan oleh seluruh api yang melukai tubuhnya dari rantai serangan Rizky. “Huh, tidak ada menantangnya ya. Aku kira dia akan curiga dan tidak membelakangiku saat serangan pertama,” komentar Rizky datar. Ya, alasan dia bahkan bersiap dengan perisai api hitam adalah jika elang itu tidak ke perangkap dan malah pergi menyerang. Syukurnya, elang itu justru masuk ke perangkap yang dia ciptakan. “Ternyata, mereka bodoh juga. Baiklah, waktunya mengembalikan pedang itu, Ignesco.” Pedang milik Rizky kembali ke tangannya. Itulah sihir paling pertama yang dia gunakan dalam rantai jebakan tadi. Revocamen, berarti recall alias memanggil kembali, dalam artian memanggil kembali senjata ke genggaman sang pemilik. “Selesai.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD