"Kamu menunggu siapa Rey? Acara sudah mau dimulai lho!" kata Ray menepuk pundak Rey yang celingukan di tepi jalan. Ia tersentak kaget.
Pandangan mata Ray mengikuti gerakan Rey yang melihat jam di pergelangan tangannya. Terlihat ia resah namun berusaha menyembunyikan. Layar ponselnya menyala. Rey membukanya tak sabar.
Masuklah dulu, aku lihat dari kejauhan saja.
Ray masih memperhatikan sikap Rey yang semakin mencurigakan. Dilirik balasan pesan yang baru saja Rey kirimkan.
Jadi kakak hanya ingin menjadi bayangan disaat bisa menjadi matahari?
"Telponlah, biar kakak yang bicara. Eza bukan?"
Pertanyaan Ray membuat Rey memasukkan kembali ponsel ke saku celana. Melihat hal itu, Ray berusaha mengambil dan melakukan panggilan begitu mendapatkan ponsel Rey.
"Kalau kamu tidak cepat datang, aku akan menghajarmu lagi!" kata Ray begitu sambungan terhubung.
Panggilan berakhir dan Rey menatap tak percaya dengan yang dilakukan oleh Ray.
"Pria di kedai itu, Eza bukan? Kenapa kamu harus merahasiakannya? Kamu pikir kakak akan marah?" tanya Ray sembari mengembalikan ponsel adiknya.
"Aku cuma belum sempat cerita aja." kilah Rey seraya mengalihkan pandangan, tak berani menatap wajah Ray.
Tak beberapa lama, sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka berdiri. Seorang lelaki memakai jas turun, perlahan mendekat. Wajahnya yang tampan dengan sisiran ke belakang, matanya sipit dengan hidung mancung.
"Karena nungguin kamu, acara bisa molor dari jadwal. Cepat masuk!" perintah Ray sedikit menaikkan intonasi.
Eza mendekat ragu. Kini mereka saling berhadapan dan bertatapan.
"Kamu tidak keberatan?"
Ray menghela nafas sebelum bicara.
"Aku akan marah kalau kamu sengaja menundanya. Demi kebahagian Rey, aku rela mengesampingkan egoku." kata Ray lagi.
Rey tersenyum, tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa kedua kakaknya akan ada di sisinya.
"Terima kasih kak!" kata Rey.
Mereka pun masuk ke dalam halaman yang sudah disulap menjadi tempat acara. Bertema outdoor berhiaskan lampion acara berlangsung meriah. Bertempat di tempat Ray, acara pertunangan dilangsungkan.
Rey begitu gagah dengan jas berwarna silver senada dengan Fiona yang juga memakai dress brukat silver. Sebuah cincin menyerupai tiara terpasang di jari manis Fiona juga Rey. Semua bertepuk tangan menyerukan kegembiraan.
Setelahnya mereka mulai dengan makan malam dan berakhir dengan bincang- bincang hingga akhirnya menyisakan beberapa orang saja.
Di dalam kamar, Rey dan Fiona tengah duduk berpangkuan. Rey sudah meletakkan jas dan melonggarkan dasinya.
"Sayang, kita sudah tunangan. Apa kamu tidak mau minta ciuman?" Fiona mulai menggoda, dicopot sanggulnya hingga terurai panjang. Wajah cantiknya tak bisa dipungkiri, meski ia hanya memakai make up flawless.
Dirapatkan tubuhnya mendekat ke arah Rey.
Rey terkekeh mendengar pertanyaannya.
"Kamu tahu jawabannya bukan?"
"Kenapa? Kamu ini jual mahal. Kita sudah tunangan, sebentar juga menikah. Nyicil bolehlah." Fiona merangkulkan lengan ke leher Rey dan mulai mendekatkan wajah ke depan muka Rey.
Rey beringsut turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela.
"Tunggullah tahun depan. Aku suka menikmati di saat yang tepat. Di hari pernikahan."
Fiona merengut. Ia tak biasa mendapat penolakan. Ia selalu mendapatkan keinginannya, apalagi ia adalah anak perempuan sendiri dalam keluarga.
Kehidupan di kota dan longgarnya pengawasan orang tua juga kakaknya membuat terbiasa dengan s*x bebas, namun selama bersama Rey ia harus menelan kecewa. Berulang kali Rey menolak.
"Sedikit saja, aku yakin kamu pasti ketagihan." Fiona mendekat dan berusaha membuka kemeja yang dikenakan Rey. Tangan Rey menghentikan gerakan Fiona, membuatnya semakin manyun. Kesal.
"Kamu yakin kalau kamu mencintaiku? Kenapa kamu seperti tak bernafsu denganku? Bukankah cinta itu juga diikuti dengan nafsu, tapi aku tidak melihatnya darimu. Jangan- jangan kamu homoseksual terus menyembunyikan identitas."
Rey tertawa kecil mendengar kecurigaan Fiona. Ini bukan kali pertama ia mengungkapkannya. Ditarik kepala Fiona ke dada dan memeluknya.
"Asal kamu tahu, aku memang tidak terlalu paham agama tapi aku bukan pemuja selangkangan. Sabarlah, aku hanya ingin menjagamu sebagai wanita."
Fiona tersenyum dan merapatkan pelukan. Ia menyukai momen yang begitu dekat dengan Rey. Merasa terlindungi.
"Itu yang kusuka darimu. Kuno tapi entah mengapa aku begitu nyaman."
Rey tersenyum dan membelai rambutnya.
Sementara itu di lantai bawah, Eza menikmati kopi yang disajikan Ray di mini bar. Hanya mereka berdua. Anita dan Nia sudah terlelap, lelah karena mengurus acara.
"Terima kasih sudah mengizinkanku hadir dalam acara ini." kata Eza tulus.
Ray tersenyum mendekat dan menepuk pundak.
"Sudahlah. Rey yang memintamu hadir bukan. Aku bisa apa. Toh yang terjadi di antara kita sudah menjadi masa lalu. Aku yakin kamu sudah cukup menyesalinya."
Eza menyeruput kopinya dan mengalihkan pandangan keluar. Kursi juga meja dengan beberapa hidangan di atas baru saja dibereskan. Namun lampion masih dibiarkan tergantung.
"Pada akhirnya, Rey lebih memilih bersamamu." kata Eza menghela nafas, ada kekecewaan dari ucapannya. Ray melirik Eza.
"Kamu diminta datang berarti ia juga sudah memilihmu. Bagaimanapun kita sudah menjadi keluarga bagi Rey. Jangan pernah menyia- yiakan lagi kesempatan ini." kata Ray.
"Ya, tidak akan pernah kusiakan lagi. Demi Rey, apapun akan kulakukan karena dialah keluargaku satu- satunya."
Ray tersenyum mendengar pernyataan Eza. Ia pun menepuk pundaknya.
"Aku senang, kamu menyadarinya. Mari kita habiskan malam ini sebagai seorang kakak."